HETANEWS.COM

Virus Kotak Kosong, Bukti Rontoknya Mesin Partai

Ilustasi : Paslon VS Kotak Kosong di Pilkada

CATATAN REDAKSI

Siantar, Hetanews.com - Berakhirnya PSBB dan mulainya new normal ditandai dengan menghangatnya konstelasi perpolitikan dalam negeri, terutama pilkada.

Partai politik berlomba mendorong calon terbaiknya maju dalam pemilihan bakal calon kepala daerah.

Seiring berjalannya waktu ada hal menarik yang muncul ke permukaan. Bahwa di banyak daerah, masyarakat mulai dihadapkan dengan calon dari “kotak kosong”.

Masyarakat dihadapkan pada pilihan kotak kosong

 Istilah kotak kosong lahir karena di daerah tersebut hanya ada satu paslon. bukan kotak suara yang tak ada pemilihnya tetapi yang dilawan nanti adalah kotak kosong tanpa paslon.

"Ini menurut saya merupakan preseden buruk dalam rangka pendidikan politik dan pendidikan demokrasi" kata Guspardi, Anggota Komisi II DPR Fraksi PAN, dalam keterangannya di Jakarta, Senin, seperti dikutip Hetanews dari Antara.

Pilkada merupakan kompetisi mengenai visi dan misi antarcalon kepala daerah, sehingga banyaknya calon tunggal menyebabkan tidak terwujudnya substansi pilkada. Hal tersebut dikarenakan yang dihadapi bakal calon merupakan kotak, tidak memiliki otak, dan visi misi.

Kotak Kosong tanpa Otak. Tak ada ide yang diadu

Padahal, Indonesia memiliki penduduk terbesar keempat di dunia yang seharusnya tidak kesulitan memunculkan banyak calon untuk perang gagasan membangun bangsa. Tercatat untuk pilkada 9 Desember 2020 nanti akan ada 31 paslon daerah yang berpotensi melawan kotak kosong. Miris.

Keprihatinan ini juga ditangkap oleh masyarakat menjadi kegelisahan tersendiri. Masyarakat menitipkan harapannya pada corong partai supaya dari partai lahir kader-kader termaju untuk memperjuangkan kemajuan bangsa.

Nyatanya apa? Mesin partai seolah tak berjalan. Kaderisasi mandek, Transformasi ide gagasan kepartaian acapkali tidak sejalan dengan calon yang dimunculkan. Elit partai diberbagai daerah justru gerah dengan model pencalonan kepala daerah yang seringkali tidak berasal dari kader didikan partai.

Daripada golput, kotak kosong jadi primadona

Lalu saat mesin kaderisasi partai tidak berjalan semestinya, kemana lagi masyarakat menitipkan suara?

Redaksi hetanews menganggap kesemrawutan inilah yang menyebabkan membesarnya gerakan kotak kosong. Masyarakat merasa partai tak mampu mewakili mereka lagi. Ini jelas adalah pertanda demokrasi itu tidak sehat, karena itu perlu ada terobosan mendesak yang harus dilakukan melalui undang-undang yang berkaitan pilkada, pemilu dan kepartaian.

Semua pihak harus mampu meningkatkan kesadaran politik masyarakat. Pemilu dan Pilkada harus bergerak maju memberikan pendidikan politik bagi setiap anak bangsa, agar demokrasi yang kita usung bukan hanya sekadar menang atau kalah, tapi juga meluapnya ide, visi dan misi  antar para calon dalam arena perang gagasan pemilu/pilkada Indonesia

Tak ada kemenangan dalam kotak kosong, yang lahir hanyalah kemunduran kesadaran politik rakyat. Ini tugas berat yang harus menjadi pekerjaan rumah bagi mesin partai tiap daerah.

Editor: edo.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!