HETANEWS.COM

Mahasiswa Gihon Demo Kampus Sendiri, Minta Ijazah Asli Dikembalikan

Aliansi Mahasiswa Gihon Menggugat menunjukkan bukti serah terima ijazah. (foto/ndo)

Siantar, hetanews.com - Aliansi Mahasiswa Gihon Menggugat, menggelar aksi, di Kampus Politeknik Gihon, Jalan Bahagia, Kelurahan Kristen, Kecamatan Siantar Selatan, Jumat (25/9/2020) pagi tadi.

Andre Napitupulu, koordinator aksi mengatakan, bahwa awalnya datang ke kampus untuk memenuhi undangan dari petinggi kampus, untuk rapat bersama orang tua mereka dan sekalian untuk pengembalian ijazah.

Ijazah mereka, mulai SD sampai SMA/SMK, ditahan oleh pihak Kampus saat pendaftaran awal.

Karena mengetahui kampus tersebut tidak terakreditasi, mereka berencana untuk keluar dari Politeknik Gihon dan mencari tempat kuliah lainnya. Selama ini, mereka kuliah disitu, tanpa ada bayar uang kuliah alias gratis.

"Bahwasanya, ada ketidak benaran dan iming – iming, kenapa ijazah SD, SMP, SMA/SMK ditahan. Itu sulit dijawab oleh petinggi kampus. Dan kami menunggu niat baik petinggi kampus agar ijazah kami dikembalikan. Kenapa kami ambil, bahwasanya kampus tersebut tidak terakreditasi dan sudah dikatakan direktur. Makanya daripada kami sekolah disini, kami mengambil hak kami, yaitu ijazah kami, agar tahu kami melangkah selanjutnya sebagai mahasiswa," tuturnya.

Ketika ditanya, apakah diharuskan membayar ketika mengambil ijazah? Ia mendapat info, bahwa setiap mahasiswa yang ingin keluar dari Politeknik Gihon, harus mencari satu, sampai dua orang penggantinya dalam per tahun.

Bila yang sudah kuliah 3 tahun, berarti harus mencari mahasiswa pengganti sebanyak tiga sampai enam orang. Bila tidak bisa mendapat mahasiswa pengganti, maka harus dikenai denda, dengan membayar pengganti biaya kuliah selama mereka berkuliah, dengan estimasi sekitar lima juta per tahunnya.

"Waktu kami memberikan ijazah asli, tanpa orang tua dan ada surat perjanjian serah terima ijazah. Angkatan kedua tidak ada uang mengambil ijazah. Angkatan ketiga dan keempat, dibuatlah surat baru, bahwasanya brangkas mengambil ijazah harus ada 300 ribu rupiah. Setelah itu kami terima, walaupun suratnya cacat, karena nomor 001 dengan 2 nama berbeda.

Artinya, pihak Kampus mengatakan, kalau kamu ingin keluar mengambil ijazah, kamu harus sesuai dengan SK bulan September 2019, itu tidak berlaku surut, itu berlaku ke depan. Di SK tersebut, pasal 17 poin 2, setiap mahasiswa mengundurkan diri, harus membayar administrasi kerugian yaitu membayar kuliah kampus sejak awal masuk. Kami ini ada semester akhir, 5 dan 3. Kami menunggu niat baik dari petinggi kampus, agar tidak semena - mena kepada kami dan memberikan ijazah kami tanpa ada membayar," tutup Andre.

Penulis: ndo. Editor: gun.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan