HETANEWS.COM

Kenapa Publik Sulit Percaya Edukasi Perubahan Iklim sampai COVID?

Anggota Pasukan Bela Diri Darat Jepang dalam operasi penyelamatan dan pemulihan di Ōfunato, prefektur Iwate, Jepang, setelah kota itu hancur oleh gempa bumi dan tsunami 11 Maret 2011. Foto: Matt Dunham/AP

Hetanews.com - Dalam beberapa permasalahan, mayoritas ilmuwan telah mencapai kesepakatan, tapi sebagian besar masyarakat tidak yakin dengan kesepakatan tersebut sehingga terjadi kesenjangan konsensus.

Sayangnya, banyak kesenjangan yang paling penting berhubungan dengan kelestarian alam. Ya, sebagian orang tidak merasa edukasi perubahan iklim sebagai hal yang penting.      

Misalnya, konsensus ilmiah tentang terjadinya perubahan iklim dan penyebabnya sudah lama dicapai. Tapi, sepuluh tahun yang lalu, hanya setengah dari masyarakat AS percaya bahwa pemanasan global disebabkan oleh aktivitas manusia (dan sepertiga masyarakat AS masih meragukan hal ini hingga kini).

Hal yang sama juga terjadi ketika sebagian besar ilmuwan dan kelompok-kelompok ahli telah setuju bahwa makanan yang dimodifikasi secara genetik aman untuk dimakan, dan bisa berperan penting dalam membantu menyediakan makanan di dunia dan mengurangi emisi karbon dioksida.

Tapi di sebagian besar negara, banyak orang berpikir bahwa makanan yang dimodifikasi secara genetik berbahaya bagi konsumen dan lingkungan. 

Seorang pria berjalan melewati reruntuhan di sebuah desa hancur akibat banjir yang disebabkan hujan deras yang menyapu Kumamura, Prefektur Kumamoto, barat daya Jepang, Kamis (9/7).
Foto: ANTARA/Reuters/Kim Kyung-Hoon

Adu argumen melulu, lupa Bumi makin rusak

Selain itu, sebagian besar ahli termasuk Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) percaya bahwa energi nuklir harus memainkan peran dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.

Tapi di banyak negara, banyak orang yang menganggap energi nuklir sebagai hal yang berbahaya dan bahkan menghasilkan banyak polusi.  

Kesenjangan-kesenjangan konsensus ini mengkhawatirkan tidak hanya karena menyebabkan tindakan perorangan yang merugikan masyarakat karena menghasilkan banyak CO2, tapi juga karena opini masyarakat mempengaruhi kebijakan.

Jerman menutup setengah dari kapasitas pembangkit listrik tenaga nuklirnya sebagai respons terhadap tekanan masyarakat setelah terjadinya insiden Fukushima Daiichi di Jepang pada tahun 2011.

Tapi keputusan tersebut secara tidak langsung menyebabkan ribuan kematian akibat polusi udara dari pembangkit listrik tenaga batu bara yang digunakan untuk menggantikan pembangkit listrik tenaga nuklir.  

Tapi, masyarakat sering kali menerima konsensus ilmiah dengan senang hati, dengan asumsi mereka sadar hal tersebut adalah sebuah konsensus: misalnya saja tidak banyak orang yang menentang bahwa air adalah H2O atau cahaya terdiri dari foton.

Untuk memahami mengapa kesenjangan konsensus terjadi dalam beberapa hal, dan cara untuk menjembatani hal ini, kita harus mempertimbangkan psikologi komunikasi, atau cara kita menentukan apa dan siapa yang dipercaya.

Apa dan siapa yang bisa dipercaya? 

Ketika kita mengevaluasi sebuah pesan, kita akan membandingkan isi pesan tersebut dengan opini yang sudah kita miliki: kalau kedua hal tersebut bertentangan, maka kita cenderung menolak pesan tersebut.

Sehubungan dengan informasi sains, orang-orang tidak bisa bergantung pada pengalaman pribadi, meskipun mereka masih mempunyai intuisi.

Sayangnya, sebagian besar teori ilmiah tidak sejalan dengan intuisi: misalnya saja intuisi saya mengatakan bahwa matahari mengitari bumi, yang berbentuk datar.

Hal yang sama juga terjadi ketika banyak orang secara intuitif sulit percaya bahwa manusia bisa mempengaruhi iklim bumi, secara intuitif bereaksi negatif terhadap makanan yang dimodifikasi secara “tidak alami,” dan kita belajar untuk menjadi takut pada energi nuklir, mungkin karena hubungan energi nuklir dengan senjata nuklir.   

