HETANEWS.COM

Rendang dan Ramsay: Bukan Sekedar Belajar Memasak

Ilustrasi rendang daging sapi khas Minang, dimasak sampai berwarna kehitaman. Foto: SHUTTERSTOCK/MUGIKUN19

Hetanews.com - Rendang! Dalam keseharian kita boleh jadi tidak ada yang istimewa dari makanan ini. Rendang hanya salah satu pilihan lauk makan siang atau malam. Walaupun berasal dari Sumatera Barat, rendang dengan mudah didapatkan di hampir setiap sudut negeri.

Mulai dari warung pinggir jalan, restoran Padang atau versi fushion-nya di restoran-restoran kekinian. Rendang sudah menjadi sesuatu yang generik di dunia kuliner Indonesia. Sesuatu yang rutin, tidak ada yang harus dibahas secara khusus dari sepiring nasi dengan lauk rendang.

Bahwa rendang itu lezat luar biasa kita semua setuju, namun hanya sampai itu apresiasi kita terhadap rendang. Tak kurang tak lebih. Kita bahkan tidak terlalu bergeming pada saat stasiun televisi CNN menasbihkan rendang sebagai makanan terlezat di dunia pada tahun 2017.

Itu sudah sebuah kelumrahan. Pun seperti tidak tercubit pada saat Malaysia pernah ‘mengklaim’ kalau rendang berasal dari negeri jiran ini. Ah, mereka hanya ‘mengklaim’ masakan kita, bukan salah satu dari wilayah territorial kita, mungkin itu pikir sebagian dari kita.

Sampai akhirnya sebuah program tayangan televisi National Geography (NatGeo) yang mulai membuka mata kita tentang arti lain sebuah rendang. Rasanya belum ada acara tentang kuliner yang sangat ditunggu-tunggu seperti tayangan ini.

Adalah Gordon Ramsay, si ahli masak kondang yang menjadi bintangnya, dan lakonnya adalah menelusuri sudut-sudut ranah Minang sekaligus menjajal kepiawaiannya memasak berbagai ikon kuliner Minang seperti rendang.

Seribu cerita

Kita sebatas tahu bahwa rendang adalah masakan yang proses pembuatannya cukup rumit sehingga cita rasa yang dihasilkan sangat unik namun universal, sehingga dapat diterima lidah hampir semua orang di seluruh dunia.

Pembahasan tentang rendang biasanya seputar rendang mana yang paling enak, berbagai ragam masakan rendang seperti rendang ayam, rendang telur. Hanya sebatas itu, rendang sebagai masakan.

Namun tayangan NatGeo kali ini merubah pandangan kita terhadap rendang. Ada cerita yang lebih besar dan dalam tentang sepiring rendang. Dalam acara ini rendang tidak diangkat dan dibahas hanya sebatas wujudnya sebagai masakan, namun rendang disajikan dalam konteks budaya.

Dalam konteks itulah rendang tiba-tiba jadi dapat berbicara dan bertutur tentang beribu kisah. Rendang berbicara tentang pentingnya proses dalam mendapatkan hasil terbaik. Bahwa untuk menghasilkan karya unggul setiap tahapan menjadi penting.

Mulai dari tahap mencari bahan baku, mengolahnya dan bahkan menghidangkan dan cara menyantapnya pun menjadi bagian dari rangkaian tersebut. Daging sapi seperti apa yang paling tepat, cabai jenis apa bahkan sampai dari daerah mana cabai itu berasal merupakan key success factors.

Bahkan jenis batu untuk menggerus semua bumbu itupun menjadi krusial, karena tekstur bumbu hasil gerusan juga menjadi kunci dari kualitas rendang yang dihasilkan. TIdak ada blender secanggih apapun yang dapat menggantikannya. Rendang juga bertutur tentang bagaimana interaksi budaya dan lingkungan.

Feature tentang Ramsay menjajal tradisi Pacu Jawi (balapan sapi jantan) menggambarkan bagaimana budaya Minang menempatkan sapi dan kerbau bukan saja sebagai objek yang melulu dieksploitasi namun juga mitra dalam menjalani hidup seperti misalnya untuk membajak sawah dan membantu perniagaan sebagai penggerak pedati.

Lebih dalam lagi Pacu Jawi adalah perayaan sebuah rasa syukur. Sebuah tradisi untuk mengungkapkan rasa syukur setelah masa panen atas berkah dan rejeki yang sudah dilimpahkan. Inilah Thanksgiving ala Minangkabau! Meriah dan penuh arti.

Nilai luhur

Rendang juga berkisah tentang nilai-nilai luhur lokal. Budaya memasak di kalangan masyarakat Minangkabau mungkin sama dengan budaya membatik di Jawa.

Delapan jam yang diperlukan untuk memasak rendang menyiratkan bahwa nilai-nilai persistensi, dan konsistensi sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Minangkabau.

