HETANEWS.COM

Ledakan di Lebanon, Kenapa Amonium Nitrat 6 Tahun Disimpan di Beirut?

Helikopter memadamkan api di lokasi ledakan di kawasan pelabuhan di Beirut, Ibu Kota Lebanon, Selasa (4/8/2020). Sebanyak 73 orang tewas dan ribuan lainnya dilaporkan terluka dari insiden dua ledakan besar yang mengguncang Beirut tersebut. Foto: AFP/STR

Beirut, hetanews.com - Ledakan besar yang menghantam ibu kota Lebanon, Beirut, diduga akibat amonium nitrat yang disimpan selama 6 tahun tanpa fasilitas keamanan yang memadai.

Zat tersebut biasanya digunakan sebagai pembuat pupuk atau bahan peledak, dan pejabat setempat sudah memberikan peringatan bahaya. Lantas, bagaimana ceritanya amonium nitrat bisa disimpan di Beirut selama 6 tahun?

Dilansir dari CNN Kamis (6/8/2020), sebuah dokumen mengungkap bahwa 2.750 metrik ton amonium nitrat tiba di Beirut dari kapal Rusia pada 2013. Kapal bernama MV Rhosus itu bertujuan ke Mozambik, tapi berhenti di Beirut karena persoalan dana.

Hal itu juga meresahkan para awal kapal, yang berasal dari Rusia dan Ukraina. Direktur Bea Cukai Lebanon Badri Daher menceritakan, begitu tiba kapal itu tak kunjung meninggalkan Beirut, meski dirinya bersama rekan-rekan lainnya terus memperingatkan bahwa muatan itu bagaikan "bom mengambang".

"Karena bahaya ekstrem yang ditimbulkan oleh barang-barang yang disimpan dalam kondisi iklim yang tidak cocok ini, kami tegaskan kembali permintaan kepada Otoritas Pelabuhan, untuk segera mengekspor kembali barang-barang itu demi menjaga keamanan pelabuhan, dan orang-orang yang bekerja di sana," kata Direktur Bea Cukai sebelum Daher, Chafic Merhi, dalam surat pada 2016 untuk hakim kasus ini.

Pemandangan yang menunjukkan kondisi Beirut, Lebanon, pada 5 Agustus 2020 setelah ledakan yang menghantam sehari sebelumnya (4/8/2020), menewaskan 100 orang dan melukai ribuan lainnya.
Foto: FP PHOTO/ANWAR AMRO

Pihak berwenang Lebanon belum menyebut kapal MV Rhosus yang membawa zat ini sebagai penyebab ledakan, tetapi Perdana Menteri (PM) Hassan Diab mengatakan, ledakan disebabkan 2.750 ton amonium nitrat.

Dia menambahkan, zat itu disimpan selama 6 tahun di gudang pelabuhan tanpa pengamanan yang memadai, sehingga "membahayakan keselamatan warga". Kepala Keamanan Umum Lebanon juga berkata, "bahan peledak yang sangat eksplosif" telah disita bertahun-tahun sebelumnya dan disimpan di gudang juga.

Gudang itu jaraknya hanya beberapa menit jalan kaki dari pusat perbelanjaan dan kehidupan malam di Beirut. Ledakan besar pada Rabu (5/8/2020) itu menewaskan setidaknya 135 orang dan 5.000 orang lainnya luka-luka.

Di hari yang sama, Menteri Informasi Lebanon Manal Abdel Samad Najd mengatakan, ada surat-surat dan dokumen dari tahun 2014 yang menunjukkan informasi tentang pertukaran "materi" sitaan otoritas Lebanon.

Wanita tersebut berujar ke tv pemerintah Yordania Al Mamlaka, pertukaran itu sedang dipertimbangkan terkait potensi ledakan yang kemudian terjadi di Beirut.

Perjalanan bom mengambang sampai Beirut

Pada 2013 MV Rhosus berangkat dari Batumi, Georgia, yang ditujukan ke Mozambik, menurut keterangan dari akun kaptennya, Boris Prokoshev.

Kapal itu membawa 2.750 metrik ton amonium nitrat, bahan kimia perindustrian yang biasanya digunakan untuk pupuk, dan bahan peledak di pertambangan.

Kapal berbendera Moldova itu sempat singgah di Yunani untuk mengisi bahan bakar. Saat itulah pemilik kapal berkata ke para pelaut Rusia dan Ukraina, bahwa dia kehabisan uang dan mereka harus mengangkut kargo tambahan untuk menutup biaya perjalanan.

Akhirnya mereka berputar menuju Beirut. Setelah di Beirut, MV Rhosus ditahan oleh otoritas pelabuhan setempat, karena "pelanggaran berat di operasional kapal".

Kapal itu tidak membayar biaya pelabuhan, dan para kru Rusia serta Ukraina mengajukan aduan. Demikian keterangan dari Serikat Pelaut Rusia, yang berafiliasi dengan Federasi Pekerja Transportasi Internasional (ITF) yang mewakili para pelaut Rusia.

Suasana sesaat setelah terjadinya ledakan di kawasan pelabuhan di Beirut, Ibu Kota Lebanon, Selasa (4/8/2020). Sebanyak 73 orang tewas dan ribuan lainnya dilaporkan terluka dari insiden dua ledakan besar yang mengguncang Beirut tersebut.
Foto: AFP/STR

Namun setelahnya, kapal MV Rhosus tidak pernah melanjutkan perjalanan. Para pelaut terjebak di kapal selama 11 bulan dengan sedikit persediaan pokok, menurut keterangan Kapten Prokoshev.

"Saya bersurat ke Putin setiap hari... Akhirnya, kami harus menjual bahan bakar dan menggunakan uang itu untuk menyewa pengacara, karena tidak ada bantuan."

"Pemilik kapal bahkan tidak memberi kami makanan atau air," ucap Prokoshev dalam wawancara dengan Echo Moscow pada Rabu (5/8/2020). Singkat cerita, para awak kapal akhirnya dapat turun ke daratan.

"Menurut informasi kami, Anak Buah Kapal (ABK) Rusia kemudian dipulangkan ke negaranya... upahnya tidak dibayar," terang serikat pekerja kapal itu kepada CNN.

"Saat itu di atas kapal kargo kering terdapat barang-barang yang sangat berbahaya - amonium nitrat yang tidak diizinkan otoritas pelabuhan Beirut untuk diturunkan atau dipindahkan ke kapal lain," tambah mereka.

Kemudian pada 2014 Mikhail Voytenko yang melacak aktivitas maritim, menggambarkan kapal itu sebagai "bom mengambang".

Peringatan yang dihiraukan

Menurut balasan surel dari Prokoshev dan pengacara Charbel Dagher yang berbasis di Beirut yang mewakili kru kapal di Lebanon, amonium nitrat sempat dibongkar di pelabuhan Beirut pada November 2014 dam disimpan di hanggar.

Zat itu disimpan di sana selama 6 tahun, meski sudah ada peringatan berulang kali dari Direktur Bea Cukai Lebanon, Badri Daher, tentang "bahaya besar" yang dapat ditimbulkan muatan tersebut.

Namun dokumen pengadilan publik yang didapat CNN melalui aktivis HAM terkemuka di Lebanon, Wadih Al Asmar, mengungkap bahwa Daher dan pendahulunya, Merhi, sudah beberapa kali meminta bantuan pengadilan Beirut untuk membantu menyingkirkan barang-barang berbahaya itu pada 2014 dan seterusnya.

"Dalam memo kami 19320/2014 tertanggal 12/5/2014 dan 5/6/2015 (...) kami meminta Anda memerintahkan Otoritas Pelabuhan untuk mengekspor kembali Amonium Nitrat yang diambil dari kapal Rhosus dan ditempatkan di Hanggar bea cukai nomor 12 di pelabuhan Beirut," tulis Daher pada 2017.

Menurut dokumen pengadilan, suatu ketika dia juga menawarkan penjualan kargo berbahaya itu ke tentara Lebanon, tapi upayanya gagal. Pada Rabu (5/8/2020) Daher mengonfirmasi ke CNN, kantornya sudah mengirim "total 6 surat ke otoritas hukum" tapi pihak berwenang tidak menggubrisnya.

"Otoritas Pelabuhan seharusnya tidak mengizinkan kapal menurunkan bahan kimia ke pelabuhan. Bahan kimia itu awalnya dikirm ke Mozambik, bukan Lebanon," katanya.

Di hari yang sama Direktur Jenderal Pelabuhan Beirut Hassan Kraytem berkata ke tv lokal OTV, "Kami menyimpan barang tersebut di gudang nomor 12 di pelabuhan Beirut sesuai dengan perintah pengadilan."

"Kami tahu itu bahan berbahaya, tapi tidak sampai sebesar ini (ledakannya)." Kraytem melanjutkan, persoalan untuk menyingkirkan bahan peledak ini sudah diwacanakan oleh Badan Keamanan dan Bea Cukai Negara, tapi tak kunjung "diselesaikan".

"Bea Cukai dan Keamanan Negara mengirim surat (ke pihak-pihak berwenang) meminta untuk memindahkan atau mengekspor kembali bahan peledak itu 6 tahun lalu, dan kami sejak itu menunggu penyelesaian masalah ini, tapi tak ada hasilnya," ujar Kraytem.

Kabarnya, ada pengelasan di pintu gudang beberapa jam sebelum ledakan terjadi.

"Kami diminta memperbaiki pintu gudang oleh Keamanan Negara, dan kami mengerjakannya siang hari, tetapi (penyebab) yang terjadi di sore harinya saya tak tahu kenapa."

Sumber: kompas.com

Editor: tom.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!