HETANEWS.COM

Gibran dan Bobby, Strategi PDIP Amankan Pemilu 2024

DPC PDI Perjuangan Jakarta Timur menggelar aksi longmarch menuju Polres Jakarta Timur, Kamis (25/6/2020). Foto: MI/Andri Widiyanto

Jakarta, hetanews.com - PDI-Perjuangan dinilai hendak mengamankan Pemilu 2024 dengan mengusung sejumlah nama populer, seperti Gibran Rakabuming dan Bobby Nasution, di Pilkada 2020. Sebab, Pilkada merupakan batu loncatan sekaligus cerminan kesuksesan di Pemilu. 

Sejauh ini sudah mengumumkan 168 pasangan calon kepala daerah untuk berlaga di Pilkada Serentak 2020. Pengumuman dilakukan PDIP dalam tiga gelombang.

Pada gelombang pertama, PDIP mengumumkan 48 paslon pada 19 Februari lalu, kemudian disusul 45 paslon pada gelombang kedua, 17 Juli. Terakhir, pada Selasa (11/8) PDIP mengumumkan 75 nama paslon, termasuk nama Bobby Nasution yang merupakan menantu Presiden Joko Widodo.

'Banteng' juga bakal mengumumkan lagi bakal paslon untuk sejumlah daerah, seperti Pilwalkot Surabaya, pada gelombang keempat. Pengumuman secara bertahap yang dilakukan PDIP menandakan bahwa partai besutan Megawati Soekarnoputri itu melakukan perhitungan cermat dan hati-hati dalam mengambil keputusan.

"Saya kira, dengan mengumumkan beberapa tahap itu menunjukkan mereka (PDIP) mencoba berhati-hati melihat peluang setiap daerah itu," kata Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan, Selasa (11/8).

Djayadi mengakui, sebagai pemenang pemilu, PDIP tentu menjadi partai terkuat di Pilkada Serentak 2020. PDIP juga bisa berkoalisi dengan partai mana saja dalam menyambut Pilkada Serentak 2020.

Bahkan sebagai partai besar, PDIP juga punya leluasa untuk menentukan paslon kepala daerah yang memiliki potensi tinggi meraih kemenangan.

"PDIP sebagai partai besar bisa berkoalisi dengan banyak partai. Dan kalau PDIP pandai, mengambil calon-calon yang potensial menang meskipun bukan kader PDIP langsung, tentu peluang menangnya besar," kata Djayadi.

Jika dilihat dari keseluruhan paslon yang diusung, tak dapat dipungkiri ada banyak nama besar di dalamnya. Sebut saja putra sulung Jokowi, Gibran Rakabuming Raka yang diusung bersama dengan kader PDIP, Teguh Prakosa untuk Pilwalkot Solo 2020.

Kemudian, menantu Jokowi, Bobby Nasution juga turut diboyong PDIP sebagai calon Wali Kota Medan berpasangan dengan Aulia Rahman dari Gerindra.

Selain itu, PDIP juga mengusung anak Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Hanindhito Himawan Pramana pada Pilbup Kediri 2020. Hanindhito maju bersama Ketua Fatayat NU Kabupaten Kediri, Dewi Mariya Ulfa.

Belum lagi dengan sejumlah petahana yang diusung PDIP seperti pasangan Olly Dondokambey-Steven Kandouw untuk Pilgub Sulut 2020.

Dengan deret nama-nama itu, kata Djayadi, membuat target kemenangan 60 persen dari keseluruhan Pilkada Serentak 2020 yang dicanangkan PDIP "sangat bisa terwujud".

Djayadi melihat nama-nama itu sangat berpotensi meraup kemenangan. Misalnya Gibran yang sejauh ini belum ada lawan di Pilwalkot Solo.

Menurutnya, Gibran hanya tinggal melanjutkan tongkat estafet Jokowi yang sudah memiliki basis pendukung di Solo. Apalagi, dalam Pemilu 2019 lalu, suara PDIP di Solo terbilang tinggi, yakni di atas 60 persen.