Proses delapan 8 jam pembuatan rendang seperti hendak mengatakan bahwa budaya bukan sesuatu yang hanya diwariskan oleh para orang tua dan leluhur kita (nature), namun juga harus dijalankan, dilakoni, ditelateni, dirawat (nurture) dan pada akhirnya dijadikan acuan sebuah tatanan hidup.

Merawat dan mewariskan budaya tidak cukup hanya memperkenalkan masakannya saja namun semua proses yang terjadi di belakangnya.

Rendang juga berbicara tentang keterbukaan. Masyarakat Minangkabau sejak lama telah ‘memberikan’ rendang kepada dunia. Rendang sudah diapresiasi para pecinta kuliner di negara-negara lain.

Pakar kuliner William Wongso menjadi mentor masak rendang koki kenamaan dunia Gordon Ramsay.
Foto: Dok. National Geographic

Tidak ada resep rahasia yang ditutupi. Mereka tidak melarang apalagi mengharamkan jika rendang dimodifikasi menjadi berbagai ragam kuliner turunannya seperti misalnya burger rendang.

Rendang tidak pernah disakralkan. Sejak dahulu masyarakat Minangkabau adalah masyarakat perantau. Jadi mereka paham betul tentang bagaimana rasanya menjadi pendatang di negeri orang, bagaimana penerimaan dari tuan rumah menjadi penting.

Karenanya, budaya Minangkabau sangat menjunjung tinggi keterbukaan dan sangat mudah berbaur dengan budaya lain. Lihatlah bagaimana Ramsay disambut dengan sangat terhormat di sana. Keterbukaan 'is their middle name!'

Karenanya adalah sebuah keabsurdan jika ada yang menuduh masyarakat Minangkabau adalah masyarakat tertutup.

Spoke person

Khasanah kuliner adalah salah satu cermin dari budaya. Bagi orang Minang rendang sudah seperti tarikan napas, selalu menjadi bagian dari keseharian dimanapun mereka berada.

Ramsay bahkan mengekpresikan kekagumannya terhadap ‘loyalitas’ orang Minang terhadap rendang pada saat seorang nelayan menawarkan rendang kepadanya , bukan ikan, sebagai menu makan siangnya padahal saat itu mereka sedang memancing di laut lepas.

Rendang adalah spoke person yang paling relevan bagi Sumatera Barat dan juga Indonesia. Rendang membawa pesan tentang nilai-nilai dan kearifan lokal yang terkandung di dalam masyarakat. Rendang menunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang berbudaya dan menjunjung tinggi adat.

Resep Rendang.
Foto: KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo

Tradisi makan bersama Bajamba dengan warna warni khas Minang: merah, kuning, hitam menegaskan tentang bagaimana bangsa ini merayakan budaya dengan megah dan festive dan menempatkannya di tempat terhormat.

Bahkan cara menghidangkan dan menyantap makanan juga menjadi bagian penting dan menyiratkan nilai -nilai kekeluargaan, kesantunan, dan kebersamaan yang dijunjung tinggi Rendang juga berbicara tentang betapa Indonesia adalah negeri yang sangat diberkati dengan alam yang dapat menghasilkan berbagai bumbu masakan dan ragam cita rasa masakan yang bisa jadi terkaya di dunia.

Dan tentunya juga manusianya memiliki budaya luhur dan ketrampilan luar biasa. Tayangan berdurasi selama kurang lebih 30 menit ini pada akhinya bukan lah sekedar tontonan tentang pelajaran memasak rendang.

Tayangan itu lebih bercerita tentang keagungan rendang sebagai master piece sebuah peradaban. Tentang sebuah budaya dan nilai luhur sebuah bangsa.

Bukan proses kognitif

Pendidikan tentang budaya tidak dapat dipelajari secara kognitif. Seorang anak SD dapat menghafal untuk kemudian menyebutkan di luar kepala tanpa kesalahan berbagai nama tari-tarian dari seluruh daerah di Indonesia atau nama-nama berbagai kain tradisional.

Namun apakah itu berarti dia sudah mengenal dan memahami budaya? Budaya tidak dapat dipelajari secara kognitif. Mempelajari dan memahami budaya harus mengaktifan tombol rasa, tombol afektif.

Budaya harus diletakkan dalam sebuah konteks agar dapat dimengerti dan dipahami. Laksana kita berkaca dan mematut diri, tidak ada jawaban absolut: jelita kah kita, rupawan kah kita?

Budaya adalah cermin besar. Cermin besar yang dipakai seluruh nagari dimana semua dun sanak berkaca Cermin budaya dan adat bukan cermin intelektual. Karenanya keduanya tidak dapat dipertentangkan dan diperbandingkan.

Cermin budaya bukan cermin kebenaran. Tapi sebuah cermin kepatutan. Cermin yang dipakai seluruh nagari yang merefleksikan jati diri kita, identitas kita! Cermin yang setiap hari harus kita bersihkan, dan kilapkan agar gambar diri kita tetap ‘kinclong’ , tidak lekas pudar dan tergerus zaman.  

Sumber: kompas.com

Editor: tom.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!