Simalungun, hetanews.com - Tirawan (48) dan Sariani boru Purba (47), orangtua kandung dari Endi Fernando (17) yang tenggelam di Sungai Sampuran Tarak Nionggang, pada Minggu sore (4/10/2020), pukul 16:00 WIB, tampaknya telah mengikhlaskan kepergian anaknya untuk selamanya, Jumat (9/10/2020).

Kepada wartawan, Sriani menuturkan kisah anak ketiganya itu, semasa hidupnya.

Endi Fernando, di usia 11 tahun, ternyata mengalami penyakit kanker di bagian gusi sebelah kanannya.

Bahkan pembengkakan daging hingga seberat 5 kg didalam mulutnya. Alhamdulilah atas berkat bantuan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Simalungun, penyakit kanker didalam mulut anaknya itu berhasil diangkat bersama tulang rahang bagian bawah sebelah kanannya.

Bahkan tak tangung tanggung  proses operasinya yang dilakukan hingga penyembuhannya berjalan lancar.

Dan semua biayanya ditanggung oleh Pemkab Simalungun.

Dengan kondisi tulang rahang yang sudah bukan tulang rahang aslinya yakni menggunakan tulang rahang buatan, hingga Endi Fernando, tumbuh, beranjak menjadi usia remaja. Dengan kondisi perekonomian kedua orangtuannya hanya sebagai petani, Endi Fernando, hanya dapat mengenyam pendidikan hingga Sekolah Dasar saja.

Baca juga: Pencarian Korban Tenggelam di Sungai Sampuran Tarak Nionggang Dihentikan

Baca juga: Dua Minggu Sebelum Tenggelam, Korban Endi Fernando Sempat Minta Dibelikan Baju Baru untuk Sholat Jumat

Dan kesehariannya, Endi Fernado mau membantu pekerjaan kedua orangtuannya. Selain itu, ia mau ikut berladang atau menggantikan ayahnya, menjual jasa sebagai tukang tambal ban, di depan rumah mereka.

Bahkan sebelum korban tenggelam, Endi masih disuruh ibunya menjaga ladang  yang ditanami kacang tanah dari gangguan hama monyet. Sariani pun puas tak harus memerintah berkali – kali, karena Endi Fernando langsung pergi ke ladang.

Walau dirinya tak menyadari saat ajal mengintanya. Dan usai menjaga ladang atau sebelum pulang ke rumahnya, Endi Fernando bertemu dengan kelima temannya yang biasa mandi di Sungai Sampuran Tarak Nionggang. Keenam pemuda tanggung ini pun berenang di sungai itu.

Tiba-tiba dua temannya terlihat gelagapan dan terlihat ilang timbul di telan pusan air terjun. Sontak Endi Fernando bersama - teman lainnya, berusaha menolong. Alih- alih jiwa bela kawan serupa dalam syair “Anak Medan” itu rupanya menggiring Endi Fernando, ke lubang maut saat ke dua temannya berhasil diselamatkan. 

Naas, Endi Fernando tak dapat meraih keberuntungan, malah malang menghantar tak dapat ditolak.

Endi Fernando akhirnya tak mampuh menahan tarikan pusaran air, hingha dirinya pun tersedot. Dia tenggelam, lalu hilang lenyap dan tak tertolong lagi.

Sementara kelima temannya yang menyaksikan hal itu, hanya bisa berlari, meminta bantuan warga setempat.

Dan hingga hari ini, mayat korban belum juga ditemukan.