HETANEWS.COM

Jangan Lengah Lagi, Dunia Nyaris Rontok Gara-Gara Virus

Tenaga kesehatan memakai alat pelindung diri (APD) berbicara kepada warga daerah kumuh saat kamp pemeriksaan untuk penyakit virus korona (COVID-19) di Mumbai, India, Minggu (14/6/2020). Foto: ANTARA/REUTERS/Francis Mascarenhas

Hetanews.com - Guncangan yang datang tiba-tiba mengacaukan pengambilan keputusan dan memaksa para pemimpin mengambil tindakan dengan cepat. Kombinasi rasa tidak percaya, kesalahan persepsi, dan ketakutan melemahkan ikatan yang menyokong peradaban modern.

Pada musim panas tahun 1914, Eropa bersiap perang. Tapi keadaan ini juga relevan untuk menjelaskan musim panas 2020. Pandemi influensa terburuk sejak tahun 1918-20 dengan cepat berubah menjadi krisis globalisasi yang sistemis, dan mungkin membuka jalan bagi konfrontasi geopolitik paling berbahaya sejak berakhirnya Perang Dingin.

Tentara India membawa peti jenazah Koloner B.Santosh Babu, yang tewas dalam bentrokan di perbatasan dengan pasukan China di wilayah Ladakh, menggunakan truk saat upacara pemakaman di kampung halamannya di Suryapet, India, Kamis (18/6/2020).
Foto: ANTARA//REUTERS/Idrees Mohammed

Hanya dalam waktu beberapa minggu saja, pandemi COVID-19 sudah menghentikan sepertiga perekonomian global dan memicu guncangan perekonomian terbesar sejak Depresi Besar.

Di masa depan, faktor terpenting yang akan mempengaruhi perkembangan krisis ini adalah kepemimpinan kolektif. Tapi hal ini masih belum ada. Ketika AS dan Tiongkok saling berselisih, kepemimpinan global harus muncul dari tempat selain Washington, DC atau Beijing.

Selain itu, untuk membuka jalan bagi kerja sama internasional yang baru, ada tiga mitos yang harus disanggah. Yang pertama adalah bahwa COVID-19 termasuk kejadian yang tidak bisa diperkirakan (black swan) sehingga tidak ada yang bisa bersiap menghadapinya.

Kenyataannya, aktivis kesehatan masyarakat seperti Bill Gates dan ahli epidemiologi seperti Michael Osterholm dari Universitas Minnesota sudah memperingatkan risiko sistemis yang disebabkan oleh virus corona dan influensa selama bertahun-tahun, sama seperti badan-badan intelijen yang sudah memperingatkan hal yang sama.

Seorang pengunjuk rasa berpartisipasi dalam sebuah protes ketidakadilan rasial menyusul kematian George Floyd saat ditahan oleh polisi Minnepolis, di Brooklyn, New York, Amerika Serikat, Selasa (16/6/2020).
Foto: ANTARA/REUTERS/Brendan McDermid

Besarnya krisis yang ada saat ini adalah hasil dari kegagalan kita dalam berpikir secara tidak linear atau dalam memperhatikan dengan serius peringatan-peringatan yang diberikan oleh para ilmuwan.

Yang lebih buruk lagi, COVID-19 mungkin hanya sebuah permulaan dari bencana yang mungkin terjadi karena dampak perubahan iklim khususnya setelah kita melewati batas pemanasan sebesar 1.5°C di atas temperatur rata-rata sebelum era industri, yang akan mulai terjadi pada awal tahun 2030an.

Mitos kedua adalah COVID-19 telah mendiskreditkan globalisasi. Memang benar bahwa perjalanan udara internasional telah menyebarkan virus corona ke seluruh dunia dengan jauh lebih cepat dibandingkan metode perjalanan lain yang terdahulu.

Tapi globalisasi juga memberikan kita informasi, obat, teknologi, dan lembaga multilateral yang diperlukan untuk mengalahkan tidak hanya virus ini, tapi juga ancaman bersama lainnya.

Sarung tangan dan masker pelindung diperlihatkan di tengah penyebaran penyakit virus korona (COVID-19) di dalam foto yang diambil oleh penyelam sukarela pembersihan laut di Laut Mediterania pada bulan Mei 2020.
Foto: ANTARA/Laurent Lombard/Operation Mer Propre via REUTERS

Berkat adanya komunitas ilmuwan global yang terhubung melalui teknologi informasi dan komunikasi, genom virus corona yang baru ini berhasil diurutkan dan dipublikasikan pada tanggal 12 Januari, dua minggu setelah Tiongkok melaporkan kasus-kasus kluster.

Dan kini, para peneliti di seluruh dunia berbagi temuan mereka dalam upaya mencari vaksin. Belum pernah ada upaya yang melibatkan kolaborasi begitu banyak orang di banyak negara dalam sebuah proyek.

