HETANEWS.COM

Diduga Terima Suap Miliaran, Ini Peran Kompak Bupati Kutai Timur dan Istrinya

Bupati Kutai Timur Ismunandar mengenakan rompi tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (3/7).

Kutai Timur, hetanews.com - KPK menetapkan Bupati Kutai Timur Ismunandar dan Ketua DPRD Kutai Timur Encek UR Firgasih sebagai tersangka kasus dugaan suap. Pasangan suami istri itu diduga bersama-sama menerima suap dari sejumlah rekanan proyek.

"Terkait pekerjaan infrastruktur di lingkungan pemerintah Kabupaten Kutai Timur tahun 2019 sampai 2020," ujar Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango dalam konferensi pers di kantornya, Jumat (3/7).

Ismunandar dan Encek diduga menerima suap bersama Musyaffa selaku Kepala Bapenda, Suriansyah selaku Kepala BPKAD, dan Aswandini selaku Kepala Dinas PU. Mereka diduga menerima suap dari dua orang kontraktor atas nama Aditya Maharani dan Deky Aryanto.

Dalam konferensi pers itu, KPK menjelaskan perihal konstruksi perkaranya. Termasuk bagaimana peran Ismunandar dan Encek.

Baca juga: Peran Bupati dan Istri 'Mainkan' Proyek di Pemkab Kutai Timur

Nawawi menjelaskan bahwa Aditya Maharani bersama Deky Aryanto merupakan kontraktor yang mendapat sejumlah proyek di Kutai Timur.

Untuk Aditya Maharani, ia menjadi rekanan di sejumlah proyek, yakni:

  • Pembangunan embung Desa Maloy, Kecamatan Sangkulirang, senilai Rp 8,3 miliar, atas nama CV Permata Group.

  • Pembangunan Rumah Tahanan Polres Kutai Timur senilai Rp 1,7 miliar, atas nama CV Bebika Borneo.

  • Peningkatan Jalan Poros Kecamatan Rantau Pulung senilai Rp 9,6 miliar atas nama CV Bulanta.

  • Pembangunan kantor Polsek Kecamatan Teluk Pandan senilai Rp 1,8 Miliar atas nama CV Bulanta.

  • Optimalisasi pipa air bersih PT. GAM senilai Rp 5,1 Miliar atas nama CV Cahaya Bintan.

  • Pengadaan dan pemasangan LPJU jalan APT Pranoto cs Kota Sangatta senilai Rp 1,9 miliar atas nama PT Pesona Prima Gemilang.

Sementara, Deky Aryanto menggarap satu paket proyek di Dinas Pendidikan Kabupaten Kutai Timur senilai Rp 40 miliar. Atas proyek-proyek itu, diduga para rekanan itu memberikan uang kepada Ismunandar dan beberapa pihak lain.

Berikut rinciannya:

  • 19 Mei 2020

Aditya Maharani diduga memberikan uang THR masing-masing Rp 100 juta kepada Ismunandar, Musyaffa, Suriansyah, dan Aswandini.

"Serta transfer ke rekening bank atas nama Aini sebesar Rp 125 juta untuk kepentingan kampanye ISM (Ismunandar)," kata Nawawi.

  • 11 Juni 2020

Ismunandar menerima uang Rp 550 juta dari Aditya Maharani memberikan Rp 550 juta dan Rp 2,1 miliar dari Deky Aryanto. Uang diduga diberikan melalui Suriansyah, Musyaffa, bersama dengan istri Ismunandar, Encek UR Firgasih.

Lalu keesokan harinya, Musyaffa menyetorkan uang itu ke beberapa rekening yakni Rp 400 juta ke rekening Bank Syariah Mandiri, Rp 900 juta ke rekening Bank Mandiri, dan Rp 800 juta ke rekening Bank Mega.

Selain itu, juga diduga terdapat penerimaan uang melalui kartu ATM atas nama Irwansyah yang merupakan saudara dari Deky. Kartu ATM berisi saldo sebesar Rp 200 juta itu diduga diberikan kepada Encek.

"Diduga terdapat beberapa transaksi berupa penerimaan sejumlah uang dari rekanan kepada MUS melalui beberapa rekening bank atas nama MUS (Bank Mandiri, Bank Syariah Mandiri, Bank Mega, Bank Kaltimtara) terkait dengan pekerjaan yang sudah didapatkan di Pemkab Kutim. Saat ini total saldo yang masih tersimpan di rekening-rekening tersebut sekitar Rp 4,8 miliar," kata Nawawi.

BUPATI KUTAI TIMUR DITAHAN KPK
Barang bukti pasca Operasi Tangkap Tangan (OTT) Bupati Kutai Timur di Gedung KPK, Jakarta

Uang-uang itu diduga digunakan untuk membayar sejumlah kepentingan Ismunandar. Berikut daftarnya:

  • 23-30 Juni 2020 untuk pembayaran kepada Isuzu Samarinda atas pembelian elf sebesar Rp 510 juta.

  • 1 Juli 2020 untuk pembelian tiket ke Jakarta sebesar RP 33 juta.

  • 2 Juli 2020 untuk pembayaran hotel di Jakarta Rp 15,2 juta.

Pemberian uang itu diduga sebagai imbal balik karena kedua kontraktor mendapat sejumlah proyek. KPK pun mengungkap peran masing-masing tersangka yang diduga menerima suap, yakni:

  • Ismunandar selaku bupati diduga menjamin anggaran dari rekanan yang ditunjuk agar tidak mengalami pemotongan anggaran.

  • Encek Unguria selaku Ketua DPRD diduga melakukan intervensi dalam penunjukan pemenang terkait pekerjaan di Pemkab Kutai Timur.

  • Musyaffa selaku kepercayaan bupati diduga melakukan intervensi dalam menentukan pemenang pekerjaan di Dinas Pendidikan dan Pekerjaan Umum di Kabupaten Kutai Timur

  • Suriansyah selaku Kepala BPKAD diduga mengatur dan menerima uang dari setiap rekanan yang melakukan pencairan termin sebesar 10% dari jumlah pencairan.

  • Aswandini selaku Kepala Dinas PU diduga mengatur pembagian jatah proyek bagi rekanan yang akan menjadi pemenang.

sumber: kumparan,com

Editor: sella.
Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!