HETANEWS.COM

Memanas, Perang Asia Kecil Antara Turki Dan Yunani Berlanjut

Foto : Pemimpin kedua negara, Turki dan Yunani.

Siantar, Hetanews.com - Turki dan Yunani telah sepakat untuk melakukan pembicaraan mengenai perairan yang disengketakan di Mediterania timur, setelah upaya yang dipimpin Jerman untuk meredakan krisis yang telah menimbulkan kekhawatiran akan konflik, seperti dikutip hetanews dari sumber berita Ankara.

Kebuntuan atas persaingan eksplorasi gas di perairan yang diperebutkan, telah menaikkan tensi perang retorika diantara kedua negara.

Gejolak terbaru dimulai pada Agustus ketika Turki mengirim kapal penelitian disertai dengan kapal perang ke perairan yang disengketakan di dekat pulau Yunani, dan memperpanjang misi sampai tiga kali meskipun ada panggilan berulang dari Uni Eropa dan Yunani untuk berhenti.

Namun kedua belah pihak mengatakan bahwa mereka "siap untuk memulai pembicaraan eksplorasi" melalui konferensi video tiga arah antara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Kanselir Jerman Angela Merkel dan kepala Dewan Eropa Charles Michel, demikian ungkap sumber kepresidenan Turki kepada Ankara.

Kementerian luar negeri Yunani juga mengkonfirmasi pembicaraan tersebut, dengan mengatakan bahwa pembicaraan itu akan segera diadakan di Istanbul, tanpa memberikan tanggal pasti.

Yunani dan Turki telah mengadakan pembicaraan tentang sengketa landas kontinen sebelumnya, yang terakhir terjadi pada tahun 2016.

Ankara mengklaim  bahwa mereka memiliki garis pantai terbesar dari semua negara Mediterania timur, tetapi terkendala dengan bagian laut yang tidak proporsional karena pulau-pulau Yunani yang berjauhan, beberapa di antaranya dapat dilihat dari pantai Turki.

Athena mengatakan klaim tersebut didasarkan pada hukum internasional dan perjanjian masa lalu yang ditandatangani oleh Ankara.

Turki juga telah memperpanjang misi kapal penelitian lain di perairan sengketa Siprus hingga 18 Oktober. Sebuah kapal bor juga akan tetap berada di lepas pantai Siprus hingga 12 Oktober.

Yunani dan Prancis sama-sama menuntut sanksi keras terhadap Ankara, yang dapat disepakati pada KTT Uni Eropa pada 1 dan 2 Oktober nanti.

Erdogan dan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, telah berdebat selama berminggu-minggu terkait masalah ini. Turki menuduh pemimpin Prancis itu arogan dan putus asa setelah dia menyerukan sikap keras Uni Eropa.

Prancis juga membuat marah Turki dengan mengirim jet dan kapal tempur ke wilayah tersebut untuk mendukung Yunani.

Dalam pidatonya kepada Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui konferensi video sebelumnya, pemimpin Turki itu menyerukan "dialog yang tulus" sebagai solusi untuk menyelesaikan perselisihan dan menolak "pemaksaan, pelecehan, atau serangan apa pun ke arah yang berlawanan".

SUMBER: Ankara, Ipotnews

Editor: edo.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan