HETANEWS.COM

Bangsa Eropa Bukan yang Pertama Datang di Benua Amerika, Ini Buktinya

Benua Amerika. Foto: World Atlas

Hetanews.com - Selama ini, sejarah mengungkapkan bangsa Eropa yang pertama kalinya datang ke Benua Amerika. Ternyata bukti baru dari para ilmuwan menunjukkan fakta yang tidak demikian. Sebab, mereka telah menemukan adanya perjalanan epik pada zaman dulu, yakni antara benua Amerika dan kawasan timur Kepulauan Polinesia di Samudera Pasifik.

Dikutip dari BBC Indonesia, Minggu (12/7/2020), berdasarkan analisis DNA menunjukkan ada percampuran antara penduduk asli Amerika dan penduduk Polinesia di sekitar tahun 1200 Masehi.

Luasnya potensi kontak antarkawasan regional itu menguatkan pendapat bahwa wilayah tersebut telah diperebutkan selama beberapa dekade.

Penjelajah asal Norwegia, Thor Heyerdahl, pada 1947 melakukan penjelajahan dengan menggunakan rakit dari Amerika Selatan menuju Polinesia. Penjelajahan itu dilakukannya untuk memperlihatkan perjalanan yang mungkin menghubungkan dua wilayah itu.

Hingga saat ini, para pendukung teori adanya interaksi antara penduduk asli Amerika dan Polinesia meyakini hal itu beralasan, sebab ada kesamaan beberapa elemen budaya.

Hokulea, sebuah replika modern dari jenis kapal berkulit ganda yang membawa orang-orang ke Polinesia Timur, melakukan tes berlayar sebelum perjalanan dari Hawaii ke Tahiti.
Foto: Cristina Mittemeier/National Geographic Creative

Faktor lainnya, yakni adanya penggunaan kata-kata yang sama untuk menyebut jenis tanaman tertentu. Ilmuwan mengatakan hal ini mengisyaratkan kedua populasi telah berbaur sebelum orang-orang Eropa menetap di Amerika Selatan.

Kendati demikian, teori ini juga ditentang oleh beberapa pihak dan memperlihatkan hasil studi yang menunjukkan alasan berbeda.

Bukti potongan DNA

Alexander Ioannidis dari Universitas Stanford di California, Amerika Serikat, dan peneliti dari sejumlah negara telah menganalisis data genetika dari lebih 800 penduduk asli yang tinggal di pesisir Amerika Selatan dan Polinesia Perancis.

Para peneliti ini mencari potongan-potongan DNA yang merupakan karakteristik dari setiap populasi dan segmen yang identik dengan keturunan, yang mana mereka mewarisinya dari leluhur mereka dari beberapa generasi lalu.

"Kami menemukan beberapa segmen keturunan penduduk asli Amerika yang identik dengan sejumlah penduduk di Kepulauan Polinesia," kata Ioannidis.

Patung Moai, patung khas penduduk Polinesia yang ikonik di Pulau Paskah.
Foto: SHUTTERSTOCK/NYCKellyWilliams

Menurut dia, itu adalah bukti konklusif bahwa ada sebuah peristiwa kontak bersama. Dengan kata lain, penduduk asli Amerika dan Polinesia bertemu pada satu titik dalam sejarah, dan selama itulah keturunan mereka lahir.

Berdasarkan analisis statistik telah mengkonfirmasi bahwa peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1200 masehi, saat kepulauan Pasifik awalnya dihuni oleh orang-orang Polinesia. Ioannidis menduga, kontak pertama kali dilakukan para navigator Polinesia yang mencapai Amerika Selatan.

"Sebab, waktunya tepat saat orang-orang Polinesia memulai perjalanan selama penjelajahan terlama dan tidak lama setelah mereka menemukan Pulau Paskah, yang sangat terpencil, dan kemudian mereka menetap di Selandia Baru dan Hawaii," jelas Ioannidis.

Simulasi angin dan penjelajahan orang Polinesia

Ioannidis menjelaskan penduduk Polinesia berlayar melawan angin, ketika mereka mencoba menemukan pulau-pulau baru. Seperti yang diungkapkan para antropolog, saat tidak menemukan sebuah pulau dalam perjalanan itu, maka mereka dapat bisa kembali ke rumah.

"Sehingga, mereka bisa pulang dengan cepat. Mereka berlayar sejauh 1.000 kilometer di lautan terbuka," jelas Ioannidis.

Tim peneliti juga mampu melokalisasi sumber DNA penduduk asli Amerika dengan masyarakat di Kolombia. Dalam penelitian sebelumnya pada genom dari masyarakat dari kawasan ini hanya fokus pada kontak di Pulau Paskah, yang cukup ikonik dengan deretan patung-patung wajah batu raksasa.

Sebab, itu merupakan pulau Polinesia yang paling berpenghuni dan terdekat dengan wilayah Amerika Selatan. Namun, penelitian dalam jurnal Nature mendukung gagasan, kontak pertama terjadi di salah satu kepulauan di Polinesia timur, seperti yang diungkapkan Heyerdahl.

Peneliti menjelaskan angin dan simulasi saat ini menunjukkan bahwa perjalanan diawali dari Ekuador, dan Kolombia adalah yang paling mungkin mencapai Polinesia. Kemungkinan penduduk Polinesia tiba di Kepulauan Marquesas di wilayah selatan dan diikuti di Kepulauan Tuamotu.

Di jantung wilayah dua kepulauan ini, peneliti menemukan komponen genetik leluhur dari penduduk asli Amerika Kolombia. Sebelumnya, para peneliti telah mencatat kesamaan parsial antara patung monolitik di Polinesia dan temuan serupa di Amerika Selatan.

Akan tetapi bukti lainnya terkuak dari persamaan kata untuk ubi jalar (tanaman yang berasal dari Amerika Selatan), yang disebut "kumala" di Polinesia dan "cumal" pada bahasa yang digunakan masyarakat Canari di Ekuador.

Sumber: kompas.com

Editor: tom.
Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!