Oleh karena itu tidak mengagetkan bahwa banyak hasil penelitian ilmiah tersebut lama diterima oleh masyarakat apalagi kalau ada kelompok kepentingan yang menggunakan hal-hal yang tidak intuitif ini untuk melakukan penolakan terorganisir.  

Tapi menolak pesan yang tidak sesuai dengan intuisi kita hanya sebuah reaksi awal, yang bisa diatasi dalam kondisi yang tepat. Orang-orang memperhatikan berbagai hal ketika memutuskan apakah mereka akan mempercayai sumber pesan tersebut, dan untungnya, mereka masih mempercayai para ilmuwan.

Sebagai dampaknya, ketika masyarakat menerima informasi bahwa ada konsensus ilmiah dalam sebuah permasalahan, mereka cenderung menyesuaikan opini mereka sejalan dengan konsensus tersebut. 

Warga berdiri di pinggir Danau Tai, yang meluap membanjiri tepiannya menyusul hujan lebat, di Huzhou, provinsi Zhejiang, China, Rabu (15/7).
Foto: ANTARA/Reuters/Aly Song.

Kenapa tidak menerima konsensus saja?

Bagaimana bisa orang percaya bahwa mereka lebih tahu permasalahan ilmiah dibandingkan ribuan ahli yang mendedikasikan hidup mereka mempelajari masalah tersebut?

Sayangnya kita cenderung percaya bahwa kita lebih paham banyak hal dibandingkan kenyataannya. Banyak orang berpikir mereka paham cara kerja siraman kakus, tapi ketika diminta untuk menjelaskan mekanismenya, sebagian besar orang menyadari bahwa pemahaman mereka cukup terbatas.

Tapi, meskipun beberapa dari kita mengklaim betul-betul tahu cara kerja reaktor nuklir, atau bagaimana makanan yang direkayasa secara genetik diproduksi, kita masih cenderung menilai pemahaman kita terlalu tinggi dan meremehkan kesenjangan ilmu antara kita dan para ilmuwan.

Ketika orang-orang diajari mekanisme misalnya bagaimana perubahan iklim terjadi, dan apa yang dimaksud dengan teknologi rekayasa genetika rasa hormat mereka terhadap konsensus ilmiah meningkat.      

Argumentasi untuk ubah pikiran masyarakat

Tapi cara terbaik untuk mengubah pikiran masyarakat adalah melalui argumentasi yang berdasarkan rasa hormat.

Ketika penentang makanan yang direkayasa secara genetik diberi tahu bahwa para ilmuwan berpikir bahwa makanan tersebut aman dikonsumsi, mereka mungkin akan mempertanyakan kredibilitas informasi tersebut, misalnya dengan menanyakan berapa banyak penelitian mengenai topik ini, atau apakah para ilmuwan yang terlibat dalam penelitian mempunyai konflik kepentingan.

Selama pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dijawab, maka para kritikus makanan yang direkayasa secara genetik tidak akan mengubah pendapat mereka.  

Pada festival sains tahun 2018 di Perancis, Sacha Altay dan Camille Lakhlifi yang merupakan peneliti mencoba untuk menyampaikan konsensus ilmiah mengenai makanan yang direkayasa secara genetik kepada kelompok-kelompok kecil orang.

Dalam diskusi yang berlangsung hingga setengah jam, kedua peneliti tersebut menjawab banyak argumentasi kontra, dan menciptakan perubahan opini yang besar, dengan rata-rata pandangan peserta mengenai makanan yang direkayasa secara genetik beralih dari menolak menjadi mendukung secara tentatif.       

Sebuah konsensus ilmiah yang baru dicapai tidak secara otomatis dan langsung diterima oleh masyarakat. Hal ini bukan berarti bahwa masyarakat keras kepala, tapi mereka memerlukan alasan baik untuk mengubah pemikiran mereka.

Para ilmuwan, pendidik, dan tokoh masyarakat lain harus mengkomunikasikan konsensus tersebut, menjelaskan mekanisme yang ada, dan dengan sabar dan berpengetahuan berbicara dengan masyarakat dan menjawab kekhawatiran mereka.

Kita tidak bisa berharap untuk dapat mengatasi kesenjangan konsensus kalau kita tidak menggelar wacana yang masuk akal. 

Sumber: opini.id

Editor: tom.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!