HETANEWS.COM

Curhat Warga Tanjung Tongah Kepada Lurah, Kambing Untuk Kurban yang Sudah Dipanjar Hanyut Saat Banjir

Lurah Tanjung Tongah, Henri saat berinteraksi dengan warga yang kehilangan kambing akibat disapu banjir, beberapa hari lalu. (foto/leo)

Siantar, hetanews.com - Hujan deras yang melanda Kota Siantar, pada Sabtu (11/7/2020) sore lalu, menimbulkan kerugian yang cukup besar di kalangan warga.

Turunnya hujan berjam – jam lamanya, mengakibatkan banjir bandang hingga menghanyutkan perabot, barang berharga hingga ternak milik warga.

Seperti dialami Sabari (41) dan Sugianto (48), warga Kelurahan Tanjung Tongah, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Siantar yang kehilangan kambing dan ayam.

Kepada wartawan, Sabari menuturkan, dia kehilangan 24 ekor kambing saat banjir kemarin. Padahal, kambing itu  mau dijualnya dan bahkan 6 ekor diantaranya sudah dipanjar untuk momen kurban, pada akhir Juli mendatang.

"Yah, apalagi mau dibuat. Kehendak Yang Maha Kuasa. Kami gak sempat menyelamatkan kambing dan ayam, karena harus menyelamatkan anak dan istri," ujar Sabari, dengan mata sembab.

Tak pernah terpikirkan oleh Sabari, banjir bisa dengan cepat, menyapu rumah dan ternaknya. Ia mengaku belum pernah ada banjir separah ini, sejak 20 tahun terakhir.

Sabari juga bercerita, sudah tiga tahun belakangan, mencari peruntungan dengan jual beli kambing. Namun nasib berkata lain, kambingnya dan kambing yang sudah dipanjar orang tersapu air.

"Kalau nilai 6 ekor kambing itu kira-kira Rp 8 juta lah. Makanya kalau komplain, saya bilang belum bisa, kalau mengganti sekarang. Jangankan kambing kalian, kambing saya pun hanyut," cerita Sabari.

Selepas banjir bandang ini, Sabari mengaku hilang harapan untuk mencari kambingnya.

Sebab menurut warga lainnya, kambingnya terlihat sudah menjadi bangkai, di Jembatan Sigagak, yang jaraknya ratusan meter dari rumahnya.

Ia mengaku sudah ikhlas dengan apa yang menimpanya. Baginya, ini adalah peringatan dari Allah.

Sementara itu, Sugianto, mengaku kehilangan 6 ekor kambing yang ditaksir mencapai Rp 7 juta. Sugianto mengaku sudah mengikhlaskannya. Terpenting adalah keluarga masih utuh, ucapnya.

"Selain kambing, perabotan saya juga rusak semua. Syukur bisa lari ke tempat lebih tinggi, di kandang," ujar Sugianto, sembari memperlihatkan tangannya yang memutih, akibat berhari-hari mencuci pakaian dan perabot rumah tangga.

"Posisi kejadian saya di Masjid, air sudah di depan masjid, sudah sebetis dewasa. Ya gak terkendali lagi lah. Tinggal nyelamatkan. Elektronik pun rusak semua," tutupnya.

Lurah Tanjung Tongah, Henri Purba, mengaku, ini pengalaman terpahit bagi warganya. Lntaran, kambing warga tersebut, posisinya di persimpangan sungai, dan air cepat sekali naik, hingga menyapu rumah warga.

Bahkan, tembok penahanan yang dibangun BKSDA, setinggi 3 meter dengan panjang 375 meter, di bibir sungai, dilampaui banjir.

"Gak seperti biasa, berangsur - angsur naik. Kali ini temponya cepat. Warga tak sempat menyelamatkan barang-barang berharga," ujarnya.

"Untuk bantuan pangan sudah aman sejak hari Minggu sampai Kamis. Minggu, bantuan datang dari swadaya masyarakat. Kemudian dari Pemko, melalui BPBD, Senin sampai Kamis," ujarnya.

"Untuk rumah yang rusak parah, ada tiga. Dinding rumahnya jebol. Ada juga warung kopi yang hanyut," ujar Henri.

Penulis: tim. Editor: gun.
Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!