HETANEWS.COM

Sebelum Tewas, George Floyd Sempat Diminta "Berhenti Berteriak" oleh Derek Chauvin

Tangkapan layar yang menampilkan wajah Derek Chauvin saat menginjak leher George Floyd dengan lututnya, pada Rabu (27/5/2020) di Minneapolis, Amerika Serikat. Chauvin dikenal sebagai polisi bermasalah, yang sudah 10 kali menjadi subyek pengaduan. Foto: DAVID HIMBERT/HANS LUCAS via REUTERS

MInneapolis, hetanews.com - Sebuah fakta baru menunjukkan sebelum tewas, George Floyd sempat diminta " berhenti berteriak" oleh pelaku utama, Derek Chauvin.

Pria kulit hitam tak bersenjata itu sempat meneriakkan nama mendiang ibu dan anaknya, serta mengklaim polisi akan membunuhnya dalam insiden 25 Mei lalu di Minneapolis.

Fakta itu tersaji berdsarkan transkrip yang diperoleh dari rekaman body camera milik Thomas Lane, salah satu pelaku pembunuhan George Floyd.

Dokumen itu menunjukkan momen terakhir ketika Floyd ditindih lehernya oleh Derek Chauvin, yang kematiannya membangkitkan gelombang protes di seluruh dunia. Keempat polisi yang menangkap Floyd langsung dipecat keesokan harinya, begitu rekaman insiden itu menyebar dan viral di media sosial.

Floyd, si pelaku utama, dijerat dengan sejumlah dakwaan, di antaranya adalah pembunuhan tingkat dua dan tingka tiga, serta pembunuhan tak berencana level dua. Sementara tiga rekannya, Lane, J Alexander Kueng, dan Tou Thao masing-masing didakwa bersekongkol dan membantu Chauvin membunuh Floyd.

Rekaman tersebut kemudian dipublikasikan Kamis (9/7/2020), di tengah upaya pengacara Lane agar kasus kliennya digugurkan.

Apa yang ditunjukkan dari transkrip itu?

Selama ini, rekaman dari saksi mata yang beredar di media sosial menunjukkan apa yang terjadi momen terakhir sebelum George Floyd. Namun, transkrip dari body camera Lane memaparkan detil baru, dimulai dari momen ketika keempatnya datang hingga Floyd dimasukkan ambulans.

Berdasarkan transkrip yang dirilis seperti dilansir BBC, Floyd terekam mengaku tak bisa bernapas lebih dari 20 kali saat dibekuk di jalanan Minneapolis. Keempat polisi itu mendatangi pria 46 tahun tersebut, setelah toko kelontong melaporkan dia membeli rokok menggunakan uang palsu.

"Engkau akan membunuhku, bung," katanya ketika tangannya diborgol, dengan penegak hukum lain menjatuhkannya di jalanan beraspal. Derek Chauvin langsung menindih leher Floyd selama hampir delapan menit. Saat itu, dia meminta korban untuk berhenti berteriak.

"Jadi berhenti berbicara, berhentilah berteriak. Sebab, dibutuhkan banyak oksigen untuk berbicara," kata Chauvin sambil terus menindih leher Floyd. Percakapan itu mengungkapkan awalnya korban bekerja sama saat ditangkap, berulang kali meminta maaf kepada petugas yang mendatanginya.

Dari kiri, Derek Chauvin, J. Alexander Kueng, Thomas Lane dan Tou Thao. Chauvin didakwa melakukan pembunuhan tingkat dua atas George Floyd, seorang pria kulit hitam yang meninggal setelah ditahan olehnya dan petugas kepolisian Minneapolis lainnya pada 25 Mei. Ada pun Kueng, Lane, dan Thao dituduh membantu dan bersekongkol dengan Chauvin.
Foto: AP/Hennepin County Sheriffs Office

Lane kemudian memintanya untuk menunjukkan tangan hampir kali, sebelum kemudian memerintahkan Floyd untuk keluar dari mobil.

"Ya ampun, aku tertembak, aku ditembak di tempat yang sama Pak Polisi," kata Floyd merespons permintaan tersebut. Tidak jelas apa yang dimaksud. Dalam satu kesempatan, Lane sempat mempertanyakan mengapa Floyd bertindak aneh.

"Dia tak menunjukkan tangannya dan menciut seperti itu?" tanyanya.

Mereka kemudian memborgolnya, dan kemudian mencoba untuk memasukannya ke mobil ketika George Floyd menjadi gelisah dan mengaku menderita klaustrofobia. Saat Lane bertanya apakah Floyd mengonsumsi sesuatu seperti zat terlarang, dia segera menjawab bahwa dia merasa takut.

Peti berlapis emas yang membawa George Floyd dibawa dengan kereta kuda menuju pemakaman di Taman Memorial Houston di Pearland, Texas, AS, Selasa (9/6/2020). Ribuan pelawat baik di dalam tempat penghormatan terakhir hingga di jalanan menuju area pemakaman berbaris seiring peti berlapis emas yang membawa jasad Floyd dibawa menggunakan kereta kuda.
Foto: AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS

Berdasarkan keterangan dokumen lain, Lane memberi tahu penyidik begitu masuk ke mobil, Floyd tiba-tiba "membanting diri ke depan dan belakang". Petugas kemudian mengeluarkannya dari mobil dan memitingnya ke tanah. Di saat itulah Floyd tiba-tiba berteriak "Mama".

"Aku tak percaya ini, bung. Ibu, aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Beri tahu anakku aku menyayanginya. Saya sudah mati," teriaknya. Pada satu titik, ketika Floyd terus menerus berteriak tak bisa bernapas, Lane sempat bertanya apakah mereka seharusnya membalikannya.

"Tidak, kita biarkan dia seperti ini," jelas Derek Chauvin. Pengacaranya tak berkomentar begitu barang bukti ini dirilis.

Mengapa transkrip ini baru dirilis sekarang?

Rekaman percakapan tersebut dipublikasikan untuk membantu Lane, polisi baru yang bertugas beberapa hari, untuk lepas dari jerat hukum. Pengacara Lane, Ear; Gray, yang menyerahkan dokumen tersebut, mengatakan tidak adil bagi kliennya untuk diadili seperti itu.

Dokumen yang menjadi barang bukti baru itu juga mencakup wawancara Lane dengan penyidik dari Biro Penangkapan Kriminal Minneapolis.

Dalam interogasinya, Lane mengungkapkan dia langsung mengeluarkan pistol dan meminta Floyd menunjukkan tangan karena melihatnya "tak memegang kendali". Gambar dari dalam mobil Floyd, tepatnya tempatnya dia duduk, menunjukkan pecahan uang 20 dollar AS yang diyakini adalah palsu.

Jelang berakhirnya wawancara, salah satu penyidik kemudian bertanya apakah dia maupun Derek Chauvin merasa bertanggung jawab atas tewasnya Floyd.

"Saya menentang pertanyaan itu. Engkau tidak perlu menjawabnya," tegas Gray kepada kliennya.

Sumber: kompas.com

Editor: tom.
Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!