HETANEWS.COM

Pesan Jubir COVID-19: Kematian Masih Tinggi hingga

KRL melintas di dekat mural bertema pencegahaan penyebaran virus Corona atau COVID-19 di Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

Jakarta, hetanews.com - Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Penanganan COVID-19 menyampaikan sejumlah perkembangan data terkait kondisi seluruh wilayah di Indonesia pada masa pandemi corona. Peningkatan kasus kematian hingga penambahan pasien sembuh dari virus corona, masih menjadi hal yang digarisbawahi.

=Polemik terkait benar tidaknya ramuan herbal yang disebut manjur untuk menangani pasien corona turut menjadi perhatian.

Berikut rangkuman singkat juru bicara pemerintah terkait penanganan COVID-19, Prof Wiku Adisasmito, terkait kondisi Indonesia selama masa pandemi.

  • =Kasus Positif Corona di Jawa Tengah Meningkat Drastis

Prof Wiku mengakui jumlah total pasien positif corona di Indonesia terus meningkat. Ia menyoroti Jawa Tengah, provinsi yang kini berada dalam peringkat ketiga kasus corona terbanyak.

Penderita positif corona di Jawa Tengah mencapai 9.659. Di atasnya, ada Jawa Timur dengan 22.324 kasus, lalu DKI 21.767 kasus. Sedangkan setelah Jateng, ada Sulsel dengan 9.662 kasus dan Jawa Barat dengan 6.584 kasus.

"Dulunya peringkat 4 jadi 3, perlu jadi perhatian masyarakat Jawa Tengah," ujar Wiku.

Agar kasus tidak terus bertambah, Wiku meminta Pemda setempat dan masyarakat dapat lebih waspada. Maksimalkan proses penanganan pasien sehingga tak ada lagi korban jiwa akibat virus ini.

"Apabila kita bisa melakukan penanganan kasus lebih baik, cepat, terutama pasien yang menderita comorbid atau lansia, harapannya yang meninggal bisa ditekan semakin rendah. Perlu jadi perhatian semua, Pemda, RS, Tenaga kesehatan dan masyarakat agar jangan terlambat menangani kasus COVID," ujarnya.

  • Prof Wiku Sebut Sumut hingga Papua, Provinsi dengan Kesembuhan Corona Rendah

Meski angka positif corona terus bertambah, Prof Wiku membeberkan bahwa masih terdapat Provinsi di Indonesia yang mencatat angka kesembuhan tertinggi. Provinsi Kalimantan Barat dan Sulawesi Tengah menjadi dua provinsi yang mencatat angka kesembuhan tertinggi.

"Angka kesembuhan, beberapa provinsi masih menduduki peringkat atas, salah satunya Kalbar dan Sulteng. Ini perlu dipertahankan, disusul provinsi lainnya agar angka kesembuhan meningkat." kata Wiku.

Meski rata-rata kesembuhan corona nasional mencapai 61.79 persen, Wiku menyebut masih terdapat beberapa wilayah dengan tingkat kesembuhan yang terbilang rendah.

"Rata-rata nasional 61,79 persen, dan daerah di bawah angka rata-rata nasional, seperti Maluku Utara, Aceh. Dan beberapa provinsi lainnya seperti Sumut dan Papua, mohon agar tingkat kesembuhan ditingkatkan," kata Wiku.

  • Tingkat Kematian Akibat Corona di Indonesia Masih di Atas Global

Tak hanya mencatatkan angka tertinggi dalam kesembuhan pasien corona, Indonesia juga mencatatkan tingkat kematian tertinggi di sejumlah wilayah. Provinsi Jawa Timur masih menjadi provinsi dengan tingkat kematian tertinggi di Indonesia, disusul DKI Jakarta, dan Jawa Tengah.

"Jatim menduduki peringkat pertama kasus positif, begitu juga kematian Jatim tempati peringkat pertama dengan 1719 kasus. Kedua, DKI 840, Jateng 637, Sulsel 321, dan Kalsel 295," ungkap Wiku.

Wiku meminta Pemda dapat menangani kasus corona dengan cepat, terutama penanganan bagi pasien yang menderita komorbid atau lansia.

"Perlu jadi perhatian semua, Pemda, RS, tenaga kesehatan dan masyarakat agar jangan terlambat menangani kasus COVID-19," jelas Wiku.

"Sampai saat ini per 3 Agustus 2020 adalah 4,68 persen dan di sini memang bukan kabar menggembirakan karena angka kematian masih di atas global 3,79 persen," sambungnya.

