HETANEWS.COM

Jokowi Sentil Menteri karena Leha-leha

Tangkapan layar pidato Jokowi di depan menterinya beberapa waktu lalu. Foto: Asia Today

Hetanews.com - Presiden  Joko Widodo kesal lagi dibuat menteri-menterinya. Jokowi sentil menteri dengan keras,  beserta anak-anak buahnya. Dikhususkan buat menteri yang Work from Home (WFH) atau kerja dari rumah selama tiga bulan terakhir justru seperti menjalani cuti.

"Saya minta kita miliki sense of crisis yang sama. Jangan sampai tiga bulan lalu kita sampaikan kerja dari rumah, work from home, yang saya lihat ini kayak cuti malahan," ujar Jokowi saat rapat terbatas soal serapan anggaran 7 Juli lalu yang videonya diunggah ke YouTube Sekretariat Presiden pada Rabu (8/7).

Justru menurut Jokowi menteri-menteri bukan justru makin santai saat pandemi. Para menteri harus bekerja lebih keras. Ia meminta jajarannya tak bekerja biasa-biasa saja agar persoalan Covid-19 dapat segera diatasi.

Jokowi, meminta para menteri juga bekerja cepat dalam memutuskan suatu kebijakan. Ia mencontohkan penyusunan Peraturan Menteri (Permen) maupun Peraturan Pemerintah (PP) yang dapat disingkat.

"Membuat Permen yang biasanya dua minggu ya sehari selesai. Membuat PP yang biasanya sebulan ya dua hari selesai. Itu loh yang saya inginkan," tutur Jokowi.

Sebelumnya Presiden Joko Widodo juga menyentil menteri-menteri soal belanja produk luar negeri. Kepala Negara memerintahkanMenteri Pertahanan, Prabowo Subianto, memanfaatkan produk Badan Usaha Milik Negara (BUMN), seperti PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad, dan PT PAL.

Beli produk dalam negeri. Saya kira Pak Menhan juga lebih tahu mengenai ini," kata Jokowi dalam video rapat terbatas.

Hal yang sama juga disampaikan kepada Kementerian Kesehatan. Kepala Negara memerintahkan Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto, menggunakan produk dalam negeri. Seperti obat, alat pelindung diri (APD), hingga alat tes polymerase chain reaction (PCR).

Jokowi menyebut Indonesia sudah bisa memproduksi keperluan-keperluan itu. Sehingga tak perlu membeli dari luar negeri.

"Apalagi hanya masker, banyak kita produksinya. APD, 17 juta produksi kita per bulan. Padahal kita pakainya hanya 4-5 juta," ucap Jokowi.

Selain itu, dia juga menyinggung belanja Polri ke luar negeri. Jokowi memerintahkan Korps Bhayangkara berbelanja produk dalam negeri untuk membantu menggerakkan perekonomian Indonesia. "Saya kira belanja-belanja yang dulu belanja ke luar, rem dulu," kata dia.

 Pada rapat terbatas itu, Jokowi mengundang kementerian dan lembaga yang memiliki anggaran besar. Seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Sosial, Kementerian Pertahanan, Polri, Kementerian Perhubungan, Kementerian Pariwisata, dan Kementerian Kesehatan.

Partai Kebangkitan Bangsa menilai teguran itu seperti 'pecutan' bagi para menteri agar bekerja lebih giat. Jokowi dianggap cerdas mengambil keputusan disaat kondisi seperti ini.

"Hemat saya, itu cara cerdas Pak Jokowi mengambil gaya kepemimpinan saat krisis, memberikan motivasi kerja bagi para menteri dan pejabat pemerintah lainnya.

Pak Jokowi bawa 'pecutan', agar waspada dan semangat bekerja, yang kurang giat dipecut, dimarahi," kata Wakil Ketua Umum PKB Jazilul Fawaid kepada wartawan, Kamis (9/7/2020).

Menurut Jazilul, meskipun bekerja dari rumah, para menteri tetap dituntut untuk bekerja dengan cara tidak biasa. Jika tidak, 'pecutan' Jokowi akan menanti.

"Ketika WFH para menteri dituntut tetap bekerja dengan manajemen krisis, extraordinary dan kreatif, kalau tidak, ya 'dipecut' atau dimarahi Pak Jokowi," ujarnya.

Jazilul menilai Jokowi selama ini sudah menegur para menteri dengan cara yang halus. Namun, karena dianggap kurang efektif, menurutnya, Jokowi mengubah teguran dengan marah-marah setelah 3 bulan berjalan.

"Saya pikir sudah berkali-kali Presiden mengingatkan dalam tiap kesempatan, dengan cara yang halus. Setelah 3 bulan dianggap kurang efektif, maka Pak Jokowi mengubah gaya menegurnya dengan marah-marah. Marah itu bagian dari rasa sayang Presiden pada aparat dan rakyatnya, khawatir Indonesia krisis berkepanjangan," ujar Jazilul.

Jazilul pun mengaku salut dengan gaya kepemimpinan Jokowi di masa krisis. Wakil Ketua MPR itu menilai Jokowi tengah menjalankan kontrol ketat di pemerintahannya.

“Kami hormat dan salut pada Presiden Jokowi yang melakukan kontrol ketat, detail, bahkan marah-marah sebagai upaya keras pemerintah menghadapi krisis. Presiden tidak dilarang marah untuk perbaikan," ungkapnya.

Teguran keras sebelumnya juga sempat disampaikan Jokowi kepada jajarannya dalam sidang kabinet 18 Juni lalu. Saat itu, Jokowi mengungkapkan kemarahan pada menterinya karena penanganan Covid-19 dinilai belum maksimal.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) melontarkan ancaman akan mencopot para menteri yang tidak bekerja cepat dalam menghadapi situasi krisis saat ini.

Menurut Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko, peringatan Presiden kepada para menterinya ini bukan yang pertama kali. Reshuflle Juli 2020 mungkin bisa saja terjadi

Moeldoko menyebut, Jokowi sudah berkali-kali ‘menyentil’ para menterinya agar bekerja cepat dan lebih dari biasanya untuk menangani pandemi Covid-19. Sebab, Presiden khawatir para pembantunya justru menganggap situasi saat ini sudah kembali normal.

“Untuk itu diingatkan, ini peringatan kesekian kali. Peringatannya adalah ini situasi krisis yang perlu ditangani secara luar biasa,” kata Moeldoko.

Menurut Moeldoko, Presiden Jokowi sudah sejak lama menekankan agar jajarannya bekerja lebih keras dan mampu mengambil langkah yang efektif, efisien, serta tepat sasaran.

Namun, kata dia, meskipun peringatan ini sudah disampaikan berulang kali oleh Jokowi, kerja para menteri di lapangan masih dinilai tak sesuai harapan.

Dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara pada Kamis (18/6), Presiden terlihat kecewa karena jajarannya tak bisa bekerja dengan ritme extraordinary dalam penanganan Covid-19.

Suasana sidang kabinet yang berlangsung tertutup dan tidak bisa diliput media itu baru diketahui publik setelah pada Ahad (28/6) pihak Sekretariat Presiden mengunggah video sambutan Presiden Jokowi tersebut.

Dalam pidatonya, Jokowi terlihat jengkel dan marah. Padahal, menurutnya, diperlukan sebuah ritme kerja yang di atas normal dan kebijakan yang ‘tak normal’ sebagai respons terhadap krisis kesehatan dan ekonomi yang terjadi.

Presiden juga tampak kesal karena sejumlah kementerian terlihat lambat dalam melakukan belanja anggaran. Padahal, anggaran penanganan Covid-19 sudah disiapkan dengan nilai triliunan.

Anggaran kesehatan, misalnya, Jokowi menyebut, sudah disiapkan Rp 75 triliun. Dari angka tersebut, baru 1,35 persen yang sudah terserap.

“Hanya gara-gara urusan peraturan, urusan peraturan. Ini extraordinary. Saya harus ngomong apa adanya, enggak ada progres yang signifikan. Langkah apa pun yang extraordinary akan saya lakukan.

Bisa saja, membubarkan lembaga. Bisa saja reshuffle. Udah kepikiran ke mana-mana saya,” ujar Presiden. Semoga presiden dan jajarannya tetap kompak, biar gak sentil-sentilan lagi. Tapi gak apa-apa Pak presiden, hajar terus menteri yang nakal dan gak disiplin.

Sumber: opini.id

Editor: tom.
Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!