HETANEWS.COM

Terbukti Melakukan Pemerasan, Marshal Dibui 1 Tahun Penjara

Mara Salem Harahap als Marshal (40), saat mengikuti persidangan.

Siantar, hetanews.com - Mara Salem Harahap als Marshal (40), warga Siantar, divonis 1 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Sei Rampah.

Hal itu dikatakan Zakaria Tambunan SH, selaku pengacara yang mendampingi Marshal dalam persidangan. "Vonis 1 tahun,"katanya singkat, ketika ditanya wartawan, Jumat (14/8/2020), di Pematangsiantar.

Sebelumnya, Marshal yang disebut - sebut sebagai wartawan Laser News Today, dituntut hukuman 2,6 tahun penjara, bersama rekannya yang disidangkan dalam berkas terpisah, Suwardi als Apeng (60), warga Dolok Batunanggar Simalungun, diancam 2 tahun.

Keduanya dinyatakan terbukti melakukan pemerasan dengan pengancaman melanggar  pasal 368 ayat (1) KUH Pidana Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUH Pidana oleh jaksa Erwin Ade Putra Silaban SH.

Ketua Majelis Hakim PN Sei Rampah,  Rio Barten SH, dengan segala pertimbangannya, meringankan hukuman terdakwa Marshal dan Apeng, menjadi 1 tahun.

Sebelumnya, jaksa menyebutkan, jika hal yang memberatkan kedua terdakwa karena tidak mengakui perbuatannya dan telah mencoreng nama baik profesi jurnalis. Selain itu, Marshal juga merupakan residivis (sudah pernah dihukum).

Marshal dan Apeng, terbukti melakukan pemerasan dengan pengancaman membuat berita yang menyudutkan perkebunan untuk meminta sejumlah uang. Dengan mengatakan “Saya Butuh Uang 15 Juta Karena Kami Baru Punya Kantor Baru,”kata Marshal. Kemudian terdakwa SUWARDI Als APENG mengatakan: “Dibantulah Lah Pak, Biar Kita Selesaikan Disini, Dan Ini Gak Akan Kemana - mana".

Karena Manager Perkebunan Gunung Para, Raden Wahyu Cahyadi, tidak punya uang, maka terbitlah pemberitaan di Media Online Laser News Today. Pemberitaan pertama hingga ke-3, diabaikan saksi, karena saksi korban tahu tujuannya adalah untuk meminta sejumlah uang.

Tapi karena merasa terganggu dengan pemberitaan dengan berbagai judul tersebut, maka manager Gunung Para, berdiskusi dengan  Saksi Seno Adji, selaku Manajer Kebun Gunung Pamela dan saksi Ir. Charles  Sitorus, selaku Manajer Kebun Silau Dunia dan permasalahan ini diserahkan kepada Ibnu Syahputra Sutomo, selaku APK Kebun Gunung Pamela.

Hingga pada Senin, 27 April 2020, pukul 10.00 WIB, Marshal dan Apeng, datang ke kantor PTPN Gunung Pamela, mengendarai Mobil Datsun putih BK 1709 WF dan bertemu dengan Ibnu Syahputra untuk meminta uang Rp30 juta agar tidak diberitakan lagi.

Sebelumnya terdakwa Marshal mengatakan “Gimananya bang, sudah setengah bulan lebih uang yang ku minta enggak dikasih juga, kami pun tidak maunya membuat berita buruk terus di PTPN III ini, maunya kan berita bagus biar sama sama enak jadinya.  Lalu saksi Ibnu Syahputra mengatakan "Ya udah bang, kalo sudah kami berikan uangnya janji Abang ya tidak akan membuat berita buruk lagi,"katanya.

Dijawab Apeng “Kamipun Profesionalnya Bang, Kalo Udah Kami Terima Uangnya Dan Uang Bulanan Untuk Kami Yang Masing Masing Kebun Memberikan Uang Bulanan Sebesar Rp. 2.000.000,- Ga Akan Kami Naikkan Berita Buruknya Bang,”katanya.

Barang bukti uang Rp30 juta, dikembalikan kepada saksi korban, mobil Datsun putih dikembalikan kepada yang berhak, melalui terdakwa Marshal dan sejumlah handphone dirampas untuk negara. Putusan tersebut, dibacakan dalam persidangan, Rabu (12/8/2020), jelas Tambunan.

Penulis: ay. Editor: gun.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!