HETANEWS.COM

Pangilan Tokek (6)- Birokrasi Kaku Warisan Kolonial

Ilustrasi : Birokrasi Kaku

Siantar , hetanews.com - Kisahnya dimulai ketika kali pertama dia mendarat di Jakarta pada 1963. Hari-hari pertamanya, dia disibukkan dengan urusan visa, mencari tempat tinggal, dan izin kerja. “Kita harus pergi dari kantor ke kantor, tanda tangan di sini, sidik jari di sana, dan banyak pasfoto ukuran paspor. Berurusan dengan birokrasi makan waktu lebih dari biasanya, di Jerman sekalipun,” kata Geerken.

Sayangnya, lanjut Geerken, orang Indonesia mempertahankan sistem birokrasi kaku  yang diperkenalkan Belanda ini. “Jika ingin mempercepat proses pengurusan visa, kita harus menaruh uang di dalam pasport di setiap meja. Jika tidak, kita akan dikembalikan ke meja pertama karena alasan tertentu.”

Baca juga: Panggilan Tokek (7)

Pengurusan visa dari kantor ke kantor ini membantu Geerken mengenal kota Jakarta dan lalulintasnya. Di Harmoni terdapat lampu lalulintas pertama dan satu-satunya di Indonesia. Ia menjadi proyek percontohan, namun para pengemudi mengabaikannya. Dengan berjalannya waktu, lampu lalulintas di pasang di mana-mana. Namun, Sudjono, sopir Geerken, tetap meneruskan kebiasaan lamanya. Ketika Geerken melarangnya menerobos lampu lalulintas, Sudjono menghindari semua lampu. Ketika ditanya kenapa memutar, Sudjono menjawab: “Di sini tidak ada lampu merah.”

“Tak seorang gubernur pun di Jakarta berhasil memaksa pengemudi berhenti pada saat lampu merah, walaupun kecelakaan serius jarang terjadi. Semua orang memasang mata lebar-lebar dan tidak ada yang memaksakan hak mereka atas jalan,” kata Geerken.

Editor: edo.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan