HETANEWS.COM

Zuckerberg Yakin Gerakan Boikot Facebook Segera Berakhir

CEO Facebook Mark Zuckerberg. Foto: EPA

Washington, hetanews.com - CEO Facebook Mark Zuckerberg meyakini gerakan boikot memasang iklan di platform media sosial ciptaannya akan segera berakhir.

Dia melihat pemboikotan yang sudah diikuti sejumlah perusahaan dan merek ternama itu sebagai masalah kehumasan daripada ancaman serius. Oleh sebab itu ia tak merencanakan respons besar.

"Kami tidak akan mengubah kebijakan atau pendekatan kami pada apa pun karena ancaman terhadap sebagian kecil dari pendapatan kami atau berapa pun persen dari pendapatan kami," kata Zuckerberg, seperti dilaporkan situs berita teknologi Information, dikutip laman the Guardian, Kamis (2/7).

Menurut dia boikot tersebut merupakan masalah reputasi dan mitra daripada ekonomi. "Dugaan saya adalah semua pengiklan ini akan segera kembali ke platform," ujarnya.

Seorang juru bicara Facebook mengonfirmasi keakuratan pernyataan Zuckerberg yang diperoleh situs Information melalui sebuah transkrip.

"Kami menangani masalah (pemboikotan) ini dengan sangat serius dan menghargai respons dari mitra kami. Kami membuat kemajuan nyata menjaga ujaran kebencian tetap tersisih dari platform kami dan kami tidak mendapat manfaat dari konten semacam ini. Tapi seperti yang kami katakan, kami membuat perubahan kebijakan berdasarkan prinsip, bukan tekanan pendapatan," ucapnya.

Pada Rabu (1/7) lalu, lebih dari 500 perusahaan secara resmi memulai aksi boikot memasang iklan di Facebook. Hal itu dilakukan untuk menekan Facebook agar mengambil sikap lebih keras terhadap konten pidato atau ujaran kebencian.

Adidas, Ford, Honda, Verizon, Diageo, dan Unilever adalah beberapa perusahaan yang bergabung dalam aksi tersebut. Starbucks dan Coca-Cola juga telah menghentikan semua iklannya di Facebook.

Namun kedua perusahaan itu tidak secara resmi mengumumkan dukungannya terhadap kampanye. Zuckerberg telah setuju untuk bertemu organisator aksi boikot itu pada awal pekan depan. Gerakan boikot beriklan di Facebook merupakan wujud dari kampanye Stop Hate for Profit.

Kampanye tersebut diinisiasi beberapa organisasi di Amerika Serikat (AS) antara lain Free Press, Common Sense Media, Color of Change, dan the Anti-Defamation League.

Mereka meluncurkan kampanye boikot pascakematian pria Afrika-Amerika George Floyd. Dia tewas setelah lehernya ditekan menggunakan lutut oleh polisi kulit putih di Minneapolis.

Sumber: republika.co.id

Editor: tom.
Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!