HETANEWS.COM

Di Tengah Latihan Perang Menghalau "Invasi China", Helikopter Taiwan Jatuh

Lima helikopter jenis AH1W melintas ketika digelar latihan perang Han Kuang, yang mensimulasikan invasi China di Taichung, Taiwan, pada 16 Juli 2020. Foto: REUTERS/ANN WANG

Taichung, hetanews.com - Sebuah helikopter Taiwan jatuh dan menewaskan dua pilot, di tengah latihan perang untuk menghalau "invasi yang dilakukan China". Agenda Kamis (16/7/2020) merupakan klimaks dari latihan selama lima hari, untuk mengetes sejauh apa Taipei bisa menangkal serangan dari tetangga raksasa mereka.

Saat ini, China masih menganggap Taiwan sebagai wilayahnya yang harus segera disatukan kembali, bahkan menggunakan kekerasan jika perlu.

Dalam latihan perang pamungkas, skenarionya adalah Taipei mencoba untuk menghalau militer Negeri "Panda" yang mencoba mendarat di pantai kota Taichung. Dilansir AFP, selain melibatkan 8.000 tentara, Taiwan juga mengerahkan jet tempur, kapal perang, hingga berbagai persenjataan darat.

Dalam keterangan militer, helikopter jenis Bell 0H-58D jatuh ketika hendak kembali ke pangkalan Hsinchu, membunuh baik pilot dan kopilot. Sejak dua wilayah terpisah buntut perang saudara yang terjadi pada 1949, Taipei masih terus menerima ancaman invasi dari Negeri "Panda".

Dalam beberapa dekade terakhir, Taipei terdesak dengan semakin masifnya pengembangan angkatan bersenjata Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA).

Beijing semakin meningkatkan tekanan diplomasi, militer, dan ekonomi setelah Presiden Tsai Ing-wen, yang tak mengakui prinsip "satu China", menjabat pada 2016.

Tsai kemudian terpilih pagi dalam pemilihan Januari lalu, yang dianggap sebagai sinyal perlawanan atas taktik tekanan yang dilakukan Beijing. Tahun lalu, Presiden Xi Jinping dalam pidatonya membahas tentang Taiwan, di mana dia menegaskan bahwa unifikasi akan segera datang.

"Saya kira tak terelakkan lagi momen bersatunya Republik Rakyat China akan melakukan penyatuan tanah air," ujar juru bicara kementerian luar negeri Hua Chunying. Dalam beberapa bulan terakhir, pesawat China makin berdesing semakin sering, membuat Taipei harus mengerahkan jet tempurnya.

Piranti keras terbaru

Tekanan yang dilakukan China diperparah semakin siaganya negara Barat untuk menjual persenjataannya ke Taipei, karena takut membuat marah Beijing. Karena itu, Taipei kemudian berusaha menyiasatinya dengan mengembangkan piranti keras, termasuk membangun kapal hingga jet latihan.

Taipei sudah menunjukkan sebagian alat utama sistem persenjataan karya anak bangsa dalam latihan tersebut, termasuk rudal hipersonik.

Meski begitu, semakin masifnya tekanan yang diberikan China, sejumlah negara kemudian memperkuat kerjasamanya dengan pemerintahan Tsai.

Di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, AS semakin sering menjual alat perangnya kepada Taipei, termasuk jet tempur F-16. Pada awal pekan ini, pemerintahan Presiden Xi mengancam bakal menjatuhkan sanksi kepada Lockheed Martin karena menjual sistem pertahanan Patriot. Perancis juga membuat marah Negeri

"Panda" dengan menyetujui penjualan sistem pencegat rudal kepada kapal fregat Taiwan, yang dibeli pada 1990-an. Selain itu, Washington masih menjadi sekutu tidak resmi untuk Taiwan meski mereka mengalihkan pengakuan kepada China pada 1979.

Sumber: kompas.com

Editor: tom.
Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!