HETANEWS.COM

Polemik Pemandian Jenazah, Wali Kota Siantar Copot dr Ronald Saragih dan 3 Wadir RSUD Djasamen Saragih

Kapolres, Walikota Siantar dan jajaran menerima massa yang berunjuk rasa. (foto/ndo)

Siantar, hetanews.com - Polemik kesalahan Fardhu Kifayah pemandian jenazah wanita oleh empat orang pria di RSUD Djasamen Saragih, membuat Wali Kota Siantar, Hefriansyah, melakukan tindakan tegas.

Di depan ribuan massa dari Koalisi Aksi Bela Islam, Hefriansyah dan Kapolres Siantar, AKBP Boy Sutan Binanga Siregar, hujan – hujanan, di Lapangan H Adam Malik Siantar, Senin (5/10/2020), sekitar pukul 10.30 WIB.

Dengan tegas, Hefriansyah mencopot jajaran direksi RSUD Djasamen Saragih, yaitu, Direktur Utama, dr Ronald Saragih dan ketiga Wakil Direkturnya.

"Saya panggil Kepala BKD, tuntutan pertama terhadap tindakan direktur rumah sakit dan direksi akan kita berhentikan. Kebetulan beliau juga Plt, sehingga saya mudah melakukan tindakan," ujar Hefriansyah yang disambut teriakan takbir dari massa aksi.

Untuk oknum - oknum yang melakukan tindakan tersebut, Hefriansyah juga akan mengambil sikap. Selain itu, dr Ronald Saragih yang juga dicopot sementara dari jabatannya sebagai Kepala Dinas Kesehatan Kota Siantar. Hefriansyah juga turut meminta maaf.

"Hari ini, saya juga memberhentikan sementara untuk dilakukan pemeriksaan berdasarkan peraturan dan regulasi aturan. Itu kapasitas saya. Saya rasa, tuntutan itu sudah diakomodir, walaupun itu sudah menjadi catatan dan pertimbangan saya sebelum saudara - saudara melakukan aksi," tuturnya.

Baca juga: Praktek Salah Fardhu Kifayah Berpolemik Panjang, Massa HMI Desak Copot Ronald Saragih

Baca juga: Heboh 4 Pria Mandikan Jenazah Wanita Bukan Muhrim, RSUD Djasamen Saragih Minta Maaf

Sementara itu, Kapolres Siantar menyebutkan, kasus tersebut telah masuk dalam masa penyidikan dan juga telah dilakukan gelar perkara, di Polda Sumatera Utara. Kasus ini, katanya, menjadi atensi dari Polda Sumut dan Mabes Polri. Saksi, pelapor dan juga empat terduga pelaku penyalahan Fardhu Kifayah, telah diperiksa oleh penyidik, ujarnya.

"Kami panggil satu persatu, bahkan 4 orang terduga pemandi jenazah. Ini sudah menjadi atensi dari bapak pimpinan lebih tinggi dan bahkan sudah ke nasional. Kami pun dipanggil utk melakukan gelar perkara di Polda Sumut. Tidak boleh dimain - mainkan. Setelah dari gelar perkara, instruksi jelas ini kita tindak lanjuti dan naik menjadi tingkat penyidikan," tutur AKBP Boy.

Menurutnya, penanganan tersebut telah berjalan cepat mulai dari laporan polisi, pemeriksaan saksi dan gelar perkara. Ia berharap, semua massa aksi untuk bersabar dan dikawal bersama. Penyidik profesional juga telah disiapkan.

"Untuk kenyamanan bapak Fauzi Munthe (pelapor), bahwa semua warga negara di Indonesia wajib hukumnya dilindungi Polri. Siapapun yang mengancam, mengintimidasi kita akan memberikan tindakan hukum. Kalau ada, laporkan dan kita akan tindak lanjuti," kata Kapolres.

Sebelumnya, Ustad Sya'ban Siregar, sebagai Ketua Koalisi Aksi Bela Islam, membacakan tuntutan mereka di depan Wali Kota dan jajaran serta Kapolres Siantar. Ada enam tuntutan mereka yaitu:

1. Mengutuk keras tindakan yang menyakiti seluruh perasaan umat Islam.

2. Kepada Walikota segera memberhentikan pimpinan RSUD Djasamen Saragih.

3. Kepada Walikota segera memberhentikan pelaku 4 orang pegawai RS yang berbuat zolim.

4. Meminta pihak RS untuk minta maaf kepada seluruh umat Islam melalui media cetak dan online.

5. Kapolres untuk dapat bertindak tegas dan aktif dalam proses hukum.

6. Memberikan jaminan keamanan bagi keluarga korban merasa tidak nyaman.

Penulis: ndo. Editor: gun.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!