HETANEWS.COM

Transpuan di Pematang Siantar: Kami Bahagia Tinggal di Sini

Siantar, Hetanews.com - Putri (bukan nama sebenarnya) sudah tinggal di Pematangsiantar sejak ia lahir hingga kini usianya 29 tahun. Putri adalah seorang transpuan, kesehariannya bekerja di sebuah salon kecantikan.

Baginya, hidup 29 tahun lamanya di kota ini dengan identitasnya sebagai seorang transgender tidak lantas menjadikannya mendapat perlakuan yang berbeda dari masyarakat.

“Saya nyaman tinggal di sini. Warganya toleran terhadap siapapun. Mereka tak terlalu ambil pusing dengan status transpuan saya,” ujarnya saat berbincang dengan Hetanews.com di salon tempatnya bekerja. 

Ia tetap dapat bekerja, berbelanja, bercengkrama dengan tetangga, dan berwisata tanpa merasa terganggu. Ia pun tak pernah mendapat kekerasan maupun perlakuan buruk dari masyarakat. Kegiatan sehari-hari dilakukan dengan berbaur bersama warga lainnya.

Apa yang disampaikan dan dialami oleh Putri bisa jadi menjadi salah satu dari kehidupan bertoleransi di Pematangsiantar.

Seperti pada 2018 lalu saat Setara Institute menganugerahkan Kota Pematangsiantar sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia. Dipetakan berdasarkan hasil penilaian indeks kota toleran (IKT).

Penilaian ini dilakukan di 94 kota di Indonesia dan menempatkan Pematangsiantar di peringkat ketika dengan skor 6.280 di bawah Singkawang, Kalimantan Barat (6.513), dan Salatiga dengan skor 6.447. 

Meski gelar kota toleran ini lebih dikaitkan kepada kesiapan warga Pematangsiantar untuk hidup dalam keberagaman suku dan agama, namun hidup rukun saling menerima di antara identitas yang berbeda juga terjadi dengan transgender di sana tanpa mempedulikan identitas seksual satu sama lain.

Meski begitu, tetap saja ada kejadian tak menyenangkan yang tidak dapat dihindari. Putri bercerita, pernah suatu kali saat ia dan teman-temannya sedang duduk berkumpul di Lapangan Merdeka, di depan Balai Kota Siantar, ramai komunitas anak muda yang datang dan melemparkan panggilan bencong pada mereka.

Taman ini memang ramai dikunjungi karena berada di pusat kota dan menjadi tempat rekreasi warga setempat.

Biasanya, ada saja yang kemudian ikut-ikutan memanggil mereka bencong dengan nada mengejek. Menurut Putri, panggilan bencong memang sudah sangat sering didengar olehnya dan teman-temannya.

“Meski udah biasa dan sering, tapi tersinggung juga kalau diucapkan begitu, dikata-katai begitu,” sesalnya.

Tapi tak jarang juga ada orang lain yang membela mereka dengan memberi teguran atau mengusir mereka yang mengganggu.

“Terharu kami kalau ada yang bela. Siapalah kami yang bencong-bencong ini. Minoritasnya kami. Kadangpun kami diabaikan keberadaannya. Tapi melihat langsung spontanitas seperti itu, jujur, merinding sendiri aku,” ujarnya.

Bagi Putri, kebebasan setiap individu harusnya tidak mengganggu kebebasan orang lain, seperti kebebasan untuk berekspresi yang dilakukan Putri dan teman-temannya.

“Itulah toleransi tertinggi.” 

Putri juga tak mengalami kesulitan saat mengurus administrasi, sepanjang ia melengkapi keperluan yang ada.

Meski begitu, Putri tetap mencantumkan ‘laki-laki’ di kolom jenis kelamin, sesuai aturan pemerintah. Baik KTP dan KK-nya tercantum demikian.

 “Di kartu keluarga saya dituliskan laki-laki, ya saya mengaku laki-laki saat pengurusan. Menurut saya itu wajar,” ujarnya.

Pengalaman diejek menggunakan kata bencong juga diterima oleh Jupe (bukan nama sebenarnya). Baginya itu adalah hal yang biasa karena sudah ia terima sedari dulu. Yang menjadi masalah adalah kalau ia mendapatkan kekerasan fisik.

“Tidak setiap saat juga (panggilan bencong) itu saya dengarkan. Bagi saya pribadi, yang terpenting kita tidak pernah mendapatkan kekerasan fisik dari masyarakat. Saya tidak pernah mendapatkan kekerasan fisik,” tambahnya.

Jupe adalah seorang penyanyi di sebuah kafe dan bekerja di salon kecantikan juga. Baginya penerimaan masyarakat tentang identitasnya sebagai transgender adalah sebuah tantangan.

“Namanya manusia ya. Kalau memang suka ya suka. Terkadang pun yang baik kita lakukan, kalau memang mereka tidak suka, pasti ada saja caranya mencari kekurangan kita. Saya sadar tak bisa memuaskan ekspektasi banyak orang, makanya seengaknya saya berusaha tidak jadi kerikil di lingkungan bermasyarakat,” kata Jupe. 

Cita-cita Jupe dan Putri untuk terus hidup nyaman dan tenang di Pematangsiantar tidaklah muluk-muluk. Mereka tidak berharap lebih pada pemerintah.

Putri hanya ingin apa yang sudah ada sekarang, di mana mereka tidak dikucilkan dan diterima dengan baik oleh masyarakat dapat terus berlanjut di masa akan datang.

