HETANEWS.COM

JAS MERAH-Kudatuli dan Pelajaran Realistas Kepartaian Hari ini

Foto : Dokumentasi peristiwa 27 Juli

Siantar, Hetanews.com - Masih ingat peristiwa 27 Juli 1996? Ini adalah peristiwa penyerbuan kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI), yang terletak di jalan Diponegoro kala itu..

Kejadian itu menandai upaya kasar rezim Orde Baru untuk menyingkirkan segala bentuk oposisi di dalam Partai politik. Saat itu, rezim Orde Baru menggunakan cara kekerasan, termasuk mengerahkan militer, untuk mempertahankan Ketua PDI lama, Suryadi, yang memang sangat loyal kepada rezim Orde Baru daripada Ketua PDI baru hasil kongres, Megawati Soekarnoputri yang didukung mayoritas akar rumput (grassroot).

Akar rumput inilah yang kemudian diperkenalkan oleh PDI Kubu Mega sebagai Wong Cilik.

Oleh sebab itu, perlawanan wong cilik yang menyertai peristiwa tersebut harus pula dimaknai sebagai perlawanan rakyat menentang segala upaya rezim berkuasa mengerdilkan partai politik.

Rakyat tidak menghendaki partai politik hanya menjadi boneka penguasa. sebaliknya, rakyat menginginkan partai berfungsi sebagai alat memperjuangkan aspirasi dan kehendak politik rakyat.

Baca juga: Kronologis 27 juli

Kini, setelah 24 tahun peristiwa itu berlalu, kita mengarungi kehidupan politik multi-partai.sejak pemilu 1999 sampai hari ini.  Namun, ada kekecawaan baru di bawah multi-partai itu. Sekalipun jumlah partai sudah banyak, tetapi proses edukasi politik rakyat justru sangat rendah.

Rakyat makin menyadari bahwa aspirasi dan kepentingan mereka gagal diperjuangkan oleh partai politik.

 Pertama, partai politik gagal memperjuangkan kepentingan rakyat melalui DPR. Banyak produk kebijakan DPR, terutama Undang-Undang dan politik anggaran (APBN), sangat tidak memihak rakyat.

Kedua, parpol acapkali absen memberikan pembelaan atau advokasi terhadap rakyat yang dirugikan oleh kebijakan pemerintah, seperti penggusuran, perampasan lahan, PHK, upah murah, dan lain-lain.

Ironi.saat jumlah partai sangat banyak, tetapi partai-partai justru semakin berjarak dengan massa-rakyat. Menjelang pemilu, partai-partai berlomba mendekati dan merayu rakyat. Namun, begitu ajang pemilu berlalu, partai-partai membangun tembok bernama elitisme, yang memisahkan partai dan rakyat banyak.

Deretan Replika Batu Nisan Di Kantor PDI jalan Diponegoro

Harapan rakyat, bahwa partai bisa menjadi alat perjuangan, juga semakin memudar seiring dengan maraknya korupsi dan perilaku tidak terpuji di kalangan kader partai.

Peristiwa 27 Juli 1996 seharusnya menjadi refleksi bagi parpol hari ini, bahwa rakyat membutuhkan parpol sebagai alat perjuangan, bukan sebagai alat elektoral semata.

Rakyat menghendaki partai yang selalu hadir di tengah-tengah rakyat, menyerap setiap aspirasi dan persoalan rakyat, dan selalu berdiri di pihak rakyat dalam langgam perjuangan politiknya.

Pilkada sudah didepan mata, masih ada waktu bagi partai untuk menaikkan kesadaran politik rakyat dengan beragam manifest programnya.

SUMBER: Detik.com , Kompas.com , Historiaonline , BerdikariOnline

Penulis: tim. Editor: edo.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!