HETANEWS.COM

Viral Video Maba Unesa Dibentak Senior, Ini Sejarah Ospek di Indonesia

Calon mahasiswa mengikuti ospek diperguruan tinggi pilihanya tahun 1990. Mereka memakai helem yang dianjurkan pimpinannya. Foto: KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

Hetanews.com - Sebuah unggahan video berdurasi 30 detik viral di media sosial sejak Senin (14/9/2020) malam. Video tersebut diketahui sebagai aktivitas orientasi studi dan pengenalan kampus (Ospek) daring mahasiswa baru di Kampus Universitas Negeri Surabaya ( Unesa).

Seorang mahasiswi baru berjilbab nampak ketakutan karena dibentak oleh seniornya karena tidak mengenakan ikat pinggang. Tampak logo kampus Unesa di sebelah kiri atas video dan logo kegiatan PKKBM FIP Unesa 2020 di bagian kiri bawah.

Selasa (15/9/2020) pagi, pihak kampus Unesa membenarkan jika video tersebut adalah kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKBM) di Fakultas Ilmu Pendidikan.

"Kami menyayangkan kejadian tersebut, dan ada kesalahan dalam koordinasi pelaksanaan PKKMB pada salah satu fakultas di Unesa," kata Rektor Unesa, Nurhasan.

Unggahan tersebut mendapat beragam reaksi dari warganet. Mereka mempertanyakan urgensi "bentak-bentakan" dan pendisiplinan berlebihan dalam acara ospek yang diselenggarakan secara daring itu.

Sejarah ospek di Indonesia

Ospek diduga mulai kental aroma militer dan kekerasan dimulai pada zaman penjajahan Jepang.
Foto: Arsip Kompas

Dosen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (Unair) Purnawan Basundoro mengatakan, kegiatan ospek mahasiswa baru di Indonesia sudah ada sejak zaman kolonial Jepang. Pada saat itu orientasi mahasiswa baru disebut dengan perploncoan. 

"Plonco itu ya, dugaan saya sudah dimulai sejak era Ika Daigaku, perguruan tinggi kedokteran yang merupakan kelanjutan dari STOVIA," ujar Purnawan, Selasa (15/9/2020).

Dia mengatakan, saat masih bernama STOVIA di bawah pengelolaan Belanda, tradisi perploncoan tidak nampak terlihat. Namun baru terlihat keras dengan unsur militer ketika berganti menjadi Ika Daigaku yang dikelola militer Jepang. Purnawan menduga, saat itulah awal mula muncul tradisi ospek yang keras.

"Salah satunya dengan menggunduli mahasiswanya. Hal itu diprotes oleh Soedjatmoko (tokoh nasional) dan kawan-kawannya yang menolak disuruh gundul. Sehingga Soedjatmoko dikeluarkan dari Ika Daigaku," kata Purnawan.

Setelah Indonesia merdeka, Purnawan menyebut tradisi ospek yang keras itu masih terbawa hingga ke perguruan tinggi pertama yang dikelola oleh pemerintah Indonesia, yakni Universitas Gadjah Mada.

"Tradisi plonco itu masih dilakukan, pada saat penerimaan mahasiswa baru," ujar dia.

Sempat hilang

Menyambut para mahasiswa baru tahun 1982, tidak ada lagi perpeloncoan di UI (Universitas Indonesia). Program tersebut diganti dengan Ospek (Orientasi Program Studi dan Pengenalan Kampus) yang akan berlangsung di kampus UI tanggal 4 dan 5 Agustus 1982.
Foto: KOMPAS/KARTONO RYADI 

Tradisi perploncoan saat ospek mahasiswa sempat mendapat protes dari salah satu partai politik, yakni Partai Komunis Indonesia (PKI).

"Tradisi plonco itu sempat dihentikan, karena ada penolakan dari PKI, yang menganggap perploncoan sebagai tradisi kolonial," kata Purnawan.

Pada 1963, karena adanya penolakan dari PKI, maka tradisi plonco untuk mahasiswa baru diubah menjadi Masa Kebaktian Taruna (MKT). Namun, karena ada peristiwa G30S pada 1965, maka segala hal yang berkaitan dengan PKI dihilangkan, termasuk MKT. "

Tahun 1968 kemudian ada yang namanya Mapram atau Masa Pra Bakti Mahasiswa, sebagai ajang penyambutan mahasiswa baru. Ya memang ada hukumannya, sebagai konsekuensi kalau tidak melaksanakan tugas-tugas," jelas Purnawan.

Nama ospek baru digunakan pada awal 1990, kepanjangannya adalah Orientasi Studi Pengenalan Kampus. Pada saat itu, hukuman bersifat fisik seperti push up, dan sit up juga diterapkan.

"Itu awal tahun 90-an di UGM, dan kemudian ditiru oleh yang lain-lain. Nah, setelah itu namanya berganti-ganti, sampai sekarang disebut PKKMB itu," ujar dia. 

Berdasarkan rentetan sejarah itu, Purnawan kemudian menyimpulkan bahwa tradisi ospek yang keras di Indonesia, meskipun sekarang sudah jauh berkurang, adalah bawaan dari tradisi plonco di Ika Daigaku yang dikelola oleh militer Jepang.

"Ika Daigaku itu memang keras sekali, karena dari militer Jepang yang menyelenggarakan," kata Purnawan.

Sumber: kompas.com

Editor: tom.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!