“Semoga tetaplah seperti ini, jangan ada kedengaran berita kekerasan terhadap transpuan. Jangan dijauhi, dikucilkan apalagi disulitkan saat mencari pekerjaan. Kami juga dapat berkreasi dan semuanya tetap untuk NKRI,” harap Putri. 

Sementara itu Kepala Satpol PP Pematangsiantar Robert Samosir mengatakan, Pemerintah Kota Pematangsiantar pada prinsip dan kebijakannya tidak pernah membeda-bedakan warganya dan tidak pernah melakukan tindakan kekerasan kepada kelompok transpuan.

Menurutnya setiap manusia memiliki hak-nya masing-masing dan tak perlu diusik. Disampaikannya Satpol PP selaku penegak Perda tidak pernah menyusahkan komunitas Transgender di Pematangsiantar selama komunitas ini tidak membuat masalah.

"Mereka jugakan manusia, sama seperti kita. Tak perlu diusik,yang terpenting mereka tidak melakukan hal-hal yang membuat kacau. Kalau mereka  bisa menunjukkan kreatif demi Kota Pematangsiantar, tak mestilah kita ganggu. Kalau memang demi kemajuan Kota Siantar, kita dari Satpol PP akan mendukung,” terangnya 

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pematangsiantar, dr Ronald Saragih juga mengamini. Kesehatan adalah hak semua warga, tanpa membeda-bedakan status sosial dan orientasi sosial.

Ini sejalan dengan pernyataan Putri bahwa ia tak pernah mendapat kesulitan saat harus berobat di layanan kesehatan karena identitas seksualnya.

Sedangkan anggota DPRD Kota Pematangsiantar, Metro Hutagaol, mengatakan, sepanjang dirinya berdomisili di Pematangsiantar, dirinya tidak pernah menemukan tindakan kekerasan terhadap komunitas transpuan. 

“Di dalam UU kita kan jelas dikatakan bahwa setiap warga negara Indonesia itu berhak menentukan pilihan dan juga kebebasan asal tidak melakukan tindakan kriminal,” ujarnya.

Anggota DPRD termuda dari Fraksi Partai Demokrat tersebut mengatakan bahwa di Pematangsiantar da banyak teman-teman transpuan kreatif yang dapat menjadi contoh anak muda agar terus berkreasi.

"Harapan kita semoga kota Pematangsiantar semakin menjadi kota paling toleran. Kepada transpuan tetaplah berkreasi yang positif di lingkungan masing-masing. Mari tunjukkan kalau stigma negatif tentang transpuan itu tidak benar," pungkasnya.

Yakinkan Keluarga Akan Pilihan Hidup

Putri sudah merasa berbeda dengan teman-teman sepantarannya sedari kecil. Mereka lebih senang berteman dengan teman perempuan. Ketertarikannya akan tata rias membuatnya memilih sekolah kecantikan setelah menamatkan bangku SMP.

Setelahnya ia mulai mendalami dunia tata rias dan busana. Ia kerap dipanggil untuk merias di acara pernikahan maupun perlombaan peragaan busana bahkan menjadi pembawa acara.

“Setelah tumbuh dewasa, saya mulai merasa kalau saya adalah perempuan yang terjebak dalam fisik laki-laki. Dan bahkan saya lebih senang dengan saya yang sekarang ini,” ungkapnya.

Putri tidak serta merta menjadi pribadi seperti dirinya yang sekarang. Ia mengalami pergolakan di dalam sendiri, tapi keluarganya ada untuk membantunya melewati masa-masa itu.

“Bohong kalau saya bilang gak ada gejolak. Pasti ada lah. Tapi saya bahagia punya keluarga yang bijaksana, sesuatu yang mungkin tidak teman teman transpuan di luar sana kurang beruntung,” tambahnya.

Kalau Putri diterima dengan baik dan ditemani oleh keluarganya, hal yang berbeda dialami Jupe. Melihat dirinya yang lebih suka bermain dengan anak perempuan daripada anak laki-laki membuat keluarganya marah dan menentang.

Adalah sang ayah yang paling keras mendidiknya. Pun Jupe harus belajar dengan sangat keras hingga berprestasi agar ‘dilihat’ oleh keluarganya.

“Awalnya saya selalu dilarang bermain dengan anak perempuan, hingga saya pernah dihukum sampai dikurung dalam kamar,” kenangnya.

Hingga kini Jupe masih terus meyakinkan kedua orang tuanya, terutama sang Ayah bahwa apa yang dipilihnya membuat dirinya bahagia dan benar adalah dirinya.

Rasa sakit hati dan kesulitan yang dialaminya sejak kecil jurstru semakin menguatkan keinginannya untuk membuka diri agar keluarganya mampu menerima dirinya. Situasi Jupe membaik saat ia menyelesaikan sekolah, mulai bekerja dan hidup mandiri.

Bagi Jupe, kondisi orang tua setiap orang berbeda-beda. Ada yang dapat menerima diri kita apa adanya, ada yang tidak. Meski begitu, Jupe akan terus berusaha meyakinkan kedua orang tuanya untuk menerima dirinya sebagai seorang transpuan.

“Kita kan tahu-nya kalau semua orang tua itu malu dengan keadaan anaknya yang seperti ini (transpuan). Tapi bagi saya tidak ada kata tidak bisa. Intinya kita harus berusaha meyakinkan orang tua,” harap Jupe sambil menutup perbincangan hari itu. 

Penulis: leonardo. Editor: edo.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan