Siantar, hetanews.com - Kelompok Cipayung Plus Pematangsiantar-Simalungun yang terdiri dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), dan Ikatan Mahasiswa Muhammadyah (IMM), sepakat merawat nilai-nilai toleransi di Kota Pematangsiantar.

Menyikapi kasus yang terjadi di RSUD Djasamen Saragih Pematangsiantar atas meninggalnya, Almh  Ibu Zakiyah, pada tanggal 20 September 2020, Cipayung Plus menghimbau masyarakat agar tidak terprovokasi terhadap isu suku, agama, ras dan antar golongan (SARA).

Hal ini disampaikan pada saat pertemuan, di Sekretariat HMI Siantar, jalan Ragi Panei No.8, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun.

Cipayung Plus akan tetap mengawal dan meminta Aparat Penegak Hukum (PAH) harus mempercepat proses hukum terhadap kasus ini, agar tidak terjadi ketimpangan terhadap penegakan supremasi hukum, kata Jhoni Tarigan, selaku Ketua HMI Cabang Siantar – Simalungun.

 "Kita menyesalkan hal ini terjadi di kota Pematangsiantar, dan sebagai bentuk tanggung jawab moral, kami telah melakukan aksi damai, beberapa hari yang lalu.  Aksi tersebut bertujuan kepada penegakan supremasi hukum yang berkeadilan dan meminta pertanggung jawaban Pemko Pematangsiantar. Kami juga menegaskan, jangan ada pihak yang mempolitisir aksi tersebut yang menimbulkan permasalahan di antar ummat beragama. Karena menjadi tanggung jawab bersama untuk kita menjaga kedamaian antar ummat beragama di kota yang kita cintai ini. Kami tetap mengikuti proses hukum yang sedang berjalan. Info yang kami terima dari pihak Polres Siantar, kasus ini telah mendapat perhatian dari Polda Sumut. Maka kepada masyarakat, kami harap bersabar dan menunggu apa hasil dari penyelidikan dari pihak Kepolisian. Kita juga berharap kepolisian dapat menyelesaikan kasus ini secepatnya agar tidak ada stigma yang buruk lahir di tengah masyarakat," ujarnya.

Hal senada juga di sampaikan Ketua BPC GMKI Siantar - Simalungun, May Luther Dewanto Sinaga yang juga menyampaikan, bahwa isu SARA adalah isu yang sangat sensitif dan dapat menimbulkan berbagai konflik di kalangan masyarakat.

"Kita sepakat bila oknum yang melakukan pelanggaran segera dilakukan proses hukum, sebagai bentuk efek jerah dan penegakan hukum yang adil ditengah-tengah masyarakat. Akan tetapi, kita menghimbau agar masyarakat lebih jelih serta bijak dalam melihat persoalan ini. Karena proses hukum sudah berjalan, jadi mari kita hormati proses hukum serta mengawal prosesnya demi terwujudnya hukum yang berkeadilan", kata Luther.

"Kita lebih mengutamakan ketentraman masyarakat dengan merawat kemajemukan demi terwujudnya toleransi di tengah masyarakat, karena selama ini kota Siantar dikenal sebagai salah satu kota yang toleran. Dan bila ada oknum melakukan pelanggaran hukum, maka fokus kepada oknum tersebut dan jangan mau digiring pada isu yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan masyarakat,"tambah Luther lagi.

Liharman Sipayung, selaku Ketua Presidium PMKRI Cabang Pematangsiantar juga menyampaikan agar pemerintah melakukan evaluasi terkait SOP kerja di RSUD djasmen saragih.

"Demi menjaga ketentraman di kota Pematangsiantar, kita tidak ingin permasalahan yang sama terjadi lagi, maka dari itu, kita berharap agar Pemerintah Kota melakukan Evaluasi terkait kinerja Rsud Djasmen Saragih, terutama terkait tentang SOP yang berlaku agar disesuaikan dengan yang seharusnya. Kita tidak ingin masalah ini semakin bias, maka dari itu kita berharap pemerintah harus serius dan tanggap dalam permasalahan ini,"ungkap Liharman.

Baca juga: Heboh 4 Pria Mandikan Jenazah Wanita Bukan Muhrim, RSUD Djasamen Saragih Minta Maaf

Samuel Tampubolon , Ketua GMNI Pematangsiantar , mengatakan, semangat toleransi itu sangat penting untuk terus dirawat, serta mengamalkan esensi toleransi itu sendiri. Pematangsiantar harus menjadi contoh bagi kota-kota lain di Indonesia. Di tengah maraknya ancaman politik identitas yang memecah-belah, kita berharap pemerintah harus mampu memainkan peran  sebagai solidarity maker agar persoalan ini segera terselesaikan dengan baik, harapnya.

Fauzan Hasibuan, Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Pematangsiantar juga menyampaikan agar kasus ini cepat diselesaikan oleh pihak berwajib.

"Kami juga berharap terhadap pihak yang berwenang yang dalam hal ini kepolisian, agar cepat memproses kasus ini. Karena kita takut dengan lambatnya kasus ini diselesaikan, semakin banyak masyarakat yang terprovokasi akan hal diluar fokus kasus ini seperti isu SARA tadi, dan hal lainnya. Cepat lakukan tindakan terhadap oknum terkait dalam kasus ini, dan kami juga meminta jangan hanya dari pihak RSUD saja yang memberikan tanggapan untuk hal ini, tapi Pemko Pematangsiantar juga harus turun tangan. Walikota Pematangsiantar harus mengambil sikap tegas, memberikan sanksi  dan juga harus mengevaluasi kinerja dari tenaga kesehatan yang ada di Pematangsiantar, “kata Fauzan.