  • Kapan Rt Corona Tak Bisa Dijadikan Patokan Lagi?

Angka Reproduksi Efektif pada waktu tertentu atau Rt, masih menjadi tolok ukur satgas COVID-19 untuk membagi tiap wilayah menjadi zona-zona tertentu penyebaran corona. Meski begitu, Prof Wiku mengatakan, Rt tidak selamanya bisa dipakai sebagai patokan untuk menentukan zonasi di Indonesia.

"Dalam peta zonasi yang menggunakan estimasi Rt atau Reproduksi Efektif tidak bisa dipakai di Indonesia karena tidak sempurnanya data sampai saat ini. Rt baru bisa digunakan jika hasil pemeriksaan lab bisa dilaporkan dalam waktu 1x24 jam," beber Wiku.

Faktor keterlambatan data hingga perbedaan metode perhitungan di tiap daerah, jelas akan berpengaruh pada tingkat akurasi Rt itu sendiri. Alasan itu pula yang membuat Rt tidak bisa selamanya menjadi patokan untuk pembagian zonasi.

"Pencatatan data dan timbulnya gejala yang tidak terlaporkan, serta metode penghitungan yang berbeda-beda membuat Rt tidak bisa digunakan," ucapnya.

  • Obat Corona Hadi Pranoto Tidak Jelas Jenisnya

Prof Wiku angkat bicara soal polemik obat herbal antibodi COVID-19 racikan Hadi Pranoto. Obat antibodi yang diklaim mampu menyembuhkan pasien positif hanya dalam waktu 2-3 hari.

"Obat yang sedang ramai diperbincangkan sampai saat ini tidak jelas termasuk obat herbal, obat herbal terstandar atau fitofarmaka atau hanya sebuah jamu," kata Wiku.

"Obat itu sampai sekarang yang jelas bukan fitofarmaka karena tak terdaftar di pemerintah, bukan obat terstandar karena tidak ada di dalam daftarnya," tambahnya.

Menurut dia, sebelum obat dapat dilempar ke pasaran untuk dikonsumsi masyarakat luas, dibutuhkan proses penelitian panjang termasuk uji klinis dan sertifikasi obat.

"Bukan berarti bisa dilakukan oleh siapa pun tanpa prosedur tepat, tak bisa klaim obat itu obat COVID-19 tanpa diuji terlebih dahulu. Tanpa diuji klinis, obat belum terbukti apakah sembuhkan pasien atau tidak," jelas Wiku.

  • Satgas COVID-19 Ingatkan Figur Publik: Hati-hati Sampaikan Berita ke Masyarakat

Tidak hanya mengomentari polemik obat herbal racikan Hadi Pranoto, Prof Wiku turut menggarisbawahi sikap para publik figur. Dia mengingatkan para publik figur berhati-hati dalam menyampaikan informasi.

"Sekali lagi saya ingatkan, para peneliti dan figur publik untuk perlu hati-hati dalam menyampaikan berita kepada masyarakat. Jangan sampai masyarakat yang sedang panik mencari jalan keluar sehingga memahami sesuatu hal tidak dengan secara utuh dan benar," kata Wiku.

"Obat yang sedang ramai diperbincangkan sampai saat ini tidak jelas termasuk sebagai obat herbal, obat herbal terstandar atau fitofarmaka (obat tradisional yang telah terbukti keamanan secara ilmiah) atau hanya sebuah jamu. Obat itu sampai sekarang yang jelas bukan fitofarmaka karena tak terdaftar di pemerintah, bukan obat terstandar karena tak ada di dalam daftar," beber Wiku.

  • Prof Wiku: Jangan Tanya Kapan Pandemi Corona Berakhir, Tanya Kapan Bisa Disiplin

Prof Wiku meminta masyarakat fokus mematuhi protokol. Ia menilai, taatnya setiap warga dalam menjalankan protokol kesehatan, dapat mempengaruhi munculnya lonjakan kasus positif.

"Virus ini sangat berbahaya, dan sangat ganas. Untuk itu, kalau ada yang bertanya tentang kapan pandemi berakhir, lebih baik kita bertanya kapan diri kita bisa disiplin pakai masker, jaga jarak dan cuci tangan," ujar Wiku.

"Jangan tanyakan kapan pandemi akan berakhir, tapi tanyakan ke diri kita kapan bisa disiplin (protokol kesehatan)," sambungnya.

sumber: kumparan.com

Editor: sella.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!