Simalungun, hetanews.com - Indonesia dikenal dengan beragam makanan khasnya yang mengundang selera dan tak ketinggalan makanan yang terbuat dari bahan ubi yang satu ini yaitu getuk.

Getuk diketahui berasal dari Magelang, Jawa Tengah, namun bagi masyarakat Sumatera Utara, khususnya Siantar – Simalangun, getuk sudah tidak asing lagi.

Bahkan masyarakat Siantar, banyak menjadi pedagang getuk dan menjadi mata pencarian.

Seperti Jakimen (81), warga Rambung Merah, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun, dengan menggunakan sebuah sepeda ontel miliknya, dia keliling, menjual getuk hasil olahannya.

Kepada hetanews, Minggu (26/7/2020), di depan Korem 022/PT, Jalan Asahan, Jakimen mengaku, telah melakoni jualan getuk tersebut sejak tahun 1990, dan hingga sekarang.

Bahkan di usianya yang sudah cukup lanjut, dia tetap bersemangat  mencari nafkah dari jualan getuk tersebut.

"Saya sejak tahun 1990, sudah berjualan hingga sekarang. Saya keluar rumah untuk berjualan dari mulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB. Habis tidak habis, ya saya pulang. Namun syukurnya, jualan saya selalu habis," terangnya.

Saat ditanya, berapa penghasilan per harinya dari berjualan getuk tersebut? Pria tua dengan mengenakan topi berwarna hitam itu mengatakan, berkisar Rp.50 ribu hingga Rp.65 ribu per harinya.

"Kalau hari biasa, saya biasanya menghabiskan getuk sebanyak 400 biji dan penghasilan saya, hanya Rp.50 ribu, tapi jika hari libur (Minggu), saya dapat menghabiskan 500 getuk dan mendapatkan uang Rp.65 ribu," ungkapnya tersenyum.

Bahkan menurutnya, kalau dirinya tidak berjualan banyak orang yang mencari jajanan getuk buatannya. Karena dapat dikatakan, pelanggan Jakimen, sangatlah banyak dan selalu mencari getuk Jakimen.

Namun di balik itu semua, walaupun Jakimen merupakan penjual makanan legendaris, dirinya telah berhasil menamatkan anaknya dari Universitas dan kini semua anaknya telah berhasil.

Salah satunya anaknya yang berada di Bahjambi, sekarang anaknya tersebut telah menjadi karyawan di salah satu PTPN.

"Anak saya itu, dua berada di Kota Medan, 1 di Bahjambi, 1 di Dosin Tanah Jawah, dan yang saya tau, cuman 2 anak saya yang menjadi karyawan kebun, sedangkan yang di Kota Medan, saya tidak tau kerja apa," terangnya.

Selain itu, dirinya juga merindukan anak-anaknya yang jarang mengunjungi dirinya dan sang istri. Mereka dapat berkumpul, hanya pada bulan-bulan tertentu saja.

"Anak saya itu datang 3 bulan sekali untuk melihat saya dan istri saya. Karena mungkin mereka semua sibuk bekerja, hanya setiap lebaran saja mereka datang, dan nanti sebelum lebaran Idul Adha bulan ini, mereka akan datang menemui saya dan istri,"ujarnya.

Begitu pun, saya tetap semangat untuk menjual getuk karena saya tinggal hanya dengan istri saya saja, akhirnya sambil permisi kepada wartawan.