HETANEWS.COM

Ikan Kaleng dan Pendidikan Kita

Ilustrasi kolom tentang perguruan tinggi. Foto: Edi Wahyono/detikcom

Jakarta, hetanews.com - Seorang sarjana ikatan dinas yang ditugaskan mengajar di sebuah pelosok negeri didatangi salah satu wali murid yang membawa ikan kaleng ke kelasnya.

Pada hari sebelumnya, wali murid yang menjadi nelayan itu terkaget ketika belanja ke salah satu swalayan di kota menemukan bahwa ikan kaleng yang isinya hanya dua-tiga ikan kecil, tetapi harganya sama dengan satu kilogram ikan mentah.

Sang wali murid pun tertarik dengan ikan kaleng itu, lalu menanyakan kepada guru itu, apa bisa mengajarkan anak-anak mereka cara membuatnya. Tentu saja guru muda itu terperangah; di sekolah tidak ada yang bisa mengajarkan itu, dan memang bukan itu yang akan diajarkan.

Wali murid yang kecewa pun berpikir, untuk apa mengirim anak-anak mereka ikut belajar kalau tidak bisa diajarkan membuat itu di saat tangkapan mereka sedang naik deras?

Cerita tersebut disajikan dalam cerpen berjudul Ikan Kaleng karya Eko Triono (Kompas, 2010). Sebuah kritik atas kurikulum pendidikan kita.

Pendidikan bisa mengeluarkan satu keluarga dari kemiskinan, begitulah kira-kira persepsi yang banyak berkembang di masyarakat kita ketika ingin menyekolahkan anak atau anggota keluarganya sampai ke jenjang tertinggi menurut mereka. Tepatkah persepsi itu

Analoginya mungkin tidak semudah bayangan masyarakat kita bahwa anggota keluarga yang mereka sekolahkan nantinya bisa memperbaiki taraf hidup keluarga mereka, minimal bisa mempertahankan apa yang mereka miliki saat itu.

Persepsi tentang sekolah atau pendidikan sebagai wadah untuk menggembleng individu agar nantinya bisa berkontribusi untuk keluarga merupakan harapan yang wajar ketika masyarakat menyekolahkan anaknya.

Hal ini sah-sah saja jika memang sekolah bisa berkait langsung dengan dunia kerja yang diharapkan masyarakat. Tetapi fungsi pendidikan semestinya tidak perlu dikerdilkan hanya sebatas untuk mendapatkan pekerjaan, yang dengan itu bisa berkontribusi atas kelangsungan hidup suatu keluarga.

Belum lagi pendidikan yang dijadikan hanya sebagai tameng gengsi bagi banyak kalangan tanpa pernah menaruh peduli apa tujuan pendidikan itu sebenarnya dijalani.

Kisruh PPDB

Setiap kali Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) selalu saja kisruh zonasi ataupun orangtua yang anaknya tidak kebagian kursi di sekolah favorit, menghiasi tahun ajaran baru.

Tidak sedikit orangtua yang mengejar sekolah favorit semata-mata mengejar gengsi, di samping harapan anaknya bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik.

Tetapi kisruh yang muncul itu menyiratkan bahwa para orangtua bisa dikatakan belum memahami esensi dari pendidikan itu sendiri. Sekolah favorit yang menjadi serbuan para orangtua tentunya juga merasa bangga ketika institusi mereka dianggap lebih mapan dari yang lain.

Inilah yang menyebabkan sekolah hanya dijadikan sebagai bungkus atas gengsi-gengsi yang dikukuhkan. Masyarakat pun turut mengamini itu dengan berlomba-lomba berebut kursi agar anaknya bisa masuk di institusi pendidikan itu.

Apakah institusi itu yang membentuk karakter dan kompetensi individu, ataukah karena memang hasrat dari individu itu sendiri yang ingin memupuk dahaga keingintahuannya (curiousity)?

Institusi bisa kita sebut sebagai wadah, menyediakan fasilitas, sementara individu itu sendiri sebagai wadah-wadah kecil yang harus mereka isi sendiri dengan pengetahuan-pengetahuan yang tidak semua disajikan di institusi.

Mereka juga harus mencari sendiri sumber yang lain sebagai tambahan dan variasi isi wadahnya. Tetapi saat ini para orang ua lebih fokus pada wadah besar/institusi daripada menyiapkan wadahnya sendiri supaya bisa menampung lebih baik, bahkan lebih banyak sebagai bekal individu.

