Tapanuli Utara, hetanews.com - Saut Simanjuntak (47), warga Pargompulon, Desa Pohan Tonga, Kecamatan Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara terlihat lemas saat tahu 200 ternaknya mati dalam kondisi serupa. Ternak anak, bebek dan babi miliknya menjadi mangsa makhluk pengisap darah (palasik) sejak sebulan terakhir.

"Kejadiannya sejak sebulan lebih. Namun, masyarakat luas baru mengetahuinya pada minggu lalu, saat sejumlah ekor bebek, dan ayam, juga seekor ternak babi kembali dimangsa," kata saat, Senin (22/6).

Awalnya, hampir setiap hari dalam sebulan terakhir, 1-2 ekor ternaknya menjadi korban pemangsa dengan kondisi ternak mati dan ada luka di bagian leher.

"Anehnya, bangkai setiap ternak yang dimangsa selalu utuh. Sepertinya, hanya darahnya saja yang diisap makhluk haus darah itu," kata Saut.

Ilustrasi babi di peternakan.
Ilustrasi babi di peternakan.

Pada Rabu, 17 Juni 2020, sekitar pukul 06.30 WIB, seekor ternak babi seberat 25 kg miliknya tiba-tiba tak lagi berada di dalam kandang, dan sejumlah ternak ayam dan bebek ditemukan terbujur kaku dengan luka di bagian leher.

Saking sedih atas kematian ayam dan bebek, serta kehilangan ternak babi miliknya, Saut berinisiatif mencari ternaknya yang hilang ke arah sungai, hingga menemukan bangkai babi miliknya di tepian sungai yang berjarak lebih kurang 35 meter dari lokasi kandang.

"Biasanya ayam dan bebek yang mati mengalami luka di bagian leher. Namun, ternak babi ini mengalami sejumlah luka tusukan di bagian leher, bekas cakaran, dan mengalami luka seperti sayatan memanjang pada bagian perut, hingga bagian dalam perutnya terlihat, meski tidak organ tubuh yang hilang," urai Saut.

Sejak kejadian itu, informasi kematian ternaknya yang tidak wajar langsung beredar luas di jagad maya hingga menyita perhatian masyarakat luas, termasuk aparatur desa, dan kecamatan, TNI/Polri, hingga Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam wilayah Sumut.

sumber: kumparan.com