HETANEWS.COM

Cerita Maria Pauline Lumowa: Mengembara ke Israel, Menyelam ke Laut Dalam

Maria Pauline Lumowa saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, 9 Juli 2020.

Israel, hetanews.com - Maria Pauline Lumowa jelas bukan orang biasa. Kejahatan kerah putih yang ia lakukan dalam membobol BNI hanya satu dari sekian bagian hidupnya yang tersebar di berbagai negara: dari Belanda, Indonesia, sampai Israel.

Sebagian kisah hidupnya itu ia buka sewaktu bertemu Rustika Herlambang ketika itu wartawan Media Indonesia—pada pertengahan Desember 2003. Mereka berbincang putus-sambung selama beberapa hari di sejumlah lokasi di kawasan Scotts Road, Singapura.

Desember itu, Maria Lumowa sudah berstatus buron. Saat Mabes Polri menetapkannya sebagai tersangka kasus pembobolan BNI Rp 1,7 triliun pada September 2003, ia tak ada di Indonesia dan tak pernah kembali sebelum akhirnya 17 tahun kemudian diekstradisi dari Serbia.

Maria Lumowa punya rasa percaya diri tinggi. Dari Singapura, menjelang akhir 2003 itu, ia bersedia diwawancara oleh sejumlah jurnalis Indonesia secara bergantian, di antaranya dari Kompas, Media Indonesia, RCTI, dan Lativi.

Percakapan Maria dengan para wartawan yang tak melulu soal kasusnya kebanyakan berlangsung panjang. Tak terkecuali dengan Rustika Herlambang.

Baca juga: Buronan Maria Pauline Lumowa Ditangkap Interpol Serbia 16 Juli 2019

Rustika, yang kini Direktur Komunikasi Indonesia Indicator, mengizinkan kumparan untuk menceritakan ulang sebagian wawancara itu—yang telah ia unggah pula di blognya lima tahun setelah bertemu Maria Lumowa.

Ketika Maria Lumowa bertemu Rustika, ia berusia 45 tahun dan telah ditetapkan sebagai buron. Perempuan kelahiran Sulawesi 27 Juli 1958 itu telah tiga kali menikah, dan ketiga pernikahannya sudah berakhir. Ia memiliki dua anak—satu di Belanda, satu di Jakarta.

Suami pertama Maria adalah pria kelahiran Indonesia yang berkewarganegaraan Belanda—dan karena perkawinan ini pula Maria menjadi warga negara Belanda.

Suami keduanya, Jeffrey Baso, ialah orang Indonesia. Seperti Maria, ia terlibat kasus pembobolan BNI. Sementara suami ketiga ialah seorang warga negara Amerika.

Maria—yang kerap disapa Erry—tumbuh di Jakarta meski lahir di Sulawesi. Ia menyebut dirinya tomboi, suka memanjat-manjat, dan hobi mendaki gunung.

Pada usia 14 tahun, Erry pergi ke Belanda. Dua tahun kemudian, ia sempat disusul orang tuanya untuk diajak pulang, namun ia tak mau. Ia ingin bersekolah di Belanda sambil mengambil kursus sebagai penyelam laser di laut.

Dari kursus itu, ujar Erry, ia memperoleh sertifikat sebagai penyelam laut dalam sehingga sering dikirim bertugas untuk menyelam ke berbagai negara.

Sekali pergi, ia biasa menyelam dua kali selama dua jam. Untuk satu jamnya, ia mengantongi seribu gulden (sekitar Rp 7 juta lebih).

“Saat itulah saya mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya,” kata Erry kepada Tika—sapaan Rustika—tentang pekerjaan pertamanya sebagai penyelam laser.

Namun, ia kemudian berhenti menyelam karena pernah terancam bahaya. Gara-garanya, kata dia, terjadi gempa bumi saat ia sedang menyelam. Ia lalu tersangkut pada pipa-pipa di laut. “Saya hampir mati,” katanya.

Pensiun sebagai penyelam, Erry terbang ke Israel. Menurutnya, ia pergi ke Israel sebagai rasa syukur pada Tuhan karena bisa sembuh dari leukemia.

Erry cukup lama berdiam dan bekerja di Israel. “Di sana (Yerusalem) ada Masjid Al-Aqsa—simbol kebersamaan dan kedamaian,” ujarnya kepada Rustika tentang tempat suci tiga agama itu.

“Israel adalah salah satu tempat yang berkesan buat saya,” kata dia, mengaku merasa betah di negara itu.

Kata “Israel” sempat muncul dalam kasus pembobolan BNI. Salah seorang tersangka yang telah divonis, mantan Dirut PT Brocolin International Dicky Iskandar Dinata, mengatakan bahwa duit US$ 100 juta yang dikelola perusahaannya berasal dari investor Israel.

Saham PT Brocolin International dipegang oleh Maria Pauline Lumowa, Jeffrey Baso, dan Adrian Herling Waworuntu tiga orang yang juga jadi pemilik PT Gramarindo Group, perusahaan yang memperoleh pinjaman dana Rp 1,7 triliun dari BNI.

Belakangan dalam persidangan terungkap bahwa dana US$ 100 juta yang mengalir ke Brocolin bukan berasal dari investor Israel. Duit itu adalah hasil membobol BNI dari L/C fiktif Gramarindo yang mengalir ke perusahaan-perusahaan Maria Lumowa, yakni PT Gramarindo Group, PT Sagared Team, PT Magna Graha Agung, PT Bhinekatama, dan PT Aditya Putra Pratama Finance.

Itu sebabnya Dicky Iskandar Dinata selaku Dirut PT Brocolin International dituduh melakukan pencucian uang dan divonis 20 tahun penjara pada Juni 2006. Ia meninggal pada November 2015.

Setelah agak lama tinggal di Israel, Maria Lumowa mulai bertualang lagi. Ia berpindah-pindah tempat, bekerja dari satu negara ke negara lain, berbisnis apa pun yang bisa mendatangkan uang untuk mewujudkan cita-citanya keliling dunia.

Kalau Erry ingin pindah ke negara lain, ia akan menghubungi salah satu kenalannya di negara tersebut, lalu mempelajari sejumlah peluang bisnis di negara itu. Misalnya, saat ia ingin tinggal di Athena, Yunani, ia menjajaki apa yang mungkin ia lakukan di kota itu, dan akhirnya memilih berbisnis mebel.

Dengan cara itu, menurut Erry, ia telah pergi ke banyak negara.

Saya punya satu tas besar yang sudah 15 tahun saya pakai. Orang-orang menyebutnya ‘tas dokter’.

 Maria Lumowa ketika berbincang dengan Rustika Herlambang

Di akhir 1970-an atau awal 1980-an, Erry menikah dengan suami pertamanya, namun tak lama.

Tahun 1990, Erry menikah lagi dan pulang ke Indonesia. Suami keduanya, Jeffrey Baso, adalah pengusaha Indonesia yang menurut Erry sering bepergian ke Rusia untuk urusan bisnis. Tapi baru setahun, Jeffrey menikah dengan perempuan lain.

Erry dan Jeffrey lalu berpisah. Bertahun-tahun kemudian, Erry mengajak mantan suaminya itu bergabung dengan bisnisnya. Pada titik inilah, ujar seseorang yang mengaku mengenal Erry, petaka bermula. Jeffrey dan Erry terlibat kejahatan perbankan besar.

Dalam kasus pembobolan BNI yang menggemparkan itu, Jeffrey Baso divonis 7 tahun penjara pada Oktober 2006.

Kepada para wartawan Indonesia yang bertemu dengannya secara bergantian pada Desember 2003, Maria Lumowa mengatakan mau saja diperiksa penyidik Polri asal lokasi pemeriksaannya di Singapura, bukan Indonesia.

“Saya nggak punya harapan lagi di sini. Saya mau kembali ke Belanda secepatnya. There’s no hope. I give up,” kata Erry kepada Rustika, 18 Desember 2003.

Empat hari kemudian, 22 Desember 2003, Interpol mengeluarkan red notice terhadap Maria Pauline Lumowa. Tapi Maria—atau Erry—tak mudah ditangkap.

Dua kali pemerintah Indonesia mengajukan ekstradisi atasnya kepada Belanda 2010 dan 2014 dan selalu gagal. Situasi jadi sulit karena Maria berkewarganegaraan Belanda, dan Belanda tak punya perjanjian ekstradisi dengan Indonesia.

“Tersangka adalah warga negara Belanda dan kami tidak bisa mengekstradisi warga negara Belanda kecuali terdapat perjanjian yang memungkinkan proses hukum berlangsung di negara mana pun tersangka berada. … Kami juga bisa mempertimbangkan kemungkinan dakwaan diambil alih oleh jaksa penuntut Belanda,” kata Ernst Hirsch Balinn, Menteri Kehakiman Belanda 2006-2014, kepada Renne Kawilarang dari VIVA.co.id, 27 Februari 2009.

Ketika itu, Balinn sedang berkunjung ke Jakarta untuk meningkatkan kerja sama Belanda-Indonesia di bidang hukum. Kepada pemerintah Indonesia, ia memberikan jawaban serupa: Maria Lumowa bisa disidangkan di Belanda.

Maria Lumowa mungkin tak bakal kembali selamanya ke Indonesia andai ia tak menginjakkan kaki di Serbia. 16 Juli 2019, ia ditangkap otoritas Serbia ketika mendarat di Bandara Nikola Tesla, Beograd. Ia ditahan karena namanya masuk red notice Interpol.

Serbia kemudian menghubungi Indonesia, dan sejak itulah berlangsung lobi panjang antara Indonesia dan Serbia. Maria, lewat pengacaranya, terus berupaya agar tak diekstradisi ke Indonesia—tanah kelahirannya.

Hampir setahun sejak penangkapannya di Serbia, pemerintah RI akhirnya bisa mengekstradisinya. Kini, Maria Pauline Lumowa harus bersiap diadili di Indonesia.

“Hukum akan memperlakukannya dengan baik ... Ibu Pauline mengatakan punya kuasa hukum dari Kedubes Belanda karena beliau sekarang warga Belanda,” kata Menko Polhukam Mahfud MD dalam konferensi pers di Bandara Soekarno-Hatta sesaat usai Maria—yang dijemput Menkumham Yasonna Laoly mendarat di Tangerang, Kamis pagi (9/7).

Sementara Kedutaan Besar Kerajaan Belanda di Jakarta dalam keterangan tertulisnya kepada kumparan, Jumat malam (10/7), “mengkonfirmasi bahwa seorang warga negara Belanda telah ditahan dan dibawa ke Indonesia.”

Juru Bicara Kedutaan Belanda menyatakan, “Proses itu adalah urusan bilateral antara Serbia dan Indonesia. Sebagai warga negara Belanda, ia dapat menerima bantuan konsuler secara penuh dari Kedutaan Besar Belanda. Kedutaan tidak memberikan bantuan hukum, yang memang merupakan aturan standar kami.”

sumber: kumparan.com

Editor: sella.
Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!