HETANEWS.COM

Terlalu Mahal, DPRD Minta RSUD Djasamen Saragih Kaji Ulang Biaya Rapid Test Covid-19

RSUD Djasamen Saragih.

Siantar, hetanews.com - Di tengah pandemi Covid - 19 yang melanda Kota Siantar, biaya rapid test yang telah dirilis pihak RSUD Djasamen Saragih Siantar seakan jadi ajang bisinis.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Komisi I DPRD Siantar, Boy Iskandar Warongan yang dikonfirmasi hetanews, Jumat (3/7/2020), juga setuju kalau biaya rapid test itu  sangat memberatkan masyarakat.

"Dengan pandemi seperti ini, jangan dulu kita mengambil profit atau keuntungan. Setidaknya dapat membantu masyarakat, kan lebih bagus. Apalagi kepada para mahasiswa asal Siantar yang kuliah di luar kota, kalau bisa mereka digratiskan,"ujarnya.

Ketua Komisi I DPRD ini menambahkan, dia pernah menonton, di salah satu TV yang mengatakan,  sebenarnya biaya produksi rapid test itu hanya Rp70 ribu.

"Saya dengar kalau hasil dari investigas Ombudsman RI, terkait biaya produksi rapid test itu, hanya Rp70 ribu. Jadi kalau dengan harga produksi hanya Rp 70 ribu, sedangkan di RSUD, Rp 330 ribu, itu jelas sangat mahal. Jadi kita meminta kepada pihak RSUD Siantar untuk mengevaluasi harganya,"ujarnya.

Baca juga: Mahasiswa Luar Siantar Sesalkan Mahalnya Biaya Rapid Test Covid – 19, Hengky: Jangan lah jadi Ajang Bisnis

Dan tidak hanya untuk RSUD saja, tetapi untuk RS swasta juga, ujarnya.

Ditegaskannya, kalau biaya itu tidak juga dikaji ulang maka pihaknya akan memanggil pihak RSUD untuk Rapat Dengar Pendapat (RDP).

Dengan biaya rapid test yang begitu mahal, juga menjadi pembicaraan hangat di masyarakat. Masyarakat beranggapan kalau Covid - 19 ini, menjadi ajang proyek buat para pengusaha.

"Saya merasa Covid - 19 ini sekarang, menjadi ajang proyek. Terbukti dengan munculnya list harga untuk rapid test. Dan kita yang hendak keluar kota, juga dipaksakan buat rapid test, padahal kita tidak sakit apapun," ujar salah seorang wargam marga Tarigan yang ditemui hetanews, di salah satu warung kopi, di Siantar.

Tarigan menambahkan, yang paling kenak imbas Covid - 19 ini adalah masyarakat kecil. Dan sekarang masyarakat jugalah yang diproyekkan para pemerintah, katanya.

"Kita masyarakat inilah yang menjadi ajang proyek para pemerintah ini. Kita dilarang berusaha, kita juga yang jadi ajang proyek mereka. Saya berharap kepada pemerintah agar kita masyarakat ini, jangan jadi ajang proyek mereka,"ujarnya.

Penulis: tim. Editor: gun.
Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!