HETANEWS.COM

Coreng Nama Baik Jurnalis, Jaksa Ancam Marshal  2,5 Tahun Penjara

Marshal mengikuti disidang online dan diancam 2,6 tahun penjara.

Sergai, hetanews.com - Mara Salem Harahap als Marshal (40), warga Siantar, akhirnya dituntut hukuman 2,5 tahun penjara dan Suwardi als Apeng (60), warga Dolok Batunanggar Simalungun, diancam 2 tahun penjara.

Keduanya terbukti melakukan pemerasan dengan pengancaman melanggar pasal  Pasal 368 ayat (1) KUH Pidana Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUH Pidana.

Menurut jaksa Erwin Ade Putra Silaban, bahwa hal yang memberatkan, kedua terdakwa tidak mengakui perbuatannya dan telah mencoreng nama baik profesi jurnalis.

Selain itu, Marshal merupakan residivis (sudah pernah dihukum). Tuntutan jaksa tersebut, dibacakan dalam persidangan online, di Pengadilan Negeri (PN) Sei Rampah, Kamis (30/7/2020).

Atas tuntutan jaksa tersebut, pengacara Zakaria Tambunan SH akan mengajukan nota pembelaan (pledoi), pada Senin (3/8/2020).

"Untuk pledoi sidang dilanjutkan 3 Agustus,"kata Tambunan ketika ditanya wartawan, sore tadi, di Pematangsiantar.

Marshal dan Apeng, terbukti melakukan pemerasan dengan pengancaman membuat berita yang menyudutkan perkebunan untuk meminta sejumlah uang. Dengan mengatakan “Saya Butuh Uang 15 Juta Karena Kami Baru Punya Kantor Baru, “kata Marshal. Kemudian terdakwa Suwardi als Apeng mengatakan “Dibantulah Lah Pak, Biar Kita Selesaikan Disini, Dan Ini Gak Akan Kemana Mana".

Karena Manager Perkebunan Gunung Para, Raden Wahyu Cahyadi, tidak punya uang, maka terbitlah pemberitaan di Media Online Laser News Today. Pemberitaan pertama hingga ke-3, diabaikan saksi, karena saksi korban tahu tujuannya adalah untuk meminta sejumlah uang.

Tapi karena merasa terganggu dengan pemberitaan dengan berbagai judul tersebut, maka Manager Gunung Para, berdiskusi dengan saksi, Seno Adji, selaku Manajer Kebun Gunung Pamela dan saksi, Ir. Charles Nic Sitorus, selaku Manajer Kebun Silau Dunia.

Dan permasalahan ini diserahkan kepada Ibnu Syahputra Sutomo, selaku APK kebun Gunung Pamela.

Hingga pada Senin, 27 April 2020, pukul 10.00 WIB, Marshal dan Apeng, datang ke kantor PTPN Gunung Pamela, mengendarai Mobil Datsun putih BK 1709 WF (dirampas untuk negara) dan bertemu dengan Ibnu Syahputra untuk meminta uang Rp.30 juta agar tidak diberitakan lagi.

Sebelumnya terdakwa Marshal mengatakan “Gimananha bang, sudah setengah bulan lebih uang yang ku minta enggak dikasihjuga, kami pun tidak maunya membuat berita buruk terus di PTPN III ini, maunya kan berita bagus biar sama sama enak jadinya.  Lalu saksi Ibnu Syahputra mengatakan "Ya udah bang,kalo sudah kami berikan uangnya janji Abang ya tidak akan membuat berita buruk lagi", katanya.

Dijawab Apeng “Kamipun Profesionalnya Bang, Kalo Udah Kami Terima Uangnya Dan Uang Bulanan Untuk Kami Yang Masing Masing Kebun Memberikan Uang Bulanan Sebesar Rp. 2.000.000,- Ga Akan Kami Naikkan Berita Buruknya Bang, “katanya.

Untuk pledoi, ketua majelis hakim, Rio Barten SH, menunda persidangan hingga Senin (3/8/2020) mendatang. Persidangan dibantu panitera, Budi SH.

Penulis: ay. Editor: gun.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!