Institusi pun berlomba-lomba menyajikan tawaran-tawaran yang menggiurkan supaya lebih banyak lagi individu-individu bisa mereka jaring dan menjadi sapi perah institusi. Termasuk di sini sekolah-sekolah mahal.

Orangtua dengan kapital ekonomi yang mapan tentu akan berlomba-lomba untuk berebut di sekolah mahal itu. Sebaliknya, para orangtua yang kapital ekonominya merunduk, sekolah gratis tentunya sudah cukup membahagiakan ketika anaknya bisa masuk untuk mendapatkan pendidikan.

Sekolah-sekolah gratis ini semestinya menjadi fokus bersama bagaimana memapankan proses pendidikan di dalamnya, sehingga tidak ada lagi stigma sekolah gratis hanya sekadar sekolah, mengisi rutinitas anak.

Upaya itu tentu saja bukan sekadar memapankan pendapatan para pendidiknya, tetapi dari awal menjadi proyek besar untuk menanamkan pemahaman kepada peserta didik tujuan atas pendidikan itu.

Ketika peserta didik hanya sekadar dimasukkan untuk sekolah, tentunya itu akan menjadi wadah yang retak, ringkih, tak cukup baik untuk menampung isi bagaimanapun besar sumbernya.

Dari awal memasuki masa didikan, peserta didik harus diberikan kesempatan menikmati kebebasan atas keingintahuannya atas apa yang menjadi minatnya dari awal. Itu menjadi pemetaan untuk mengarahkan bakat mereka sehingga tidak dibebani dengan hal-hal lainnya yang tidak menjadi minatnya, tetapi terstandar dalam kurikulum yang harus mereka ikuti.

Pembebanan seperti itu sudah saatnya dievaluasi. Penyesuaian minat individu untuk mengisi wadahnya dengan apa, itu juga menjadi fokus pembenahan dalam sistem pendidikan nasional.

Melalui itu, tidak ada lagi peserta didik yang suka pelajaran yang satu, tetapi tidak suka yang lain, dan menjadi beban juga bagi pendidik. Tetapi bagaimana menyiapkan bidang-bidang yang menjadi minat peserta didik, lalu disediakan kaitan-kaitan yang mendukung minat itu.

Pendidikan yang Semestinya

Konsep pendidikan untuk keadilan, menjadi pribadi yang merdeka, yang kritis atas ketimpangan, itulah pendidikan yang semestinya.

Tidak cukup hanya menjadikan pendidikan sebagai topeng untuk meraih gengsi, tetapi bagaimana menjadikan itu sebagai kesempatan untuk mengubah pola pikir atas realitas yang dihadapi dan terkadang semu penuh kepalsuan.

Kesadaran kritis atas pendidikan yang bermartabat tidak sekadar menjadi pengangguk ataupun pengantuk ketika mengikuti kelas, alih-alih menjadikan individu sebagai pengubah keadaan keluarga.

Pendidikan itu memupuk kehausan dahaga atas keingintahuan yang muncul dari rasa penasaran atas hal-hal yang menjadi minat individu, meski tidak semua bisa didapatkan di dalam kelas.

Setidaknya keingintahuan yang dipupuk itu bisa menjadi pemicu untuk terus merasa bodoh di dalam pendidikan hingga sekolah pun tak lagi bisa membodohi individu-individu itu.

Jika pendidikan hanya menjadi arena untuk mencari gengsi, genaplah yang dinyatakan Pierre Bourdieu bahwa sekolah adalah salah satu penyumbang munculnya kelas-kelas sosial.

Pun jika pendidikan hanya sekadar memenuhi kebutuhan pekerja industri, kenapa bukan industri itu sendiri yang membuka pelatihan untuk pekerjanya agar lebih tepat sasaran?

Dalam pendidikan itu ada sesuatu yang kompleks sebagai wujud memerdekakan individu, membentuk humanisme universal, yang berpijak pada keadilan dan spirit membela kemanusiaan di atas segalanya.

Pendidikan yang menjadi basis perlawanan terhadap ketimpangan dan ketidakadilan adalah arena merebut kembali apa yang selama ini hilang dalam konteks kehidupan kita.

