Siantar, hetanews.com - Polemik praktek fardhu kifayah yang diduga melanggar syariat Islam, mendorong Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Siantar melakukan aksi demonstrasi, Selasa (29/9/2020) siang. Aksi dilakukan di tiga tempat berbeda.

Aksi pertama kali ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Djasamen Saragih Siantar. Massa flash back dan kesal atas kejadian yang terjadi, pada Minggu (20/9/2020) lalu. Empat orang lelaki, memandikan jenazah seorang wanita yang bukan muhrimnya.

Hal ini, membuat suami dari wanita tersebut, sampai menempuh ke jalur hukum. Majelis Ulama Indonesia (MUI)  Siantar juga telah memintai keterangan dari pihak rumah sakit dan keluarga.

Di lokasi pertama, mereka diterima oleh dr Harlen Saragih dan Ronny Sinaga, yang keduanya menjabat sebagai Wakil Direktur RSUD Djasamen Saragih. Massa meminta agar dr Ronald Saragih dicopot dari jabatannya, sebagai pelaksana tugas direktur utama rumah sakit plat merah tersebut.

"Copot dan proses hukum dokter Ronald karena bertentangan dengan Azas Tenaga Kesehatan dan telah melakukan kesalahan dalam mekanisme Fardhu Kifayah Syariat Islam. Kami siap mengawal proses hukum dalam kasus ini," ujar Fajar, koordinator aksi.

Foto long march massa HMI Kota Siantar. (foto/ndo)

Kepada wartawan, dr Harlen Saragih mengatakan, bahwa aksi demonstrasi dari HMI adalah sebuah kewajaran, di era demokrasi atau hak setiap orang dalam menyampaikan aspirasinya. Mereka dari pihak rumah sakit, siap memenuhi panggilan pihak Kepolisian karena kasus tersebut telah masuk dalam ranah hukum.

"Ini kan sudah masuk ranah hukum, mereka sudah buat pengaduan ke Polres. Tentu kita harus sikapi itu. Yang berhak meminta dokumen itu kan penyidik. Ini kan instansi pemerintah, setiap dokumen yang keluar dari sini, kan harus ijin pimpinan. Kami hanya sebatas Wadir. Kalau pimpinan perintahkan, kami keluarkan. Sudah siap (dipanggil polisi) sebagai warga negara yang baik," katanya.

Di Polres Siantar, massa diterima oleh Kasat Reskrim, AKP Edi Sukamto. Ia mengatakan, bahwa proses penyelidikan dan penyidikan dilakukan secara transparan. Tidak ada yang ditutup - tutupi. Ia telah memerintahkan semua penyidik yang terlibat adalah yang beragama muslim.

Baca juga: Heboh 4 Pria Mandikan Jenazah Wanita Bukan Muhrim, RSUD Djasamen Saragih Minta Maaf

"Ini agar tidak terjadi ketersinggungan. Tadi pagi, saya ketemu pengacara pelapor dan saya sudah jelaskan, nanti akan kami berikan SP2P. Prosesnya sudah kita panggil satu per satu. Kita bekerja sesuai SOP," kata AKP Edi.

Sebelumnya, massa melakukan long march, di sepanjang Jalan Sutomo - Merdeka dengan membawa spanduk dan poster - poster yang berisi tuntutan.