HETANEWS.COM

Kemendikbud Tegaskan Tak Ada Paksaan Sekolah Tatap Muka di Zona Kuning dan Hijau

Siswa kelas VII SMPN 1 Kota Jambi mengenakan masker dan pelindung wajah sebelum memasuki kelas pada hari pertama sekolah Tahun Pelajaran 2020/2021 di Jambi.

Jakarta, hetanews.com - Pemerintah pusat akhirnya mengizinkan kegiatan belajar-mengajar secara tatap muka di sekolah pada zona kuning dan hijau virus corona. Namun, Kemendikbud menegaskan tak ada paksaan bagi siswa untuk mengikuti pembelajaran secara tatap muka di sekolah.

Kepala Biro Kerja sama dan Humas Kemendikbud, Evy Mulyani, memastikan kegiatan belajar-mengajar di sekolah pada zona kuning dan hijau virus corona harus memenuhi persetujuan dari berbagai pihak, mulai dari pemda hingga komite sekolah

"Prioritas Kemendikbud yang utama kesehatan dan keselamatan siswa, guru, orang tua, masyarakat secara luas. Sehingga walaupun berada di zona hijau dan kuning satuan pendidikan tidak dapat melakukan pembelajaran tatap muka tanpa adanya persetujuan yang pertama pemda atau kanwil, kepala sekolah, persetujuan komite sekolah," jelas Evy saat kepada kumparan, Rabu (12/8).

Evy mengatakan, persetujuan akhir siswa mengikuti pembelajaran tatap muka di sekolah berada di tangan orang tua. Menurutnya, apabila orang tua siswa tidak setuju maka pihak sekolah tidak boleh memaksa. Sebaliknya, sekolah harus tetap memenuhi hak belajar siswa yang bersangkutan dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Sebenarnya bahwa dalam hal orang tua peserta didik tidak setuju untuk putra-putrinya ikut belajar tatap muka, maka tidak bisa dipaksa. Jadi orang tua yang punya hak, keputusan akhir untuk mengirimkan anaknya ke sekolah

  • Kepala Biro Kerja sama dan Humas Kemendikbud Evy Mulyani

"Meskipun sekolahnya sudah memenuhi syarat ketat yang ada di SKB 4 menteri, kalau orang tua tidak megizinkan itu hak orang tua dan anak yang harus dipenuhi sekolah. Misal satu orang tidak setuju, meskipun minor, harus dipenuhi dengan PJJ, tidak boleh ada perundungan," imbuhnya.

Selain itu, Evy mengatakan, pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar tatap muka di sekolah juga dilakukan secara bertahap dengan jumlah siswa yang dibatasi sekitar 30-50 persen per kelas dari kapasitas normal.

"Jadi kalau untuk SD, SMP, SMA, SMK standar awalnya kan 28 sampai 36 peserta per kelas menjadi maksimum 18. Untuk SLB awalnya 5-8 peserta didik jadi ini disesuaikan maksimum 5 peserta didik per kelas. Untuk PAUD juga sama standar awal 15 jadi 5 peserta didik," kata Evy.

Karena adanya pembatasan jumlah siswa per kelas, maka kata Evy, pihak sekolah bisa menjalankan sistem rombongan belajar dengan cara shifting. Menurutnya, sistem ini yang menentukan adalah pihak sekolah masing-masing.

"Jumlah hari dan jam belajar juga akan dikurangi, sistemnya juga rombel (rombongan belajar), shift yang ditentukan oleh masing-masing sekolah. Sekolah yang paling tahu situasi dan kebutuhan, bagaimana pembagian rombel tapi pedomannya itu bahwa 30 -50 persen dari kapasitas di kondisi normal," ungkap Evy.

Kemendikbud Tegaskan Tak Ada Paksaan Sekolah Tatap Muka di Zona Kuning dan Hijau (3)
Sejumlah murid mencuci tangan sebelum masuk hari pertama sekolah di SDN 11 Marunggi Pariaman, Sumatera Barat. 
  • Pemda Wajib Tutup Kembali Sekolah Jika Zona Corona Berubah

Meski demikian, Evy mengatakan, sekolah bisa kembali ditutup pemda apabila terdapat kasus infeksi dan zona atau status daerah terhadap risiko penularan virus corona berubah lebih tinggi.

"Ini menjadi tanggung jawab pemda pasti didukung oleh pusat. dinas pendidikan, dinas kesehatan provinsi, kabupaten/kota, kemudian kepala sekolah berkoordinasi terus dengan Satgas Percepatan Penanganan COVID-19 untuk memantau tingkat risiko karena yang mempunyai kewenangan tentang tingkat risiko daerah zona di daerah itu dari Satgas COVID-19, ini koordinasi yang harus," kata Evy.

Terakhir Evy memastikan pembukaan kembali sekolah di zona kuning dan hijau penularan virus corona telah melalui pertimbangan yang matang dari semua pihak, termasuk kondisi di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) yang mengalami kendala saat PJJ atau belajar online.

"Banyak satuan pendidikan di daerah kesulitan untuk melaksanakan PJJ dengan kendala yang dihadapi. Itu berdasarkan pertimbangan bersama dengan organisasi-organisasi yang memberi masukan dan berdasarkan data," pungkasnya.

sumber: kumparan.com

Editor: sella.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!