HETANEWS.COM

Banyak Pandemi Seperti Corona Bisa Terjadi di Masa Depan, Ini Pemicunya

Pemicu pandemi seperti Corona bisa terjadi di masa depan.

Jakarta, hetanews.com - Sebuah laporan studi menemukan kondisi yang membuat pandemi seperti Corona mungkin lebih banyak terjadi di masa depan. Seperti meningkatnya permintaan daging liar dan kerusakan lingkungan.

United Nations Environment Programme (UNEP) dan International Livestock Research Institute mengatakan virus Corona COVID-19 hanyalah yang terbaru dari semakin banyak penyakit termasuk Ebola yang menyebar dari hewan ke hewan.

Laporan berjudul 'Mencegah Pandemi Selanjutnya: Penyakit zoonosis dan cara memutus rantai penularan', menemukan bahwa peningkatan jumlah penyakit zoonosis disebabkan ketika patogen melompat dari hewan ke manusia. Hal ini didorong oleh perusakan lingkungan alam melalui degradasi lahan, eksploitasi satwa liar, ekstraksi sumber daya, dan perubahan iklim.

"Ilmu pengetahuannya jelas bahwa jika kita terus mengeksploitasi satwa liar dan menghancurkan ekosistem kita, maka kemungkinan akan ada penyakit yang terus-menerus berpindah dari hewan ke manusia di tahun-tahun mendatang," kata direktur eksekutif UNEP Inger Andersen.

"Pandemi menghancurkan kehidupan dan ekonomi kita, dan seperti yang telah kita lihat selama beberapa bulan terakhir, yang paling menderita adalah yang termiskin dan paling rentan. Untuk mencegah wabah di masa depan, kita harus lebih berhati-hati dalam melindungi lingkungan alami kita," lanjut Andersen.

Setiap tahun sekitar 2 juta orang, sebagian besar di negara berpenghasilan rendah dan menengah meninggal karena penyakit zoonosis yang terabaikan, demikian laporan tersebut.

Andersen mengatakan bahwa virus Corona COVID-19 mungkin yang terburuk untuk saat ini, tetapi itu bukan yang pertama atau yang terakhir. "Kita sudah tahu bahwa 60 persen dari penyakit menular yang diketahui pada manusia dan 75 persen dari semua penyakit menular yang muncul adalah zoonosis. Ebola, SARS (sindrom pernapasan akut parah), virus Zika, dan flu burung semuanya datang kepada manusia melalui hewan," katanya.

Dikatakan bahwa pada tahun 2006, hampir 20.000 usaha pembiakkan satwa liar dan pertanian telah didirikan di China. "Karena konsumen kaya cenderung lebih suka binatang yang ditangkap dari alam, daging dari peternakan ini sering dikonsumsi oleh kelas menengah China yang berkembang pesat," menurut laporan itu, yang diluncurkan di ibukota Kenya, Nairobi, Senin.Dikutip dari SCMP, meningkatnya konsumsi hewan liar di Asia Timur, terutama di daratan China, mungkin meningkatkan risiko virus atau penyakit zoonosis yang melonjak dari hewan ke manusia, studi tersebut memperingatkan.

Laporan itu juga mengatakan bahwa pasar basah tradisional, di mana daging segar, ikan, dan lainnya yang mudah rusak dijual, dikaitkan dengan penyebaran SARS dan COVID-19.

"Ada konsensus bahwa pasar informal dapat berisiko secara epidemiologis, terutama yang menjual hewan peliharaan atau hewan liar hidup atau mati dan yang memiliki kebersihan yang buruk," kata laporan itu.

Sumber: detik.com 

Editor: suci.
Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!