HETANEWS.COM

Siswi di Aceh Polisikan Ayah Kandung-Ibu Tiri Gegara Kerap Dianiaya

Foto ilustrasi anak korban penganiayaan.

Aceh, hetanews.com - Gadis 16 tahun di Aceh Utara, Aceh, tak bisa memberi toleransi lagi atas sikap ayah kandung dan ibu tirinya yang kerap melakukan kekerasan fisik. Dibantu perangkat desa tempat tinggalnya, gadis tersebut melaporkan kasus penganiayaan yang dialaminya ke polisi.

"Pengakuan pelaku, mereka ribut-ribut karena anak tidak terima bapaknya kawin lagi," kata Kasubbag Humas Polres Aceh Utara, Iptu Sudiya Karya, saat dimintai konfirmasi, Selasa (7/7/2020).

Kasus ini bermula saat korban bersama ibu kandungnya pulang dari kebun. Si gadis yang tak terima dengan perkawinan kedua ayahnya, terlibat saling ejek dengan istri kedua sang ayah. Siswi yang duduk di bangku kelas XI SMA itu pun dihadang ibu tirinya yang berinisial R (45).

"Korban dengan pelaku tinggal satu kampung," jelas Sudiya.

Polisi menuturkan perlakuan kasar dan pemukulan kerap dilakukan R dan AM kepada anak gadisnya. Keterangan itu didapat dari perangkat desa setempat. Polisi menjelaskan anak gadis dan ibu kandungnya tinggal sekampung dengan ayah dan ibu tiri korban.Bukannya melerai anak dan istri kedua yang sedang adu mulut, si ayah yang berinisial AM (60) justru menghampiri dengan membawa sepotong kayu, yang kemudian diberikan kepada R. Baik R dan AM kemudian memukul anak gadisnya. R memukul dengan kayu, sedangkan AM memukul dengan tangan.

"Kata perangkat desa setempat sudah sering ribut, pihak desa nggak mau lagi mendamaikan keduanya," ujar Sudiya.

Polisi menerangkan kasus pemukulan yang saat ini ditangani penyidik terjadi pada 21 Juni lalu. Polisi telah menahan R dan AM.

"Kedua pelaku, AM (60) dan R (45), sekarang sudah kita tahan. Kasus penganiayaan ini terjadi pada Minggu, 21 Juni, lalu," kata Kasat Reskrim Polres Aceh Utara AKP Rustam Nawawi kepada wartawan pada kesempatan berbeda, kemarin.

Kanit PPA Sat Reskrim Polres Aceh Utara Bripka T Ariandi menambahkan korban yang tengah kesakitan karena dianiaya ditolong warga. Saat itu korban sampai tak mampu mengendarai motornya.

Agar kejadian ini tak terulang, lanjut Ariandi, perangkat desa mengarahkan agar korban membuat laporan polisi."Namun karena baru saja dipukuli, korban tidak bisa mengendarai sepeda motornya, sehingga korban dan ibunya dibawa saksi tersebut ke rumah kepala desa," jelas Ariandi.

"Karena diketahui keributan disertai kekerasan antara korban dan pelaku sudah sering terjadi, perangkat desa setempat mengarahkan korban dan ibu kandungnya untuk membuat laporan polisi," tutur dia.

Sumber: detik.com 

Editor: suci.
Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!