HETANEWS.COM

Virus Corona Meroket, Akankah PSBB Transisi di Jakarta Berlanjut?

Sejumlah pengendara kendaraan bermotor mengalami kemacetan lalu lintas di Tol Dalam Kota dan Jalan MT Haryono, Pancoran, Jakarta, Senin (18/5).

Jakarta, hetanews.com - Jakarta harus lebih waspada. Pertumbuhan kasus positif virus corona terus meroket. Padahal, perpanjangan PSBB transisi akan berakhir pada 16 Juli 2020.

Lalu, akankah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kembali menerapkan kebijakan 'rem mendadak'? Atau kembali memperpanjang PSBB transisi?

Dilihat dari data di situ corona. jakarta.go.id, pada Minggu (12/7) pertumbuhan kasus positif virus corona di Jakarta mencapai 404 atau tertinggi selama penanganan pandemi.

Bila dilihat lebih dalam, spesimen yang diperiksa juga tergolong tidak banyak. Spesimen yang diperiksa hanya 4.522 sampel. Dari jumlah itu, 3.841 diperiksa untuk menegakkan kasus baru. Hasilnya 404 positif. Dari situ, terlihat positivity rate mencapai 10,5 persen.

Jakarta sudah berhasil mengendalikan virus corona dengan catatan rata-rata positivity rate di bawah 5 persen. Catatan positif itu bisa bertahan kurang lebih satu bulan lamanya.

Jakarta pernah mencatatkan angka positivity rate serupa. Itu terjadi pada 26 April 2020 atau awal penerapan PSBB ketat di Jakarta.

Saat itu, jumlah spesimen yang diperiksa 1.147 sampel. Dari jumlah itu, 717 sampel diperiksa untuk menentukan kasus baru. Hasilnya 86 orang positif dengan positivity rate 10,7.

Berikut data pemeriksaan spesimen virus corona di Jakarta 2 minggu terakhir:

Virus Corona Meroket, Akankah PSBB Transisi di Jakarta Berlanjut? (3)
Pemeriksaan tes spesimen virus corona di Jakarta pada 12 Juli. Foto: Pemprov DKI

28 Juni 2020

Spesimen: 3.482

Pemeriksaan kasus baru: 2.434

Positif: 95

Positivity rate: 3,9%

29 Juni 2020

Spesimen: 2.058

Pemeriksaan kasus baru:4.598

Positif: 198

Positivity rate: 4,3%

30 Juni 2020

Spesimen: 2.009

Pemeriksaan kasus baru: 4.618

Positif: 204

Positivity rate: 4,4%

1 Juli 2020

Spesimen: 6.558

Pemeriksaan kasus baru: 4.257

Positif: 198

Positivity rate: 4,7%

2 Juli 2020

Spesimen: 6.432

Pemeriksaan kasus baru: 4.255

Positif: 144

Positivity rate: 3,4%

3 Juli 2020

Spesimen: 8.638

Pemeriksaan kasus baru: 5.955

Positif: 215

Positivity rate: 3,6%

4 Juli 2020

Spesimen: 6.261

Pemeriksaan kasus baru: 4.305

Positif: 256

Positivity rate: 5,9%

5 Juli 2020

Spesimen: 4.525

Pemeriksaan kasus baru: 3.092

Positif: 231

Positivity rate: 7,5%

6 Juli 2020

Spesimen: 5.551

Pemeriksaan kasus baru: 4.441

Positif: 199

Positivity rate: 4,5%

7 Juli 2020

Spesimen: 6.842

Pemeriksaan kasus baru: 5.473

Positif: 308

Positivity rate: 5,6%

8 Juli 2020

Spesimen: 9.266

Pemeriksaan kasus baru: 6.486

Positif: 293

Positivity rate: 4,5%

9 Juli 2020

Spesimen: 8.565

Pemeriksaan kasus baru: 6.423

Positif: 236

Positivity rate: 3,7%

10 Juli 2020

Spesimen: 8.231

Pemeriksaan kasus baru: 6.584

Positif: 359

Positivity rate: 5,5%

11 Juli 2020

Spesimen: 4.522

Pemeriksaan kasus baru: 3.841

Positif: 404

Positivity rate: 10,5%

  • Tak Ingin 'Rem Mendadak' PSBB Transisi Dipakai

Melihat data ini, Anies kembali mengingatkan warga bahwa virus corona masih ada. Dia juga meminta warga untuk lebih disiplin pakai masker, cuci tangan, dan menjaga jarak.

"Khusus hari ini Jakarta mengalami lonjakan kasus tertinggi. Saya ingatkan kepada semua, jangan sampai situasi ini jalan terus sehingga kita harus menarik rem darurat atau emergency break," kata Anies di Balai Kota DKI Jakarta, Minggu (12/7).

Di sisi lain, Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta dari fraksi PDIP Gilbert Simanjuntak, menilai untuk mengembalikan Jakarta kembali ke PSBB ketat dirasa kurang tepat. Saat ini, Jakarta butuh pergerakan ekonomi.

"Kondisi saat ini kita belum mencapai yang dibutuhkan untuk APBD. Kemarin kan mengalami kontraksi sampai kemudian 53% kan jadi kurang dari setengah dari anggaran yang mungkin tercapai dari paparannya Sekda. Sekarang mau cari darimana dengan kondisi sekarang karena ekonomi juga belum pulih," kata Gilbert.

Sebagai gantinya, kata Gilbert, Anies harus meningkatkan pengawasan terhadap warga. Anies dinilai harus meningkatkan pengawasan yang selama 2 minggu belakangan mulai longgar.

"Kenapa bisa meledak sekarang artinya dari dua minggu yang lalu udah enggak ada pengawasan. Kalau ada pengawasan dari dua minggu yang lalu juga ya enggak mungkin begini, minim ya bukan enggak ada, yah lemah gitu," kata Gilbert kepada wartawan, Senin (13/7).

ADVERTISEMENT

Editor: sella.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!