HETANEWS.COM

Pelaku Pembunuhan Pelajar yang Ditanam Dalam Posisi Duduk Diancam 18 Tahun Bui

Pelaku pembunuhan dikawal petugas, saat mendengarkan tuntutan 18 tahun penjara. (foto/ay)

Simalungun, hetanews.com - Masih segar dalam ingatan kita, penemuan sesosok mayat oleh salah seorang pengangon lembu, di areal kebun karet, beberapa waktu lalu. Mayat korban pembunuhan itu, ditemukan dalam poisisi duduk.

Pelakunya pun terungkap yaitu Riski Bambang Pramono yang akhinya divonis 9 tahun karena masih belum dewasa (17 tahun), disidangkan dalam sistem Peradilan Anak.

Dan pelaku lainnya, M Aldi (19), warga Bangun 17, Kecamatan Gunung Malela yang berprofesi sebagai tukang las, diancam 18 tahun penjara.

Ancaman hukuman jaksa Juna Karo-Karo itu, dibacakan dalam persidangan online PN Simalungun, Selasa (28/7/2020).

Terdakwa M Aldi, dipersalahkan jaksa dengan pasal 340 KUH Pidana, tentang perencanaan menghilangkan nyawa korban.

Menurut jaksa, terdakwa M Aldi dan Riski, telah melakukan pembunuhan terhadap korban Canda Prayoga (13) yang ditemukan sudah menjadi mayat, di kebun karet dalam posisi duduk. Pembunuhan itu, dilakukan RBP dan M Aldi, pada Sabtu, 4 April 2020, lalu.

Mayat korban ditemukan di areal kebun karet PTPN III Bangun, pada Rabu, 8 April 2020 lalu, oleh seorang penggembala sapi dan melaporkannya ke Polsek Bangun. Keduanya nekat menghabisi nyawa korban, demi mendapatkan sepeda motor dan handphone korban.

Terdakwa mau melakukan pembunuhan karena terdesak hutang untuk menebus sepeda motornya yang sempat digadaikan, seharga Rp.500 ribu.

Sebelum melakukan aksinya, terdakwa Aldi dan Riski, mengundang korban minum – minum, di rumah Aldi.

Pada tengah malam itu, Aldi mengajak korban dengan alasan menemui cewek.

Baca juga: Canda Prayoga Dibantai di Kebun Karet, Otak Pelaku Pembunuhan Dihukum 9 Tahun Penjara

Dan bersama Riski, mereka menuju kebun karet, di situlah korban dicekik hingga tewas. Para pelaku mengambil cangkul dan menggali tanah yang tak cukup dalam, lalu mengubur korbannya, dalam posisi jongkok, ditutup tanah dan dedaunan.             

Barang curian berupa HP, dijual kepada Khoirul Laksono als Kopral, di Bukit Maraja seharga Rp.850 ribu. Sedangkan sepeda motor korban, dijual para terdakwa, bersama Kopral ke Tebingtinggi.

Sepeda motor korban dijual seharga Rp.1.750.000 kepada Rudi dan uangnya Rp.500 ribu digunakan untuk menebus sepeda motor yang digadaikan. Sisanya dibagi dan digunakan untuk minum- minum, di Bukit Maraja.          

Didampingi pengacara Sintong Sihombing dari Posbakum PN Simalungun, terdakwa memohon kepada hakim, agar hukumannya diringankan.

Untuk pembacaan vonis hakim yang diketuai Hendrawan Nainggolan, ditunda hingga Selasa mendatang.

Penulis: ay. Editor: gun.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan