HETANEWS.COM

Gadis 16 Tahun asal Tapteng Jadi Korban Pencabulan Kekasih Semarga di Sibolga

Kasubbag Humas Polres Sibolga Iptu R Sormin saat ekspose pelaku pencabulan.

Sibolga, hetanews.com - Gadis 16 tahun asal Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara (Sumut) menjadi korban pencabulan kekasih yang masih satu marga. Dia berkenalan dengan pelaku melalui media sosial (medsos) pada Januari silam.

Korban kemudian melaporkan peristiwa kelam tersebut kepada orang tuanya. Mendengar pengakuan anaknya, orang tua korban berinisial MN (49) tak terima dan melaporkan hal tersebut ke Polres Sibolga.

Pengakuan korban, dia sempat tinggal serumah dengan mantan kekasihnya berinisial EMG (19) di Kelurahan Sibolga Ilir, Kecamatan Sibolga Utara, Kota Sibolga pada Januari 2020. Selama lima hari di sana, mereka sudah berhubungan intim layaknya suami istri.

Terlapor merayu korban dan berjanji akan pindah agama sesuai keyakinan kekasihnya tersebut. Namun setelah mencabuli korban, terlapor tak mau bertanggung jawab.

Setelah penyelidikan, akhirnya terlapor diamankan polisi ketika kembali pulang ke Sibolga pada awal Juli. Selama ini, terlapor melarikan diri ke Jakarta. Namun di Jakarta, dia tidak mendapatkan pekerjaan dan kembali ke Medan pada April 2020.

Selanjutnya terlapor tinggal di rumah saudaranya di Medan dan mendapat pekerjaan di salah satu perusahaan swasta. Namun karena ada pandemi Covid-19, dia kembali ke Sibolga dan langsung diamankan.

"Setelah menerima informasi terlapor kembali ke Sibolga, Kasat Reskrim Porles Sibolga AKP D Harahap memerintahkan unit opsnal (Buser Reskrim) untuk menangkapnya," ujar Kasubbag Humas Polres Sibolga Iptu R Sormin, Minggu (12/7/2020).

Kepada petugas, EWG mengakui perbuatannya telah mencabuli korban. Dia merayu korban akan bertanggung jawab dan bersedia pindah agama.

Kini EMG harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Polres Sibolga telah menetapkannya sebagai tersangka dan menahannya.

"Dia (EMG) diduga telah melakukan tindak pidana persetubuhan terhadap anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76D Jo pasal 81 ayat (2) Undang-Undang (UU) RI Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (PA) dengan ancaman hukuman minimal lima tahun dan paling tinggi 15 tahun atau denda Rp5 miliar," kata Sormin.

sumber: inews.id

Editor: sella.
Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!