HETANEWS.COM

Kisah Teladan Guru Nyoman Sukseskan Siswa di Tengah Keterbatasan

Ilustrasi siswa. Foto: DOK. PIXABAY

Hetanews.com - Nyoman Darta, Kepala Sekolah SMAN 1 Mandara, Bali, merupakan salah satu Guru Penggerak yang mendapatkan kesempatan untuk bercerita tentang praktik-praktik baik di sekolah yang ia pimpin.

Sekolah tempat Nyoman mendedikasikan diri sebagai guru bukanlah lingkungan yang diisi oleh anak- anak dari keluarga berada. Nyoman bercerita bahwa kemiskinan, gizi buruk, dan sarana belajar yang minim adalah masalah-masalah yang dihadapi siswanya.

Bahkan, banyak dari siswa yang memiliki masalah keluarga yang kompleks sehingga mereka tumbuh dengan rasa percaya diri yang rendah. Kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim Nyoman berkata, dengan modal ketulusan, keikhlasan dan kasih sayanglah siswa didiknya bisa meraih kesuksesan.

“Jika hatinya (siswa) sudah disentuh maka mereka akan dengan senang hati mengikuti pembelajaran di kelas, di luar kelas maupun di manapun mereka belajar,” ucapnya kepada Mendikbud dalam acara Peluncuran Merdeka Belajar Episode Lima: Guru Penggerak melalui telekonferensi di Jakarta (3/7/2020), seperti dikutip dari laman Kemendikbud.

"Di sinilah saya membutuhkan guru-guru yang mau mengajar dengan ketulusan yang bisa menyentuh hati anak-anaknya."

Salah satu program yang ia jalankan di sekolah bernama Program "The Calling". Melalui program itu, Nyoman mengajak para siswa untuk menulis mimpi-mimpi mereka pada secarik kertas yang selanjutnya dimasukkan ke dalam botol atau istilahnya time capsule. Botol itu kemudian ditaruh di dalam kotak yang disebut The Calling Cast.

“Mimpi itulah yang mereka selalu ingat untuk dikejar selama dua, tiga bahkan empat tahun karena kami menggunakan sistem kredit semester. Kami ingin membantu menyukseskan mimpi mereka dan saya harus bisa meyakinkan mereka bahwa seluruh hambatan bisa dipecahkan,” terang Nyoman.

Dalam menghadapi tantangan, masing-masing siswa akan diberi triplek untuk menulis seluruh kelemahan mereka. Selanjutnya semua siswa membakar triplek itu dalam api unggun.

“Filosofinya adalah semua hambatan mereka sudah dimusnahkan dan mereka membacakan Ikrar Api. Ikrarnya adalah api di dalam dada mereka harus tetap hidup meskipun mereka berasal dari keluarga miskin,” kata Nyoman.

"Mereka harus yakin bahwa kelemahan mereka bukan penghalang kesuksesan. Jika ada api yang redup di antara mereka maka teman yang lain harus memiliki kepedulian untuk berempati dan membantu menguatkan satu sama lain."

Membimbing siswa hingga capai pendidikan tinggi

Paham betul dengan kondisi peserta didik, Nyoman beserta jajarannya merancang metode kurikulum yang sesuai dan berkesinambungan.

“Kami buat program kurikulum yang melatih mereka perkalian sederhana, hitung bagi, jepit, pecahan, bahasa Inggris dasar, dan komputer kami latih. Sebelumnya kami hilangkan stres mereka dengan Program Consciousness Base Education yaitu pendidikan yang berbasis kesadaran,” kata dia.

Ia menjelaskan, program tersebut mengajak anak-anak untuk duduk hening di pagi dan sore hari selama 15 menit.

"Terbukti kegiatan ini dapat menurunkan stres, meningkatkan daya ingat dan toleransi. Tiga bulan ke depan kami berjuang bagaimana mereka punya mimpi dan membangun kesadaran mereka sebelum masuk ke pembelajaran," kata dia.

"Kami yakin, anak-anak bisa hidup dengan potensi mereka masing-masing asalkan kami berhasil mengidentifikasi dan mengembangkan keunikan-keunikan mereka."

Tak berhenti sampai di sana. Upaya yang dilakukan Nyoman tidak tanggung-tanggung, pihaknya turut memfasilitasi peserta didik agar dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Nyoman dan guru-gurunya rela melayani para siswa dari pukul 04.45-22.00 waktu setempat. Tim sekolah juga memfasilitasi untuk mencarikan akses ke perguruan tinggi yang baik di tingkat nasional maupun luar negeri.

"Mereka harus dapatkan biaya pendidikan dan biaya hidup. Anak-anak banyak yang meneruskan sekolah ke ITB, UI, dan universitas lainnya bahkan hingga ke Amerika, Australia, India, Taiwan, dan Jepang. Harapan kami dari hal kecil ini kami bisa memperbaiki nasib mereka, memutar perekonomian keluarganya sehingga mereka bisa memberi manfaat bagi sekitar,” harap Nyoman.

Nyoman membuktikan bahwa ketulusan para guru dan pihak sekolah, dapat mendukung kesuksesan siswa di tengah keterbatasan ekonomi sosial .

Sumber: kompas.com

Editor: tom.
Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!