HETANEWS.COM

Dalam Hitungan Jam, Tahanan Satreskrim Polres Sergai Meninggal Dunia, Diduga Dipukuli Sesama Tahanan

Foto almarhum Tupak Simanjuntak saat di rumah duka. (foto/wh)

Sergai, hetanews.com - Miris melihat kondisi Tupak Simanjuntak (43), warga Dusun V Desa Gempolan, Kecamatan Sei Bamban, Kabupaten Sergai yang dituding mencabuli anak kandungnya hingga hamil 6 bulan, ketika diserahkan Bhabinkamtibmas, Babinsa dan Kepala Desa Gempolan ke Polres Sergai, pada hari Jum'at (25/9/2020) sore lalu.

Tiba – tiba, Tupak dikabarkan sudah meninggal dunia, pada hari Sabtu (26/9/2020) pagi tadi, sekitar pukul 01.40 WIB.

Kondisi ini tentu saja membuat masyarakat Desa Gempolan gempar. Karena sorenya, almarhum masih sehat dan bugar, tapi menjelang pagi dikabarkan sudah tewas.

Menurut informasi di lapangan dari beberapa warga yang tidak mau disebut namanya, menuturkan, pada saat Bhabinkamtibmas, Babinsa dan Kepala Desa Gempolan mengantar almarhum ke Polres Sergai untuk diamankan, mengantisipasi dari amukan massa, almarhum tampak sehat bugar dan setelah itu, mereka dapat informasi, bahwasanya almarhum dimasukkan kedalam Rumah Tahanan Polres (RTP).

Sesudah itu, menjelang pagi, keluarga almarhum dan warga mendapat berita sudah meninggal dunia dan hal itu membuat masyarakat Desa Gempolan gempar.

Kasat Reskrim Polres Serdang Bedagai, AKP Pandu saat dihubungi kawan media, membenarkan kejadian tersebut.

Foto almarhum pada saat menjalani pemeriksaan di Unit PPA Polres Sergai. (foto/wh)

Dimana, pukul 01.00 WIB, personil yang menjaga ruang tahanan, mendapat informasi adanya kegaduhan didalam ruang tahanan yang over load tersebut.

Ternyata, tersangka Tupak Simanjuntak, sudah babak belur dan kondisinya kritis.

Diduga, dia dipukuli sesama tahanan, dan saat itu juga  dilarikan petugas piket ke RSUD Sultan Sulaiman di Firdaus.

Tetapi pada hari Sabtu (26/9/2020) pagi, sekitar pukul 02.40 WIB, nyawa korban tidak tertolong, jelas Kasat Reakrim AKP Pandu.

Lanjutnya, dari hasil pemeriksaan CCTV, di ruang tahanan, ada 7 orang tahanan yang sudah diambil keterangannya, dan umumnya mereka mengaku geram, marah dan emosi karena melihat kelakuan tersangka yang sampai hati mencabuli anak kandungnya yang masih berusia 14 tahun, hingga hamil 6 bulan.

Kanit Res Polsek Firdaus, Ipda Maruli Sihombing yang juga dikonfirmasi, melalui selulernya, membenarkan hal ini.

"Sebelumnya ada laporan warga di desa tersebut yang geram dan marah atas kelakuan tersangka. Untuk itu, saya meminta Bhabinkamtibmas, Babinsa dan Kades untuk mengamankan tersangka ke Polsek Firdaus, dan selanjutnya kami antarkan ke Polres Sergai karena urusan PPA ada di Polres. Istri tersangka  tidak mau membuat pengaduan, karena kalau suaminya ditangkap, maka tidak ada yang menafkahi mereka. Guna mengibuli warga, istri tersangka mengaku kalau anaknya diungsikan ke Bagan Batu (Riau). Tetapi setelah mengetahui suaminya meninggal, baru mengaku kalau anaknya ada di Desa Juhar ,"pungkasnya.

Penulis: willi. Editor: gun.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan