HETANEWS.COM

Korban Sistem 'Pengakuan Paksa' China Terbukti Tak Bersalah Usai 27 Tahun Bui

Sistem hukum China mencoba untuk mengurangi penggunaan metode pengakuan paksa. Foto: Getty Images

Jakarta, hetanews.com - Seorang pria di China bagian timur dinyatakan tidak bersalah atas dakwaan pembunuhan usai ia menghabiskan hidup selama 27 tahun di penjara. Zhang Yuhuan mengungkapkan bahwa ia disiksa oleh polisi dan dipaksa untuk mengakui pembunuhan terhadap dua anak laki-laki pada tahun 1993.

Zhang adalah tahanan terlama di China yang terbukti tidak bersalah setelah menjalani hukuman 9.778 hari di penjara di provinsi Jiangxi. Jaksa yang membuka kembali kasus itu mengatakan pengakuan Zhang Yuhuan tidak konsisten dan tidak sesuai dengan kejahatan aslinya.

Korban salah tangkap yang dipenjara 31 tahun dapat ganti rugi Rp13,5 miliar

Pengadilan sesat di Inggris dan AS: Kisah para korban salah tangkap

Kerusuhan 22 Mei: Kontras berencana tempuh praperadilan kasus dugaan polisi salah tangkap

Zhang dapat berjalan bebas setelah pengadilan tinggi tidak menemukan ada cukup bukti untuk menghukum Zhang.

Para pengamat mengatakan keputusan pengadilan tersebut menunjukkan bahwa China semakin terbuka dalam membatalkan hukuman yang salah, walaupun hanya terbatas untuk kriminal dan bukan kasus-kasus politik.

Sebuah video di media China menunjukkan sisi emosional ketika Zhang bertemu dengan ibunya yang berusia 83 tahun dan mantan istrinya saat ia keluar dari penjara pada hari Selasa lalu (04/08).

China menindak 'pengakuan paksa'

Sudah menjadi rahasia umum di China bahwa polisi menggunakan berbagai jenis penyiksaan, seperti membuat kurang tidur, membakar dan memukul. Tujuannya satu yaitu memaksa tersangka untuk mengaku melakukan kejahatan yang tidak dilakukan. Dan, di masa lalu, seluruh kasus kemudian disematkan pada metode "pengakuan" itu.

Pada 2010, upaya perbaikan serius dalam membasmi penggunaan pengakuan paksa mulai dilakukan guna membenahi sistem hukum di China.

Seperti hukuman mati, sekarang harus disetujui oleh Mahkamah Agung China dan kini telah muncul juga banyak tekanan agar kasus-kasus yang buktinya hanya berdasarkan pada pengakuan tersangka semata untuk dibatalkan.

Namun, proses reformasi hukum China memiliki batasan yang jelas. Polisi di banyak provinsi masih tetap di bawah tekanan berat untuk "menyelesaikan" kasus-kasus, yang seringkali "memaksakan" adanya tersangka.

Lalu, terlihat hanya ada sedikit keinginan dalam membenahi perlakuan hukum terhadap para etnis minoritas, seperti etnis Muslim Uighur. Pihak berwenang masih secara konsisten menahan orang-orang yang terlibat kasus-kasus sensitif di bidang politik dan menginterogasi mereka di luar sistem penahanan normal.

Di balik pintu tertutup itu, hampir semua hal bisa terjadi. Jauh lebih mungkin bagi China melakukan reformasi perlakuan terhadap para tersangka kriminal daripada perlakuan bagi mereka yang mengancam dominasi Partai Komunis.

Zhang dan mantan istrinya, Song Xiaonyu, memiliki dua putra sebelum mereka bercerai 11 tahun yang lalu. Song kemudian menikah lagi dan terus membantu mantan suaminya memperjuangkan keadilan.

"Saya sangat senang ketika mendengar pengumuman pengadilan," kata Song.

Zhang diberitahu oleh pengadilan bahwa ia berhak mendapatkan kompensasi atas tuduhan yang salah.

Unjuk rasa Hong Kong: Lima hal yang perlu Anda ketahui

Trump bertemu dengan tokoh Muslim Uighur dan Rohingya

China dibuat murka oleh langkah AS mengesahkan RUU Uighur

"Saya akan menegosiasikan jumlah kompensasi yang tepat dengan klien saya," kata pengacara Zhang, Wang Fei, kepada China Daily.

"Kami juga berencana untuk meminta mereka yang melakukan kesalahan dalam kasus ini agar bertanggung jawab."

Siksaan berat Zhang dimulai pada Oktober 1993 ketika jasad dua anak laki-laki ditemukan di sebuah waduk desa di Jinxian, sebuah wilayah di Nanchang, ibukota Jiangxi. Zhang adalah tetangga dari para korban yang kemudian ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan.

Pada Januari 1995, pengadilan di Nanchang menyatakan Zhang bersalah dan dijatuhi hukuman mati. Tetapi vonis tersebut dapat diubah menjadi hukuman penjara seumur hidup setelah dia menjalani dua tahun penjara.

Zhang mengatakan dia disiksa oleh polisi selama proses interogasi, karena terus mengungkapkan bahwa ia tidak bersalah.

Meskipun demikian, proses hukum bandingnya tidak berhasil. Kemudian, pada bulan Maret 2019 pengadilan tinggi setuju untuk membuka kembali kasus ini dan pada bulan Juli, jaksa provinsi merekomendasikan Zhang dibebaskan karena tidak didapati bukti yang memadai.

Dalam sebuah pernyataan, hakim pengadilan tinggi Tian Ganlin mengatakan: "Setelah kami meninjau materi yang kami temukan ternyata tidak ada bukti langsung yang dapat membuktikan Zhang bersalah. Jadi kami menerima saran jaksa penuntut yang telah menyatakan Zhang tidak bersalah." Pembunuh dua anak laki-laki pada tahun 1993 masih belum diketahui.

Sumber: bbc.com

Editor: tom.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!