Toba, hetanews.com - Huta Siabal-abal yang merupakan salah satu perkampungan, di Desa Sitorang, Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba, Provinsi Sumatra Utara, dikunjungi para keturunan Pu Samuana Panjaitan, pada Sabtu (12/9/2020), lalu.

Perkampungan itu merupakan warisan ayahnya, yaitu Raja Sijorat Paraliman Sihotang Parlabuan Panjaitan.

"Perkampungan itu diwariskan dengan melakukan ritual adat batak, pada ribuan tahun yang silam, pada zaman kejayaan Raja Sijorat Paraliman Sihotang Parlabuan Panjaitan, memimpin Harajaon Raja Sijorat, di Tanah Batak Habissaran, di jaman itu,"kata Binahar Panjaitan, di dampingi St Mallatang Panjaitan, warga yang tinggal di Desa Sitorang.

Perkampungan tersebut merupakan "warisan yang diserahkan pada waktu ribuan tahun yang silam, kata St Mallatang Panjaitan.

Ada ratusan orang keturunan anak rantau Pu Samuana yang hadir dari berbagai daerah.

Dan pada saat penelusuran tanah warisan itu, ada pula ditemukan suatu lokasi makam tua, diduga besar merupakan makam keluarga keturunan Pu Samuana Panjaitan.

Selain itu, ditemukan juga mata air tua yang diduga sebagai tempat pengambilan air minum untuk keperluan hidup para keluarga Pu Samuana Panjaitan.

Makam tua dan sumur tua atau mata air itu terletak di sudut perkampungan tersebut.

"Pu Samuana Panjaitan disebut juga nama panggilannya Sanggak Naiborngin. Nama itu cukup terkenal di tengah-tengah keluarga besar marga Panjaitan, karena nama itu dikutip dari nama leluhurnya yaitu Situngo Naiborngin Panjaitan. Jadi Pu Samuana atau Sanggak Naiborngin, merupakan generasi ke V dari Raja Panjaitan,"kata Drs Jhonson Panjaitan, sebagai kepala rombongan anak rantau.

Para keturunan Pu Samuana Panjaitan saat membuat acara di Huta Siabal - abal, Sabtu (12/9/2020).

Huta Siabal-abal tersebut diduga telah ditinggalkan oleh keturunan Pu Samuana selama ratusan tahun yang silam.

Mereka berpindah dan membuka perkampungan baru. Dan dikemudian hari, ke Lumban Sait Sitorang, Sipahutar, Sianjur Siborong-borong, Onan Runggu, Matio Balige.

Dan kemudian dari perkampungan baru tersebut, ada yang merantau di tahun 1900-an ke Kabupaten Simalungun, Aceh dan Batavia, Pulau Jawa.

Para keturunan Pu Samuana tetap semangat untuk menelusuri perkampungan yang ditinggal oleh nenek moyang mereka.

Dengan tujuan untuk melestarikan kembali perkampungan tersebut. Bahkan, mereka berencana untuk membangun rumah parsaktian turunan Pu Samuana Panjaitan.

Saat penelusuran itu, ada hadir dari Jakarta yaitu Drs Jhonson Panjaitan (Op Arthur), dari Siantar Hormat Panjaitan, Kolam Panjaitan, dan rombongan dari Sipahutar dipimpin Kepala Desa Siabal-abal Sipahutar.

Kehadiran mereka di Desa Sitorang disambut Kepala Desa Sitorang, Parlin Panjaitan dan Kepala Desa Huta Namora, Ebenezer Panjaitan didampingi ratusan warga yang tinggal berdekatan dengan kampung itu yang juga merupakan keturunan dari Keluarga Raja Sijorat Paraliman Sihotang Parlabuan Panjaitan.

Dan turut hadir dari perantauan, Drs Salmon Panjaitan dan St Drs Raja Hasoge Timbul Panjaitan MPd dari Kota Siantar.