Bahkan ketimpangan struktural ataupun kultural yang selama ini dilanggengkan sistem yang tidak berpihak kepada rakyat kecil semestinya menjadi medan perjuangan untuk membuktikan pendidikan itu terpatri dalam sanubari.

Ungkapan bahwa pendidikan menjadi pencipta kelas sosial baru sudah semestinya diejawantahkan dengan kerja-kerja nyata intelektual yang berpihak pada kebenaran, bukan pada kesempatan.

Melalui pendidikan itu bisa tercipta intelektual kolektif (Bourdieu, 1989) yang menjadi garda terdepan membela kepentingan publik yang selama ini dimonopoli elit-elit kuasa demi kepentingan pribadi ataupun kelompoknya.

Begitu juga ungkapan yang muncul bahwa orang sekolah menjual tanah ke investor untuk sekolah, lalu melamar kerja; sementara orang tak sekolah menolak menjual tanah.

Ketika wabah datang, orang sekolah di-PHK, sementara orang tak sekolah tetap tenang mengolah tanah. Pendidikan tidak mesti digeneralisasi seperti itu; di sinilah fungsi pendidikan yang memupuk nalar kritis.

Apakah seorang terdidik akan pasrah di bawah modal yang ingin menguasai sumber daya secara privat, ataukah ia mencoba keluar dari kungkungan itu dan berdiri di atas kaki sendiri, melawan, menjadi pionir di masyarakat untuk bersama berdaulat di tanah sendiri.

Kesetaraan

Tentu saja pendidikan juga tidak melulu tentang perlawanan, tetapi juga melembutkan jiwa dan membentuk akal budi yang santun, mendukung kesetaraan.

Seorang terdidik tidak perlu menuntut privilese di masyarakat hanya karena pernah duduk di bangku sekolah. Tetapi kesetaraan itu menjadi kekuatan bersama untuk terwujudnya keterikatan dalam masyarakatnya.

Jika selama ini pendidikan hanya menjadi rutinitas yang menjemukan individu, maka tak ubahnya pendidikan di masa wabah ini lebih menjemukan lagi dengan konsep swa-ajar di rumah sendiri.

Pendidikan model konvensional (kelas ceramah) tak lagi menjadi ideal di tengah wabah Covid-19. Mengakuri teknologi pembelajaran dalam bentuk digital adalah keniscayaan yang tak terhindarkan, jika masih mempercayai pendidikan adalah sebuah kebutuhan yang vital dalam kehidupan.

Para guru, orangtua, dan murid menjadi satu tim yang padu untuk mendukung pembelajaran melalui digital ini bisa menjadi solusi di tengah wabah, bukan sekadar memenuhi keterisian kurikulum yang telah distandardisasi.

Peserta didik yang belajar bukan sekadar memenuhi tuntutan guru untuk sebuah penilaian, tetapi lebih terfokus pada minat apa yang ingin dipahami oleh peserta didik.

Begitu juga orangtua bukan hanya sebagai pengawas belajar anak, tetapi terus mencoba memahami ke mana minat anak itu akan berkembang untuk dibebaskan memilih apa yang ingin dia pelajari.

Di sinilah perlunya sinergi semua pihak, terutama negara, untuk menjamin bahwa pendidikan itu terlaksana bukan sekadar memenuhi kebutuhan pasar, ataupun yang menjadikan pendidikan itu sebagai pasar meraup profit dalam sistem kapitalisme berkedok mencerdaskan anak bangsa, membentuk pribadi bertakwa, menjadi pemimpin masa depan, dan entah semboyan-semboyan menarik lainnya.

Ibarat itu menjadi jualan masing-masing lembaga, dan tak sepenuhnya berorientasi pada tujuan pendidikan yang memerdekakan itu sendiri. Kita telah lama terjebak dalam bingkai-bingkai utopis iklan pendidikan bernuansa serba super.

Termasuk super prestise, super intelektual, sampai super mahal yang di baliknya menjanjikan ketersediaan langsung akses dunia kerja. Tetapi tidak semua sadar bahwa pendidikan itu tidak sekadar memenuhi hasrat itu semua.

Pendidikan itu memupuk nurani kita untuk selalu berpihak dalam kebenaran, moralitas yang bermuara pada integritas, serta dedikasi untuk membuktikan pendidikan itu sebagai suatu yang berjejaring dalam mencerdaskan bangsa.

Sumber: detik.com

Editor: tom.
Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!