HETANEWS.COM

7 Rahasia Donald Trump yang Terungkap di Buku John Bolton

Penasihat Keamanan Nasional John Bolton sedang berada dalam rapat di Oval Office dengan Presiden Donald Trump pada 22 Mei 2018. Foto: Getty Images/Oliver Contreras

Hetanews.com - Mantan penasihat keamanan Presiden Donald Trump, John Bolton, memicu kehebohan di Amerika Serikat karena bukunya yang akan terbit. Pasalnya, buku tersebut membongkar rahasia Donald Trump di Gedung Putih yang hanya diketahui orang-orang terdekatnya.

Buku "The Room Where It Happened: A White House Memoir" yang akan terbit pekan depan itu ingin dijegal oleh Trump. Pihak Gedung Putih menggugat penerbitan buku itu yang menurut mereka membongkar rahasia negara.

Ada beberapa cuplikan buku tersebut yang diperoleh oleh media AS seperti CNN atau New York Times. Setidaknya ada 7 rahasia Trump yang diungkap Bolton di dalamnya:

1. Trump minta bantuan China untuk menangi Pemilu 2020.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri) bertemu dengan Presiden China Xi Jinping (kanan) pada pertemuan bilateral di KTT G20 di Osaka, Jepang.
Foto: REUTERS/Kevin Lamarque

Bolton mengatakan Trump pernah meminta bantuan China untuk memenangi pemilu 2020. Hal ini disampaikan langsung oleh Trump kepada Presiden China Xi Jinping saat keduanya bertemu pada KTT G20 di Osaka, Jepang, tahun lalu.

"Trump ketika itu, secara mengejutkan, mengubah pembicaraan soal pemilu presiden AS, menyinggung kemampuan ekonomi China dan memohon kepada Xi untuk memastikan dia menang," bunyi petikan yang ditulis Bolton di bukunya, menceritakan percakapan Trump dan Xi pada KTT G20 di Osaka, Jepang, tahun lalu.

Sebagai balasannya, kata Bolton, Trump tidak akan menjatuhkan tarif terhadap barang-barang China. "Kemudian dia kembali mendesak Xi untuk membeli sebanyak mungkin produk pertanian Amerika."

2. Trump Tak masalah dengan kamp konsentrasi Uighur milik China

Tahanan di kamp pendidikan politik di Lop County, Prefektur Hotan, Xinjiang.
Foto: Dok. media.hrw.org

Trump juga dianggap bermuka dua soal kamp penahanan Muslim Uighur di China. Di saat pemerintahnya menentang keras kamp tersebut, Trump malah menyatakan mendukungnya. Hal ini juga disampaikan Trump pada Xi di Jepang.

"Menurut penerjemah kami, Trump mengatakan bahwa Xi harus terus membangun kamp-kamp, yang menurut Trump adalah hal benar yang harus dilakukan," tulis Bolton.

Trump pekan ini telah menyetujui sanksi untuk China atas kamp tersebut. Namun menurut Bolton di bukunya, Trump sebenarnya tak ingin menjatuhkan sanksi itu karena negosiasi dagang masih berlangsung.

"Represi agama di China tak masuk agenda Trump, entah itu Gereja Katolik atau Falun Gong," tulis Bolton.

3. Trump Diejek Menlu Mike Pompeo di belakangnya

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri) dan Sekretaris Negara Amerika Serikat Mike Pompeo saat konferensi pers setelah pertemuannya dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, di Hotel JW Marriott di Hanoi, Vietnam, Kamis, (28/2). Foto: REUTERS/Jorge Silva

Menteri Luar Negeri Mike Pompeo dianggap pejabat kabinet Trump yang paling loyal di saat petinggi lainnya banyak yang mundur atau dipecat. Termasuk Bolton yang dipecat tahun lalu karena sering cekcok dengan Trump.

Namun siapa kira Pompeo berbicara buruk soal Trump di belakangnya. Dalam bukunya, Bolton mengatakan menulis memo terhadap dirinya dalam pertemua antara Presiden Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un.

Bunyi memonya: "Dia sangat full of shit". Jika diartikan, istilah full of shit adalah idiom slang yang bisa bermakna "penuh omong kosong" atau tukang ngibul.

"Saya setuju," tulis Bolton membalas memo Pompeo. Belum ada komentar dari Kementerian Luar Negeri AS terkait pernyataan ini.

4. Trump tak suka sanksi AS ke Rusia

Trump kerap dituding dibantu Rusia dalam memenangi pemilu 2016 lalu. Dalam buku Bolton, Trump disebutkan tak suka dengan sanksi AS terhadap Rusia atas pembunuhan bekas mata-mata Sergei Skripal dengan putrinya dengan racun di Inggris.

"Trump mengatakan kepada Pompeo untuk menelepon (Menlu Rusia Sergey) Lavrov dan mengatakan ada 'beberapa birokrat' yang membuat sanksi itu  telepon yang tak pernah dilakukan," tulis Bolton.

5. Trump bertanya: Apakah Finlandia bagian dari Rusia?

Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Foto: Reuters/Jonathan Ernst

Pengetahuan geografis Donald Trump dipertanyakan dalam pertemuan dirinya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Sebelum pertemuan pada 2018 itu, tulis Bolton, Trump bertanya kepada penasihat apakah Finlandia bagian dari Rusia.

Bukan, Mr. Trump, Finlandia adalah negara sendiri di Eropa. Memang, Finlandia pernah jadi bagian dari kekaisaran Rusia tapi telah berpisah sejak 1917. Tidak hanya itu, Trump juga tak tahu bahwa Inggris adalah salah satu negara pemilik senjata nuklir.

"Oh, kau punya senjata nuklir?" kata Bolton menirukan pertanyaan Trump kepada PM Inggris ketika itu Theresa May dalam pertemuan di London.

6. Trump ingin menginvasi Venezuela

Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Foto: REUTERS/Manaure Quintero

Bolton mengatakan Trump sangat gatal ingin menginvasi Venezuela. Trump berkali-kali menyampaikan ingin mengambil opsi militer untuk menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Keinginannya ini mengejutkan para pejabat dan para petinggi militernya.

Bolton mengatakan bahwa Trump berpikir akan sangat "keren" jika AS menginvasi Venezuela. Namun para pejabatnya menentang keinginannya tersebut.

"Trump masih menginginkan opsi militer, memicu pertanyaan para Republikan Florida yang jelas-jelas terkejut, kecuali (Senator Marco) Rubio yang pernah mendengarnya dan tahu bagaimana membantahnya dengan sopan," tulis Bolton dalam bukunya.

7. Trump ingin Jaksa Agung Bill Barr memenjarakan wartawan CNN

Presiden Donald Trump (kiri) didampingi John Bolton, penasihat keamanan nasional.
Foto: Andrew Harrer / Pool / ABACAPRESS.COM

Trump melakukan rapat rahasia dengan para petingginya di Bedminster Resort, New Jersey, Agustus tahun lalu. Dalam rapat itu, mereka membicarakan soal rencana penarikan pasukan dari Afghanistan dan rekonsiliasi dengan Taliban.

Laporan itu muncul di CNN berdasarkan sumber dalam Gedung Putih. Trump marah para kebocoran informasi tersebut.

Menurut Bolton, ketika itu Trump memerintahkan staf Gedung Putih Pat Cipollone menelepon Jaksa Agung Bill Barr untuk "menangkap reporter (CNN), memenjarakan mereka, dan meminta mereka mengungkapkan siapa sumber mereka". Hal ini tentu pelanggaran Konstitusi AS yang mencakup soal kebebasan pers.

Sumber: kumparan.com

Editor: tom.
Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!