HETANEWS.COM

Keris Sakti Berkat Pasupati Widhastra Anugerah Brahma

PALINGGIH : Ida Bagus Wika Krishna berada di Palinggih Panjenengan Geriya Gede Banjar, Buleleng.

Bali, hetanews.com - Sosok pendiri Desa Banjar, Ida Pedanda Sakti Ngurah Pemade, bukan hanya sebagai seorang sulinggih yang memiliki tingkat spiritual  tinggi. Beliau juga seorang pandai besi yang pintar membuat senjata pusaka bertuah.

Generasi kelima pemimpin Perang Banjar Ida Made Rai, Ida Bagus Wika Krishna, yang ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di Geriya Gede Banjar, kemarin, menuturkan, dari tangan leluhurnya itulah mampu diciptakan senjata bertuah yang sakti. "Bakat membuat keris itu diperolehnya dari sebuah pustaka lontar bernama Pasupati Widhastra, yang tidak lain merupakan panugrahan dari Bhatara Brahma," papar pria yang akrab disapa Gus Wika ini.

Berbekal Pustaka Pasupati Widhastra itu, ia membuat sebuah senjata keris untuk pajenengan. Keris berbahan besi hitam, merah, dan besi putih yang telah dirajah, ditempa dengan Palu Cempeng di dalam merajan. “Pertama kali beliau mengayunkan Palu Cempeng menempa besi, tiba-tiba seluruh alam menjadi gelap, setiap kali menempa, maka pohon-pohon menjadi hangus terbakar, dan batu-batu disekitarnya hancur, ” tuturnya, menirukan cerita para pendahulunya.

Setiap makhluk halus yang mencoba mendekat menjadi tunduk oleh prabhawa keris tersebut. Setelah selesai seluruhnya, kemudian beliau melakukan yoga samadhi untuk memasupati keris tersebut. “Beliau selain sebagai sulinggih, juga mewarisi tradisi membuat pusaka. Makanya dikenal Geriya Gede yang merupakan Geriya Pande, karena sulinggih di sini juga pembuat pusaka. Sehingga pusaka beliau sudah tersebar. Termasuk digunakan Raja Buleleng dan pasukan Laskar Banjar dalam Perang Banjar,” jelas Gus Wika.

Sedangkan pusaka intinya yang kini masih tersimpan di Geriya Banjar itu adalah Ki Lebah Pangkung. Pusaka lanang istri inilah yang digunakan keturunan dari Ida Pedanda Sakti Ngurah Pemade, yakni pahlawan Ida Made Rai saat Perang Banjar 152 tahun silam mengusir Belanda dari Buleleng.

Di sisi lain, ikatan emosional antara Geriya Gede Banjar dengan masyarakat hingga kini masih sangat kuat terjaga. Meskipun era kerajaan sudah selesai, Gus Wika menyebut hubungan Siwa-Sisia dalam konteks sulinggih menjalankan ritual keagamaan masih berjalan.

Dosen di STAHN Mpu Kuturan Singaraja ini mencontohkan, seperti dalam acara Ngaben massal yang diikuti oleh sisia. Begitu juga saat piodalan di Merajan Geriya Gede Banjar yang jatuh setiap Buda Manis Prangbakat.
"Pamedek yang sembahyang di merajan seluas 20 are ini bukan hanya dari keluarga di Geriya Banjar. Tetapi juga sisia yang berada dari seluruh Bali. Seperti dari Jimbaran, Sanur, Klungkung. Karena mereka punya ikatan emosional,” pungkasnya. 

Sumber: jawapos.com 

Editor: suci.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!