HETANEWS.COM

Psikolog Anak Ini Sebut Belajar Daring Tidak Efektif, Berikut Alasannya!

Dosni Arihta Saragih S.Psi.

Siantar, hetanews.com - Psikolog Anak, Dosni Arihta Saragih S.Psi mengatakan, dampak psikologis pada setiap anak berbeda sesuai dengan rentang usia.

Pada anak TK-SD, yang rentang usianya 2-7 tahun, masih berada pada masa pra-operasional, disini mereka mengenal sesuatu, lalu diproses dan disimpulkan lewat gambar dan kata.

“Jadi mereka dapat belajar sesuatu, melalui seluruh panca indra, lalu pengalaman kosakata, kognitif dan emosi mereka akan semakin berkembang,”kata perempuan yang sudah lebih 10 tahun menangani anak berkebutuhan khusus ini, Kamis (23/7/2020).

Disinggung soal metode (dalam jaringan) yang diterapkan pemerintah saat ini, Dosni menyampaikan, metode daring membuat pergerakan anak terbatas.

Anak harus menyimak layar dalam waktu lama (dimana kemampuan konsentrasi anak usia segitu, paling lama hanya 15 menit), anak tidak bisa berinteraksi karena guru mayoritas 1 arah (guru menjelaskan materi, anak mendengar), jelasnya. 

Ditambahkannya, dengan durasi tatap layar yang lama, satu arah, dan anak hanya duduk diam mendengarkan, metode itu sangat tidak efektif.

Kosakata anak masih terbatas, sehingga anak tidak bisa menyerap penjelasan materi yang disampaikan guru, jika hanya mendengar. Selain itu, metode daring kurang pengawasan sehingga anak tidak benar-benar mengikuti pelajaran dari awal sampai akhir. Kalau pun mereka duduk, informasi yg disampaikan tidak ada yang masuk (sangat minim), ungkapnya.

Disinggung soal efek anak karena adanya metode daring, Dosni kembali menjelaskan, anak - akan merasa bosan, jenuh, bingung, lalu tertekan karena diberikan tugas, sedangkan materi tidak paham.

“Lalu efek lanjutannya, karena tugas harus dikerjakan, orang tua menjelaskan ulang kepada anak-anak, namun karena anak tidak mengerti (karena keterbatasan kegiatan membuat anak tidak menyerap informasi dengan maksimal), orangtua pun menjadi emosi dan marah-orang saat mengajar,” ujarnya.

Menurutnya, tidak banyak orang tua yang sabar dalam mengajar, karena selain tidak semua punya skill menjelaskan dengan baik. Mereka juga punya pekerjaan yang lain yang harus dikerjakan, ujarnya.

“Itu sebabnya, pendidikan daring menurut saya sangat tidak efektif,”ungkapnya.

Jika dilihat sisi positifnya, mungkin lebih kepada keamanan karena anak tetap dirumah dan terhindar dari bullying atau diskriminasi atau kompetisi yang tidak sehat. Selain itu ada lebih banyak waktu bersama keluarga.

Tapi efek sosialnya yang negatif  juga ada, karena interaksi dengan teman sebaya jadi tidak ada, anak jadi tidak mampu mengembangkan kemampuan sosial yang sangat berpengaruh pada problem solving dan coping stress, sebutnya.

Efeknya, anak jadi mudah marah, tidak mampu mengendalikan diri dan mudah menyerah. Sangat berbeda jika belajar di sekolah, karena melatih team work, sharing, lebih termotivasi, dan reward yang lebih terasa valuenya karen bersama teman-teman.

Kalau bicara tentang metode daring untuk anak usia pra remaja 7-11 tahun, yang sudah memasuki usia operasional formal, mungkin mereka sudah lebih banyak menyerap Informasi/materi pelajaran, karena kemampuan konsentrasi dan kemampuan abstrak nya sudah lebih baik. Mereka bisa mengerti hanya dengan membayangkan.

Kalau anak usia 2-7 kemampuan abstrak ini belum mereka miliki, sehingga mereka harus melakukan aktivitas fisik dan real untuk dapat mengerti suatu konsep.

Meskipun usia pra remaja dan remaja lebih diuntungkan daripada metode daring kerena mereka diberi suguhan visual yang lebih private kerna one on one, namun efek psikologisnya tetap dirasakan oleh mereka, yakni dampak sosial yang saya jelaskan tadi, ucapnya.

Jika biasanya 30 menit dalam pengajian materi (penjelasan), maka dapat dipersingkat menjadi 20 menit, sisanya diberikan aktivitas yang bisa dikerjakan atau dipantau orangtua.

Keluhan orangtua biasanya sama, anak tidak mengerti penjelasan saat daring, jadi jam belajar saat daring lewat begitu saja. Orang tua jadi protes karena harus menjelaskan ulang atau tidak bisa menerangkan dengan baik sehingga anak menjadi tertekan, katanya.

Suasana belajar yang kurang kondusif seperti ini kurang maksimal untuk kemajuan pendidikan anak ke depan. Semoga guru bisa lebih banyak berkolaborasi dengan orangtua mengenai hal ini, supaya penjelasan materi dibuat lebih atraktif, dua arah dan lebih ringkas dalam penyampaiannya, saran Dosni Arihta Saragih.

Penulis: tim. Editor: gun.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan