Medan, hetanews.com - Pakar Epidemiolog Universitas Sumatera Utara (USU), Putri C Eyanoer mengatakan, klaster terbesar dari jumlah kasus penyebaran virus corona di Sumatera Utara (USU) adalah perkantoran dan fasilitas umum yang menjadi tempat keramaian dari aktivitas masyarakat.

"Adaptasi kebiasaan baru (AKB) memicu penularan kasus. Ada pekerja kantoran yang terpapar kemudian menularkan virus. Orang yang tertular pulang ke rumah dan menularkan ke keluarganya," ujar Putri Eyanoer kepada Beritasatu.com di Medan, Sumatera Utara (Sumut), Senin (7/9/2020).

Ditambahkan, pemberlakuan jadwal sif kerja di perkantoran juga tidak bisa menekan jumlah kasus Covid-19. Pasalnya, kesempatan menggunakan waktu selama tidak bekerja atau bekerja dari rumah, justru dimanfaatkan pegawai untuk jalan-jalan ke luar rumah. Orang itu menganggap dirinya sehat.

"Misalnya, si ayah pergi ke suatu tempat bertemu dengan rekan - rekannya, begitu juga dengan istri maupun anak-anaknya. Ada yang nongkrong di kafe dan melakukan aktivitas menggowes sepeda di lokasi keramaian. Seharusnya, pekerja itu bersama keluarga tetap berada di rumah," katanya.

Putri Eyanoer menyebutkan, pemberlakuan AKB oleh pemerintah membuat sebagian masyarakat tidak mau bertahan di dalam rumahnya masing - masing. Selain itu, tidak adanya pembatasan jam malam maupun pembatasan pengunjung masuk toko dan kafe menjadi pemicu penambahan kasus.

"Seharusnya, ada pembatasan untuk orang yang masuk toko perbelajaan, kafe malam dalam menerapkan protokol kesehatan. Kasus penyebaran virus corona meningkat karena penerapan protokol kesehatan tidak dilaksanakan secara maksimal. Ini juga terjadi karena dipengaruhi sanksi," jelasnya.

Putri Eyanoer menyarankan, pemerintah melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 memberlakukan pembatasan terhadap masyarakat untuk keluar rumah dalam menimalisir kasus Covid-19. Hanya satu orang dari keluarga yang diperbolehkan untuk keluar rumah untuk sebuah keperluan.

"Banyak negara yang memberlakukan pembatasan itu dan dapat dikatakan berhasil menangani Covid-19. Dua di antaranya adalah Thailand dan Filipina. Untuk negara Filipina berhasil menekan kasus corona saat memberlakukan pembatasan keluar rumah. Namun, kasus Covid-19 kembali melonjak setelah warganya melakukan protes," ungkapnya.

Selain itu, pemerintah juga perlu membuat peraturan pembatasan jam malam bagi masyarakat di luar rumah, termasuk bagi pengelola tempat nongkrong masyarakat. Jika pemilik kafe tidak membatasi pengunjung yang datang maka potensi penambahan kasus dipastikan semakin besar.

"Kita sudah menyampaikan saran dan masukan ini kepada pemerintah dalam mengantisipasi dan menekan penyebaran kasus Covid-19 ini. Namun saran itu sepertinya belum dilaksanakan. Mungkin pertimbangannya karena masalah perekonomian," sebutnya.

Pemeriksaan

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumut, Whiko Irwan mengatakan, jumlah kasus positif Covid-19 di Sumut sampai Minggu (6/8/2020) malam, sebanyak 7.633 orang. Ada penambahan 81 kasus baru Covid-19 dari sebelumnya yang berjumlah 6.552 orang.

"Dari 7.633 orang yang terpapar virus corona tersebut, sebanyak 4.555 orang dinyatakan sembuh dan pasien meninggal dunia sebanyak 335 orang. Selebihnya, masih menjalani perawatan di rumah sakit khusus penanganan Covid-19. Tidak sedikit jumlah orang yang menjalani isolasi mandiri," kata Whiko.

Menurutnya, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 bersama dinas kesehatan masih terus memperluas pemeriksaan dalam upaya testing, tracing dan treatment (3T) secara masif terhadap orang - orang yang melakukan kontak erat dengan pasien yang terpapar Covid-19.

"Penyebaran virus corona ini masih terjadi di tengah masyarakat. Jika masyarakat mengabaikan protokol kesehatan maka berpotensi besar tertular virus corona ini. Penambahan kasus Covid-19 ini menjadi bukti bahwa masih banyak masyarakat yang tidak mematuhi protokol kesehatan," sebutnya.

Sumber: beritasatu.com