Hetanews.com - Penyakit flu sering datang ketika musim hujan menghampiri. Penyakit yang sangat umum ini memang sangat menyebalkan karena dapat membuat hidung tersumbat hingga demam. Namun, penelitian terbaru menemukan hubungan antara penyakit flu dengan virus corona penyebab COVID-19.

Peneliti dari University of Rochester Medical Center (URMC) mengungkapkan bahwa orang yang pernah terserang flu bisa memiliki perlindungan yang lebih baik terhadap virus SARS-CoV-2. Selain itu, penelitian juga menyatakan bahwa imunitas terhadap COVID-19 dapat bertahan lama.

Riset ini telah dipublikasi pada jurnal mBio per tanggal 25 September lalu. Peneliti menyimpulkan hal tersebut setelah melihat sel yang bernama Memori B (memory B cells).

Sel Memori B ini bertugas untuk mendeteksi patogen, menciptakan antibodi untuk menghancurkan patogen, dan mengingatnya hingga waktu yang lama. Patogen virus SARS-CoV-2 diketahui dapat dikalahkan oleh mekanisme ini.

Benarkah Orang yang Pernah Sakit Flu Lebih Kebal Terhadap Corona? (1)
Ilustrasi penderita Corona

Menurut para ahli, Sel Memori B dapat bertahan di tubuh hingga berpuluh-puluh tahun. Secara teori, pasien yang telah sembuh dari COVID-19 bisa lebih baik bertahan dari infeksi berikutnya meski hal ini masih menunggu hasil penelitian lanjutan.

Pada penelitian ini, ilmuwan menemukan bahwa Sel Memori B pada tubuh yang dahulu pernah terinfeksi virus corona penyebab flu juga dapat mengidentifikasi virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19.

Artinya, seseorang yang pernah terserang flu akibat virus corona jenis lain dapat memiliki imunitas yang lebih baik ketika tubuh diserang virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19.

“Ketika kita melihat sampel darah dari orang yang sembuh dari COVID-19, terlihat bahwa banyak dari mereka telah memiiki kelompok Sel Memori B pada tubuhnya yang dapat mendeteksi virus SARS-CoV-2,” ujar peneliti utama yang merupakan seorang profesor dari URMC, Mark Sangster.

“Memori Sel B (yang telah ada sebelum pasien menderita COVID-19) ini dapat secara cepat menghasilkan antibodi yang dapat menyerang SARS-CoV-2,” lanjut Sangster.

Benarkah Orang yang Pernah Sakit Flu Lebih Kebal Terhadap Corona? (2)
Petugas mengambil sampel swab dari seorang pria di pusat pengujian komunitas untuk penyakit COVID-19 di Hong Kong.

Sangster memperoleh hasil ini setelah meneliti sampel darah dari 26 orang yang sembuh dari gejala ringan dan menengah COVID-19. Sangster membandingkan sampel tersebut dengan 21 orang donor sehat yang telah disimpan sejak 10 tahun lalu.

Donor sehat tersebut tidak mungkin pernah terserang virus SARS-CoV-2. Sangster dan timnya kemudian membandingkan jumlah Sel Memori B dan antibodi yang memberikan perlawanan terhadap “mahkota protein” virus corona pada kedua jenis sampel tersebut.

Mahkota protein adalah bagian dari virus corona yang digunakan untuk menyangkutkan dirinya di sel tubuh manusia. Setiap jenis virus corona, termasuk SARS-CoV-2, memiliki mahkota yang unik.

Namun ternyata, ada sub-unit pada mahkota bernama S2 yang cukup sama pada setiap jenis virus corona. Sel Memori B ternyata tidak mampu membedakan S2 pada jenis virus corona yang berbeda, dan menganggapnya sebagai satu jenis virus yang sama.

Artinya, setiap ada virus corona jenis apapun yang menyerang tubuh, Memori Sel B akan langsung menyerang. Jika bukan semua, setidaknya virus corona jenis beta-coronaviruses, yang terdiri dari dua virus penyebab flu, MERS, SARS, dan SARS-CoV-2, sudah berhasil dibuktikan.

Benarkah Orang yang Pernah Sakit Flu Lebih Kebal Terhadap Corona? (3)
Ilustrasi corona.

Meski cukup menggemberikan, penelitian ini belum membahas tentang seberapa baik perlindungan yang diberikan oleh Memori Sel B ini terhadap COVID-19.

“Itu adalah tahap selanjutnya,” ungkap profesor Mikrobiologi dan Imunologi dari URMC, David Topham. “Sekarang kita perlu melihat jika kepemilikan atas Sel Memori B ini berkorelasi dengan gejala yang lebih ringan dan (waktu mengidap) penyakit yang lebih pendek.”

“Atau jika (Memori Sel B) dapat membantu meningkatkan efektivitas vaksin COVID-19,” lanjut Topham.

Penelitian ini juga telah memperoleh peer­-review atau pengamatan dari rekan sesama ilmuwan. Peneliti dari Washington University School of Medicine dan St. Jude Children’s Research Hospital tercatat sebagai dua ilmuwan yang melakukan peer-review terhadap penelitian ini.

Sumber: Kumparan.com