"Pemilih PDIP kan biasanya cukup disiplin mengikuti suara partai. Selain itu, belum terlihat lawan kuat di Solo itu. Belum ada lawan alternatif, sehingga kalau PDIP disiplin dengan suara partai, susah mengalahkan Gibran di sana," ujar Djayadi.

Sedangkan untuk Bobby, meskipun tidak akan semudah langkah Gibran, namun perkiraannya di atas kertas PDIP tidak akan membiarkan Bobby kalah begitu saja dalam Pilwalkot Medan.

Artinya, PDIP bersama partai koalisinya akan habis-habisan menyokong suami putri Jokowi, Kahiyang Ayu itu untuk meraih kemenangan di Medan.

"Pasti akan didukung dengan segala potensi yang ada, baik strategi maupun logistik untuk mendukungnya," kata dia.

Menurutnya, bukan tidak mungkin Prabowo Subianto yang merupakan Menteri Pertahanan sekaligus Ketua Umum Partai Gerindra juga akan turun gunung untuk membantu kampanye Bobby di Medan.

Hanya saja, dukungan serupa tidak boleh dilakukan oleh Jokowi. Menurutnya, meski tidak melanggar prosedural hukum, hanya saja dukungan langsung oleh Jokowi  dapat dicap tidak beretika oleh publik. Selain kader-kader sendiri, PDIP juga diketahui mengusung calon dari kader partai lain.

Misalnya di Tangerang Selatan, PDIP mendukung keponakan Prabowo, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo sebagai bakal calon wakil wali kota di Pilwalkot Tangsel. Dia didapuk untuk mendampingi Sekretaris Kota Tangerang Selatan Muhammad yang diplot sebagai bakal calon wali kota.

Gibran Rakabuming Raka dan Teguh Prakosa diusung PDIP untuk Pilwalkot Solo 2020. 
Foto: ANTARA/Mohammad Ayudha

Dari Pilkada untuk Pilpres 2024

Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin mengatakan pemilihan nama-nama besar sebagai calon kepala daerah yang diusung PDIP bukan sesuatu yang mengagetkan. Menurutnya, PDIP memiliki tujuan besar di Pilkada Serentak 2020 ini, yakni mempermudah langkah mereka menuju Pilpres 2024.

"Pilkada itu kan cerminan politik di 2024, jadi nanti kalau banyak menang di Pilkada itu mengkondisikan Pemilu 2024 akan lebih mudah," ujar Ujang.

"Wajar jika PDIP sangat serius memenangkan Pilkada Serentak 2020 ini," tambah dia.

Ujang menilai bakal calon kepala daerah yang diusung ini dapat mengakomodir kebutuhan partai dalam Pemilu 2024. Hal itu lantaran kepala daerah memiliki kekuatan finansial, birokrasi, dan terbukti lebih dihargai di daerahnya.

Artinya, kandidat capres dan cawapres nantinya akan bergantung pada para kepala daerah dalam membangun strategi bersama untuk meraih banyak suara di Pemilu 2024.

"Bagaimanapun, kepala daerah itu menjadi tumpuan partai politik untuk meraup suara," jelas Ujang.

Oleh sebab itu, menjadi sangat masuk akal apabila PDIP menunjuk sosok-sosok yang potensial dapat memenangkan pilkada saat ini. Selain Gibran, sosok potensial itu tentunya adalah Bobby.

Megawati dkk. lebih memilih Bobby ketimbang Akhyar Nasution yang pada periode sebelumnya diusung PDIP. Akhyar sendiri akhirnya menyeberang ke Demokrat usai dipecat PDIP.

PDIP sendiri mengaku tak memilih Akhyar karena ada dugaan masalah hukum, sehingga menjatuhkan pilihan kepada Bobby. Penunjukan Bobby itu dinilai Ujang juga bagian dari strategi PDIP.

"Menantu presiden juga akan menang. Makanya, lawannya dikerjain dulu. Jadi itu bagian daripada strategi juga. Ujungnya (Bobby) menang, kalau tidak ada takdir Tuhan," ujar Ujang.

Sumber: cnnindonesia.com

Editor: tom.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!