HETANEWS.COM

Total Teater dalam Karya Kolaborasi Tiga Negara: The Scream of Mother Earth

The Scream Of Mother Earth. Foto: @skinnyriz

Hetanews.com - The Scream of Mother Earth adalah karya kolaborasi tiga Negara (Rusia, Brasil dan Indonesia) yang disutradarai oleh Yusril Katil dari Indonesia. Karya total theatre yang berdurasi 60 menit ini diperankan oleh Janine De Campos dari Brasil.

Didukung oleh Mateus Ferarrari sebagai composer dan pemusik yang juga dari Brasil. Lalu Ali Sukri dari Indonesia sebagai koreografer dan Polina Buchenkova sebagai visual art dari Rusia.

Karya akhir dari drarmasiswa Institut Seni Indonesia Padangpanjang ini dipentaskan di gedung Hoerijah Adam dan karya ini sebelumnya juga telah dipentaskan pada perayaan hari teater sedunia di Universitas Negeri Padang.

Karya kolaborasi ini merupakan proses pencarian terhadap dampak pertemuan budaya untuk melahirkan sebuah inovasi dan konvensi antar budaya. Proses silang budaya dari karya ini terlihat pada usaha aktor untuk mengenali dirinya dan mencoba mengaktualisasikan dirinya ditengah kolektivitas.

Para pemain yang memiliki budaya yang berbeda mencoba mengaktualisasikan lakunya pada budaya Indonesia, tepatnya budaya Bali dan Minangkabau. Pertemuan budaya inilah yang membuat aktor dapat mengeluarkan kekuatan akting universal dari determinasi budaya yang ada.

Pertunjukan The Scream Of Mother Earth bercerita tentang seorang perempuan yang memutuskan untuk melakukan perjalanan ke gunung berapi tertinggi sebagai bentuk perlawanannya terhadap segala ketidakadilan yang telah ia alami.

Secara tematik karya ini mengisahkan perlawanan seorang perempuan dari berbagai macam ancaman, seperti pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, kukungan adat istiadat dan berbagai masalah lainnya yang juga dialami perempuan di seluruh belahan dunia.

Problematika realitas yang dialami perempuan disampaikan melalui 8 fragmen yang memiliki hubungan kausalitas. Secara verbal, karya ini disampaikan melalui 3 bahasa, yaitu Indonesia, Inggris dan Portugis.

Eksplorasi geraknya berpijak pada gerakan silat dan tarian Minangkabau yang ditubuhkan pada diri Janine De Campos yang merupakan orang Brasil.

Karya ini juga diperkaya dengan dramaturgial Minangkabau, seperti musik tradisional, dendang, silat, tari khas Minangkabau. Secara set panggung (set scenery) dan kostum, karya ini berangkat dari idiom-idiom budaya Minangkabau dan Bali.

Janine De Campos sebagai tokoh sentral dari pertunjukan ini berhasil menyuguhkan pengalaman ketubuhannya ketika mengalami proses pertemuan budaya dan menyeleksi gerak yang sesuai dengan kondisi tubuhnya.

Laku (akting) yang tercipta merupakan hasil dari pengaktualisasian dirinya dengan latar budaya Brasil dengan budaya baru yang bersentuhan dengan dirinya, yaitu budaya Indonesia. Sehingga terlihat jelas, bahwa karya The Scream Of Mother Earth tidak mengedepankan budaya Indonesia atau budaya lainnya, tetapi lebih kepada hasil dari proses silang budaya untuk melahirkan karya multikultural.

Total Teater dalam Karya Kolaborasi Tiga Negara: The Scream of Mother Earth.
Foto: @skinnyriz

Pertunjukan The Scream Of Mother Earth menghadirkan sosok Bundo Kanduang dari seorang perempuan yang sejak kecil mengalami ketidakadilan, seperti dipaksa menikah, mendapatkan kekerasan di rumah tangga, mengalami pelecehan seksual secara verbal dan nonverbal, terjerat aturan adat dan berbagai masalah perempuan lainnya.

Perempuan itupun memutuskan untuk berdiri di atas gunung berapi tertinggi di tanah Minangkabau untuk menyerukan suara emansipasi.

Tokoh Bundo Kanduang secara heroik mendeklamasikan kata-kata perlawanannya dari kaum perempuan sekaligus menyemangati semua perempuan di seluruh dunia untuk dapat memperjuangkan hak-haknya sebagai perempuan.

Gambaran feminisme dari karya The Scream Of Mother Earth tergambar jelas dari tokoh Bundo Kanduang yang memutuskan berdiri di puncuk gunung berapi untuk mendapatkan pengakuan atas dirinya dan atas kehadirannya.

Karya The Scream Of Mother Earth mengajak semua perempuan di dunia untuk tidak pasrah kepada realitas yang memarginalkan kaum mereka, tetapi harus tegak berdiri untuk memperjuangkan keberadaan dan kehadiran kaum perempuan agar setara dengan kaum laki-laki.

Hal ini dilakukan agar para laki-laki memandang perempuan dengan adil dan setara. Karya kolaborasi tiga Negara ini merupakan karya yang telah membakar semangat perempuan agar tetap kuat untuk berdiri. 

Sumber: pojokseni.com

Editor: tom.
Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!