HETANEWS.COM

Sambut Kebijakan "Belajar dari Rumah", Guru dan Psikolog Angkat Suara

Catatan Redaksi Hetanews

Siantar, hetanews.com - (21/07/2020) Sekitar 25 juta anak sekolah dasar di Indonesia kini belajar di bawah ancaman pandemi Covid-19. Seperti dilakukan oleh banyak negara, untuk mencegah penularan virus corona di sekolah.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan surat edaran bertanggal 24 Maret 2020 yang mengatur pelaksanaan pendidikan pada masa darurat penyebaran coronavirus). Kebijakan “Belajar dari Rumah” ini dirasa tepat untuk mencegah penyebaran COVID-19 di lingkungan sekolah.

Mari sisihkan sejenak seabrek kelemahan teknis dari kebijakan “Belajar dari Rumah” ini, mayoritas disebabkan ketimpangan pemerataan sarana prasarana penunjang seperti akses internet, ketiadaan alat (kalau tidak ingin disebut kekurangan), dan lain sebagainya.

Aspek psikologis peserta didik adalah titik tumpu yang acapkali abai untuk  dicermati. Pelaksanaan program belajar dari rumah yang sudah berlangsung cukup lama memberikan dampak tersendiri terhadap psikologis anak dan orang tua.

Menurut Gantini, psikolog, trainer, dan motivator dari Gant Smart di Bandung, perpindahan metode anak belajar dari rumah akan berefek pada anak dan ibu.

Foto Ilustrasi new normal sekolah dasar

“Anak yang sejak awal memang sudah akrab dengan medsos dan gadget mungkin akan fine-fine aja, tapi bagaimana dengan yang lain? Belum lagi si Ibu mungkin tidak pernah mengerti apa itu kurikulum pendidikan.”

Erni (32thn) , seorang tenaga pendidik lulusan salah satu universitas negeri di sumatera utara mengeluhkan efek psikologis yang akan diterima peserta didik jika nantinya kebijakan “Belajar dari rumah” ini diperpanjang.

“Kalau pembelajaran jarak jauh mau dipatenkan, mohon dipikirkan juga efek dominonya berupa tidak berkembangnya keenam aspek perkembangan anak secara normal. Misalnya aspek perkembangan sosial emosional, kognitif, bahasa, fisik motorik, dan lain sebagainya.”

Ditambahkannya juga, “Bagaimana anak bisa mengembangkan aspek aspek tersebut jika interaksi dengan lingkungannya minim. Mohon digarisbawahi kata lingkungannya, bukan lingkungan orangtuanya.”

 

Baca juga: Cara sekolah dasar di Swedia dan Finlandia menghadapi pandemi

Sumber: ayobandung.com

Editor: tom.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan