HETANEWS.COM

Perjuangan Ramot Silalahi Merawat Istri dan Dua Anaknya Alami Kebutaan, Berharap Banyak pada Pemerintah dan Dermawan

Lambok Silalahi dan Ramot Silalahi saat menunjukkan transkrip kronologi kejadian yang akan ditujukkan kepada Bupati Simalungun. (foto/juindra)

Simalungun, hetanews.com - Ramot Silalahi, warga Simpang Rel Mutik, Nagori Bosar Galugur, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun, mengaku sudah menghabiskan seluruh uangnya untuk membantu penyembuhan mata istri tercinta, Rismawati Simatupang (47) dan anak kedua, Parluhutan Silalahi (25) dan putri bungsunya, Hotma Ferawati Silalahi (24) yang mengalami kebutaan setelah terkena penyakit glaukoma.

Ramot menikahi istrinya, di tahun 1993 dan sudah mempunyai 3 anak dan 1 cucu yang saat ini hidup di rumahnya.

Di bulan juni 2014 silam, Rismawati Simatupang, mengalami gangguan pengelihatan, dan sang suami senantiasa menemani istrinya untuk membeli kacamata ke Kota Siantar. Di bulan November 2014, pengelihatan Rismawati semakin parah dan sang sami membawanya ke Medan, ke Rumah Sakit Eye Center.

Dari pengakuan Ramot, istrinya melakukan pengobatan selama 6 bulan dengan rekam medis dokter glaukoma.

“Saat itu, istri saya masih dapat meraba-raba, tetapi bulan berganti bulan, penyakit istri saya tak kunjung sembuh,” katanya, sembari mengatakan, biaya pengobatan sang istri dari kantung sendiri.

Karena tak kunjung sembuh, Ramot mencari pengobatan alternatif. Tapi sayangnya usaha yang dilakukannya tak berbuah.

Cobaan yang diberikan Tuhan kepada Ramot tidak sampai di situ saja. Di bulan September 2018, putra kedua Ramot, Parluhutan Silalahi, juga mengalami penyakit mata dan dibawa oleh adik ipar Ramot, berobat ke rumah sakit di Bagan Batu.

Ramot pun meminta kepada adik iparnya agar Parluhutan dibawa pulang ke Simalungun.

Dan keesokan harinya, Ramot pun membawa anaknya ke Rumah Sakit Eye Center di Medan, dimana saat itu masih bisa melihat, walaupun samar-samar.

“Hampir 1 tahun kami berobat di RS Eye Center, tetapi tidak ada perubahan, bahkan anak saya semakin hari semakin parah,” katanya.

Cobaan yang diberikan Tuhan kepada Ramot, membuat dia semakin terpuruk. Istri dan anak keduanya mengalami penyakit kebutaan akibat penyakit glaukoma.

Penderitaan yang dialami oleh Ramot, tidak sampai disitu saja, putri bungsunya, Hotma Ferawati Silalahi, juga mengalami hal yang sama dengan abang dan ibunya.

Diceritakan Ramot, di bulan Maret 2019,pada awal pernikahan Hotma Ferawati, masih keadaan sehat bugar tanpa mengalami penyakit kebutaan, tetapi di awal Desember 2019, penyakit tersebut muncul saat Hotma Ferawati sedang hamil.

Foto Keluarga Ramot Silalahi. (foto/juindra)

Saat masa kehamilan, pihak suami Hotma Ferawati, tidak berani mengambil langkah melakukan pengobatan kepadanya karena yang ditakutkan adalah janin dalam kandungan Hotma.

“Dibulan Maret 2020, putri saya ini tidak dapat lagi melihat dan bulan berikutnya, anak saya melahirkan anak laki-laki. Bulan berganti bulan, kehidupan putrinya dengan suami masih berjalan dengan baik,” ceritanya.

Tetapi, suatu saat, putri tercintanya menelpon Ramot dan mengatakan dalam bahasa batak “Alap ma au bapa, dohot pahoppu mon, ai dang tahan be ahu tinggal di jabu on, molo dang dialap bapa hami, manikkot do hami annon dohot pahoppu mon”. Bila di bahasa Indonesiakan kira-kira seperti ini, kata-katanya. “Jemputlah aku pak sama cucumu ini, karena tidak tahan lagi aku tinggal di rumah ini, kalau tidak bapak jemput kami, gantung dirilah aku sama cucumu disini”.

Mendengar apa yang disampaikan sang putri tercinta, Ramot langsung pergi ke rumah mertua putrinya, ke Mariah Hombang. Sesampai di rumah tersebut, kata Ramot Silalahi, putri dan cucunya sudah dalam keadaan menangis.

Ramot Sialahi membawa putri tercinta dan cucunya pulang ke rumahnya, di Nagori Bosar Galugur.

Semakin hari, Ramot semakin terpuruk. Istri anak kedua dan putri bungsunya, mengalami penyakit glaukoma dan saat ini mengalami kebutaan.

Ramot mengaku sempat kalap dan tidak percaya kepada Tuhan karena cobaan yang berikan Tuhan kepadanya datang secara bertubi-tubi.

Tabungan Ramot yang selama ini disimpan sudah terkuras semua, ditambah pekerjaanya hanya jualan tuak. Beruntungnya Ramot, anak pertamanya Lambok Silalahi (27) dalam keadaan sehat dan setiap bulan, ikut membantu ibu dan adik-adiknya makan.

Ramot saat ini mengharapkan bantuan dari dermawan, Pemerintah Kabupaten Simalungun dan juga Pemerintah Pusat.

Sebab biaya pengobatan sudah tidak ada lagi.

“ Tidak ada lagi biaya pengobatan, hanya berharap bantuan dari Pemerintah dan dermawan,” katanya.

“Camat Tanah Jawa, Farolan Sidauruk, sudah mengusahakan meminta bantuan kepada Bupati, dan saat ini saya sedang berusaha memenuhi syarat yang diberikan kepadanya agar Bupati Simalungun, JR Saragih, dapat membantunya,” pungkasnya.

Penulis: juindra. Editor: gun.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!