Mitos ketiga adalah perangkat kebijakan dan susunan institusi yang ada saat ini bisa membantu kita melewati krisis ini. Kenyataannya, organisasi internasional hanya bisa memobilisasi sebagian kecil dari sumber daya yang diperlukan untuk membendung virus ini dan dampak perekonomiannya.

Kecuali kita mengubah bagaimana institusi seperti Organisasi Kesehatan Dunia beroperasi dan melakukan lebih banyak hal untuk menggunakan sumber daya swasta, maka ekspektasi kita tidak akan bisa dipenuhi.

Petugas damkar menyemprotkan disinfektan di Pasar Minggu, Jakarta, Minggu (21/6/2020). Pemprov DKI Jakarta menutup Pasar Minggu dan melakukan sterilisasi akibat ditemukannya kasus positif COVID-19.
Foto: ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Pandemi COVID-19 terjadi pada momen yang penting, mempercepat krisis yang lebih buruk dalam kerja sama internasional. Menyelesaikan kedua krisis ini memerlukan inovasi yang berarti, dan upaya kerja sama dalam skala besar untuk mencapai sebuah keseimbangan yang stabil antara pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan sosial.

Hal ini tidak akan mudah dicapai. Kita tidak hanya harus mengubah institusi dan sistem perekonomian yang lebih luas, tapi juga harus mengubah diri kita sendiri. Agenda yang kita perlukan terdiri dari lima bagian.

Pertama, kita harus berupaya mencapai kepemimpinan yang lebih inklusif di tingkat global. Mengingat perselisihan dalam hubungan AS-Tiongkok saat ini, negara-negara G20 harus bersatu untuk menghasilkan ide-ide baru untuk mengatasi krisis ini dalam sistem perdagangan global, kompetisi zero-sum atas teknologi yang semakin meningkat, dan runtuhnya kepercayaan dalam kerangka multilateral.

Uni Eropa, Inggris, Jepang, Kanada, Indonesia, India, Korea Selatan, dan Brasil, khususnya, harus memainkan peran yang lebih besar dalam mengisi kekosongan kepemimpinan.  

Kedua, kita perlu koalisi kepemimpinan multilevel yang baru yang terdiri dari organisasi masyarakat sipil, sektor swasta, pusat studi, dan lainnya.

Ketika kepemimpinan top-down yang biasa tidak bekerja, maka yang lain harus bertindak. Ketiga, kita harus memastikan kelancaran proses dalam pengembangan dan pendistribusian vaksin COVID-19.

Negara-negara anggota G20 harus menepati janji yang sudah mereka buat untuk bekerja dengan organisasi internasional yang relevan dan mitra dari sektor swasta yang ingin bekerja sama dalam menciptakan platform untuk mendistribusikan vaksin dengan cepat dan adil.

 Ini adalah sebuah tantangan yang tidak diperkirakan sebelumnya yang memerlukan koalisi yang belum pernah ada sebelumnya.   

Warga memakai masker pelindung saat berada di dalam kereta bawah tanah di Shanghai, ditengah wabah penyakit virus corona (COVID-19), China, Selasa (16/6/2020).
Foto: ANTARA/REUTERS/Aly Song

Keempat, kita perlu lebih banyak sumber daya untuk mengatasi krisis finansial yang akan terjadi di negara-negara emerging dan berkembang.

Dana Moneter Internasional harus segera mengeluarkan tahapan baru Hak Penarikan Khusus, dan negara kreditor Paris Club, dengan berkoordinasi dengan Tiongkok, harus mengatasi tingkat utang yang semakin tidak bisa dipertahankan dari negara-negara debitur.

Yang terakhir, masyarakat internasional harus mulai membangun koalisi yang diperlukan untuk memastikan kesuksesan Konferensi Keanekaragaman Hayati PBB, dan Konferensi Iklim PBB (COP26) pada tahun depan.

Dunia sangat membutuhkan lebih banyak keikutsertaan dalam permasalahan iklim dan lingkungan, tidak hanya untuk memutus hubungan antara hilangnya habitat dan wabah penyakit zoonosis.  

Sejarawan Margaret MacMillan menyimpulkan analisisnya tentang keikutsertaan dunia pada perang tahun 1914 dengan sebuah pesan penting: “Jika kita yang berada di abad dua puluh satu ingin menyalahkan mereka yang ikut perang di Eropa, maka kita bisa menyalahkan mereka atas dua hal.

Pertama, kegagalan imajinasi karena tidak bisa melihat betapa destruktifnya dampak dari konflik tersebut, dan kedua, mereka tidak berani menentang orang-orang yang mengatakan bahwa tidak ada jalan lain selain perang. Selalu ada pilihan selain perang.”  

Saat ini, dampak dari tidak adanya tindakan yang diambil sudah sangat besar. Dibandingkan hanya menerima runtuhnya sistem multilateral, kita harus mulai memikirkan mekanisme solidaritas baru yang diperlukan dalam krisis ini.              

Sumber: opini.id 

Editor: tom.

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!