HETANEWS.COM

Ngeri, Banyak Paus Lumba-lumba Mati dengan Bungkus Deterjen hingga Odol di Perut

Ilustrasi lumba-lumba terdampar.

Hetanews.com - Pencemaran lingkungan terhadap kelangsungan hidup ekologis semakin nyata terlihat. Hingga tahun 2018, ilmuwan mencatat ada 83 mamalia laut yang mati terdampar di garis pantai di seluruh Amerika Serikat, hewan itu adalah lumba-lumba dan paus.

Dari hasil analisis ilmuwan, hewan-hewan yang ditemukan terdampar tersebut semuanya terpapar polutan berbahaya di dalam lapisan lemak mereka.

Temuan yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Marine Science mengungkapkan, polutan yang masuk itu terdiri dari herbisida, kemasan makanan, pasta gigi, sabun, deterjen. Bahkan ditemukan barang berupa mainan telah masuk ke jaringan ordo cetacea yang mati, di dalam tubuh paus, lumba-lumba dan pesut tersebut.

Studi ini menjadi pertama yang melaporkan kandungan konsentrasi polutan dalam lemak dalam tubuh lumba-lumba putih dan paus paruh Gervaus: dua spesies yang catatan ilmiahnya masih sangat jarang.

Dipimpin oleh para peneliti dari Institut Oseanografi Cabang Pelabuhan Florida Atlantic University (FAU), penelitian ini menganalisis sampel lemak untuk mengukur konsentrasi lima racun organik, yakni atrazin, DEP, NPE, bisphenol-A, dietil ftalat, dan triclosan. Data ini dilengkapi dengan analisis sampel hati yang mengukur keberadaan unsur dan senyawa industri beracun.

Ngeri, Banyak Paus Lumba-lumba Mati dengan Bungkus Deterjen hingga Odol di Perut (1)
Paus terdampar.

Analisis menunjukkan bahwa beberapa faktor mempengaruhi konsentrasi racun dan unsur-unsur dalam lemak cetacea, seperti spesies, jenis kelamin, umur, dan lokasi. Misalnya, lumba-lumba hidung botol memiliki konsentrasi timbal, mangan, merkuri, selenium, talium, dan seng yang jauh lebih tinggi di hati mereka.

Sementara paus kerdil dan sperma memiliki kadar NPE, arsen, kadmium, kobalt, dan zat besi yang lebih tinggi. Pada lumba-lumba hidung botol betina, arsenik adalah unsur yang paling memprihatinkan, karena mengandung konsentrasi yang jauh lebih tinggi ketimbang dengan jantan dewasa.

Selanjutnya, sampel lemak yang diambil dari lumba-lumba yang terdampar di Florida ditemukan mengandung kadar timbal, merkuri, dan selenium yang jauh lebih tinggi. Kendati konsentrasi zat besi lebih rendah jika dibandingkan dengan yang terdampar di Carolina Utara.

Perbedaan ini menunjukkan pentingnya tempat tinggal bagi kesehatan lumba-lumba dan menunjukkan bagaimana perubahan lingkungan laut sangat mempengaruhi kesehatan hewan.

Ngeri, Banyak Paus Lumba-lumba Mati dengan Bungkus Deterjen hingga Odol di Perut (2)
Beberapa paus mati ditandai silang

Para peneliti menyatakan bahwa polutan beracun ini masuk ke lingkungan laut baik dalam bentuk limpasan yang tercemar maupun zat kimia dari bahan bakar fosil dan plastik sekali pakai yang digunakan manusia yang berhasil masuk ke saluran air. Adapun bahan kimia spesifik yang terdeteksi berupa kemasan makanan, deterjen, dan mainan anak-anak, di mana beberapa di antaranya mengandung ftalat berbahaya.

"Kita harus melakukan bagian kita untuk mengurangi jumlah racun yang masuk ke lingkungan laut kita, yang memiliki implikasi kesehatan dan lingkungan yang penting tidak hanya untuk kehidupan laut tetapi juga untuk manusia," kata Dr Annie Page-Karjian, asisten profesor penelitian dan dokter hewan klinis di Cabang Pelabuhan FAU, dalam sebuah pernyataan.

"Bahan kimia ini bekerja melalui rantai makanan dan menjadi lebih terkonsentrasi di tempat yang lebih tinggi. Ketika lumba-lumba dan paus memakan ikan dengan konsentrasi bahan kimia tersebut, unsur-unsur beracun masuk ke dalam tubuh mereka. Lumba-lumba memakan berbagai ikan dan udang di dalamnya. lingkungan laut dan begitu pula manusia."

Sumber: kumparan.com 

Editor: suci.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!